Prabowo bertemu Jokowi. (MI/Panca Syurkani)

Berkabar.ID – Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Romi) mengungkapkan, utusan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto pernah menemui Joko Widodo atau Jokowi pada Selasa 27 Maret lalu. Romi menyebut, utusan Prabowo itu menanyakan kemungkinan Prabowo menjadi calon wakil presiden Jokowi.

Namun saat dirinya menanyakan hal itu kebada Jokowi, Romi menyebut, Presiden ke-7 Ri itu tidak bisa memberikan jawaban dan harus meminta persetujuan pimpinan partai-partai pendukungnya.

“Jadi saya hanya bisa mengatakan beri waktu. Ternyata Pak Prabowo menginginkan jawabannya segera. Sehingga memang waktu itu sampai hari ini belum ada,” kata Romi saat Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama PPP di Hotel Patrajasa, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (13/4).

Sebelum pertemuan terakhir pada 27 Maret  2018 kemarin, Prabowo rupanya pernah dua kali bertemu Jokowi pada November 2017 lalu. Dalam pertemuan itu, Romi menyebut Prabowo juga sempat meminta untuk bersanding dengan Jokowi sebagai cawapresnya.

“Pada saat itu Pak Prabowo menyampaikan dalam pertemuan terakhir di bulan November itu, ‘saya merasa sangat terhormat di akhir perjuangan saya bisa dipinang sebagai wakil presiden’,” ungkap Romi tentang permintaan itu.

Romi sendiri mengaku tidak tahu siapa yang menginisasi gagasan tersebut, apakah Jokowi atau Prabowo. Namun menurut Romu, pertemuan-pertemuan tersebut digagas oleh Jokowi.

Romi mengatakan, Jokowi sempat menanyakan kepadanya soal rencana menggandeng Prabowo sebagai Cawapres di Pilpres 2019. Romi saat itu langsung menyetujui  rencana tersebut. Meskipun, semua pimpinan partai pendukung Jokowi tak setuju dengan adanya rencana tersebut.

“Saya langsung bilang setuju,” tegas Romi.

Romi menjelaskan, alasan di balik dirinya setuju soal rencana duet Jokowi-Prabowo di Pilpres 2019 karena yang pertama, akan terjadinya aklamasi nasional. Kedua, demi menjaga keutuhan bangsa.

Sebab, ia berkaca pada pertarungan antara Jokowi-Prabowo di Pilpres 2014 lalu, di mana saat itu rakyat Indonesa terbelah menjadi dua kubu yang saling berkelahi dan mencaci maki. Kondisi tersebut bahkan terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama.

Kemudian, alasan yang terakhir ialah memberikan pendidikan bahwa seorang pemimpin itu tidak harus saling menjadtuhkan tetapi juga bisa saling membutuhkan.

“Karena semua survei kalau Jokowi-Prabowo bersatu maka di atas 70 persen,” tuturnya.

Alasan Jokowi Minat Ajak Prabowo Jadi Cawapres

Pertemuan Prabowo-Jokowi (Tahta Aidila/Republika)

Lebih lanjut, Romi mengungkapkan alasan Jokowi ingin menggandeng Prabowo sebagai cawapres karena semata-mata ingin menjaga keutuhan NKRI. Romi menyebut, Jokowi berkaca dari pengalaman Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2017 lalu yang dipenuhi bumbu-bumbu intoleran berujung konflik.

“Demi NKRI. Beliau menyampaikan bayangkan gaduhnya republik ini. DKI Jakarta saja yang 1 provinsi luar biasa gaung perbedaannya. Kemudian intoleransi meningkat dengan simpul-simpul agama,” kata Romi saat Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama PPP di Hotel Patrajasa, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (13/4).

Terlebih pada 2019 nanti, dalam ajang Pemilu Serentak 2019 akan diikuti sekitar 32 ribu alon legislatif dan mengampanyekan Jokowi atau Prabowo, maka bukan tidak mungkin potensi perpecahan akan lebih besar.

“Akan ada 320.000 caleg yang masing-masing mengkampanyekan hanya 2 kutub, Jokowi atau Prabowo. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya. Dan itu tak terjadi pada Pilpres 2014 karena pileg duluan,” tegasnya.