Berempat.com

Berkabar.ID – Zaman sekarang kalau gawai lepas sebentar saja dari tangan, kita cenderung merasa gelisah. Hal ini juga dialami oleh remaja, anak-anak, bahkan balita. Sebagai orang dewasa, tentu kita khawatir hal tersebut dapat mengganggu tumbuh kembang anak.

Memperkenalkan teknologi di usia dini merupakan hal yang baik. Namun anak-anak harus tetap diawasi dan dibatasi. Jangan sampai mereka kecanduan dan terus-terusan bermain dengan gawai. Prilaku seperti ini, ketergantungan pada gawai bisa menyebabkan perilaku seperti orang gila, mudah marah, bahkan tidak bisa fokus dengan sekelilingnya.

Namun sayangnya sebagian besar orangtua modern yang sekarang doyan main smartphone lebih memilih memberikan keleluasaan anaknya memegang smartphone, supaya mereka tidak direpotkan dengan mengurus anak yang rewel dan tidak bisa diam. Mereka langsung menyodorkan smartphone kepada anak-anak, entah itu membiarkan mereka menikmati film kartun atau mendendengarkan lagu, yang penting si anak diam. Akhirnya anak pun tak bisa lepas dari smartphone.

Perilaku tidak bisa lepas dari gawai ini makin mengkhawatirkan melanda anak muda. Bahkan bisa disebut gangguan mental jika sudah sangat kecanduan dan memperlihatkan perilaku tak wajar.

Seperti yang ditayangkan pada Liputan6 Malam SCTV, Kamis (18/1) kemarin. Baru-baru ini ada dua anak di bawah umur di Bondowoso, Jawa Timur yang mengalami kecanduan gawai. Mereka adalah A (17) dan H (15) yang berstatus pelajar dari sebuah SMP dan SMA.

“Kedua pasien itu terdiri atas satu siswa SMP dan satunya siswa SMA,” kata dokter spesialis jiwa RSUD Koesnadi dr. Dewi Prisca Sembiring, Sp.Kj. kepada Liputan6.

Kedua pasien itu bisa marah besar sampai membanting-banting benda atau menyakiti diri sendiri jika diminta melepaskan smartphone dari tangannya. Mereka tidak mau sekolah, menjadi pemurung, mengurung diri dalam kamar, dan menghabiskan hampir seluruh waktu memegang smartphone. Saat ini keduanya dirawat oleh Poli Jiwa RSUD dr Koesnadi Bondowoso, Jawa Timur.

Karena hal tersebut, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membuka layanan pengaduan anak yang kecanduan gawai.

Komisioner Bidang Pornografi dan Cybercrime KPAI Margaret Aliyatul Maimunah meminta para orang tua di Indonesia lebih mewaspadai adanya perilaku adiksi dalam penggunaan gawai. Mereka juga harus cepat melaporkan seandainya ada tanda-tanda anak yang kecanduan gawai.

“Jika diketahui kasus anak yang kecanduan gadget, silakan melapor kepada KPAI,” kata Margaret Jumat (19/1).

“Kami yakin di luar sana banyak orang tua yang anaknya mengalami kecanduan gawai dan mungkin tidak menyadari perubahannya, bahkan tidak menyadari bahwa ini merupakan gangguan jiwa,” kata Margaret menambahkan.

Di samping itu, KPAI juga meminta pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk melakukan sosialisasi tentang literasi digital secara menyeluruh bagi masyarakat dan orangtua di seluruh pelosok Indonesia.

“KPAI mengapresiasi RSUD dr Koesnadi Bondowoso, Jawa Timur, yang sudah melakukan penanganan cepat terhadap dua anak yang sudah terlanjur kecanduan akut terhadap gadget,” ucap Margaret mengakhiri.

Berempat.com