Berempat.com

Lokasi, lokasi, lokasi dan lokasi, begitu salah satu kunci sukses pengembang yang dikenal sebagai spesialis properti komersial Citinine. Tak heran, disaat bisnis properti yang belum kembali bergairah Citinine mampu menunjukkan tajinya.

“Kami selalu membangun properti komersial di kawasan yang ramai dan strategis. Tanpa pemasaran pun konsumen akan datang sendiri. Banyak pengalaman properti komersial yang kami bangun habis terjual sebelum dibangun,” ujar Komisaris Citinine, Oei Soesanto di kantornya Surabaya, Jumat (16/11).

Kunci suskes berikutnya adalah membidik pasar ceruk (niche market) yang tidak banyak digarap pengembang properti lainnya.

“Kalau pengembang lain membangun komersial setelah hunian, bagi kami komersial lebih utama, hunian sebagai pelengkapnya,” jelas Soesanto.

Berkat kedua strategi tersebut, dalam waktu 7 tahun, Citinine telah memiliki 40 portofolio pengembangan properti baik ruko, gedung perkantoran, pergudangan, residensial, apartemen, hotel, pusat perbelanjaan, hingga kawasan superblok yang tersebar di Surabaya, Gresik, Malang, dan Sidoarjo.

Menyambut tahun 2019, Soesanto telah menyiapkan delapan proyek yang rencananya akan dikerjakan tahun depan. Mulai dari Citinine Emporium World, The Harbour Nine, Rukos dan lima proyek lainnya.

“Tiga dari 8 proyek itu akan dimulai pasca pilpres dengan estimasi investasi Rp 1 triliun,” kata Soesanto.

Citinine Emporium World terdiri dari tiga menara apartemen sebanyak 1.400 unit yang dibangun diatas pusat komersial yang ditawarkan seharga Rp 300 jutaan hingga Rp 1 miliar.

Berikutnya The Harbour Nine yakni kawasan semi pergudangan yang merangkum 114 unit dengan ketinggian ceiling 5 meter sehingga memudahkan bongkar muat barang. Gudang tiga lantai berukuran 4,5×13 meter ini dijual mulai dari Rp Rp 4 miliar.

Director Citinine, Stefanus Budihardja mengatakan meski belum dipasarkan, 30 persen unit pergudangan itu telah terjual. Selain berfungsi sebagai gudang dan produksi industri ringan, juga bisa digunakan sebagai kantor di lantai 2 dan 3.

“Lokasi The Harbour Nine yang hanya berjarak 3 kilometer dari Pelabuhan Tanjung Perak jadi salah satu penentu banyak pebisnis ekspedisi, logistik, dan industri ringan memesan unit di kawasan semi pergudangan kami,” tambah Stefanus.

The Harbour Nine

Proyek terbaru lainnya adalah Rukos alias rumah yang dirancang berkonsep kos-kosan. Rumah 2 lantai berukuran 7×9 meter ini memiliki 2 kamar di lantai dasar dan 4 unit kamar diatasnya. Rukos ini juga dilengkapi lahan parkir yang bisa muat 2 mobil dan 5 motor.

“Kita akan bangun 30 unit Rukos diatas lahan seluas 2000m2,” papar Stefanus.

Lokasinya berada di dalam kawasan Airport Village Jl Bypass Juanda sehingga cocok bagi para profesional di industri penerbangan, maupun karyawan sekitar bandara.

Airport Village sendiri tinggal tersisa beberapa unit saja yang ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 1,6 miliar. Padahal harga perdana hunian eksklusif ini dijual dengan harga Rp 700 juta.

Signifikannya kenaikkan harga hunian di Airport Village, memberi gambaran jika Rukos ini sangat menjanjikan. Pembeli bisa menjadi juragan kos 6 pintu dengan kisaran harga Rp 1,5 juta hingga 2,5 juta per unit kos-kosan.

Dengan asumsi harga unit kos Rp 1,5 juta saja, maka dengan investasi Rp 1 miliar bisa kembali kurang dari 1 tahun.

Berempat.com