Albothyl (albothyl.co.id)
Berempat.com

Berkabar.ID – Pada Rabu (14/2) lalu sempat viral di media sosial adanya surat hasil rapat kajian Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kepada PT Pharos Indonesia untuk tak lagi mengedarkan Albhotyl lantaran menggunakan Policresulen cairan obat luar konsentrat 36%. Pasalnya, Albhotyl selama ini ditujukan sebagai obat sariawan.

Padahal, sesuai dengan isi surat edaran tersebut, belum ada bukti maupun studi ilmiah yang mendukung bahwa penggunaan Policresulen dalam bentuk cairan obat luar konsentrat 36% bisa disetujui. Apalagi adanya laporan dari konsumen bahwa penggunaan Policresulen konsentrat 36% telah menyebabkan chemical burn pada mucosa oral.

Sebab itu Policresulen cairan obat luar konsentrat 36% tak lagi direkomendasikan penggunaannya untuk indikasi pada beda, dermatologi, otolaringologi, stomatologi, dan odontologi.

“Untuk sementara jangan gunakan dahulu,” ujar Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito di Jakarta, Kamis (15/2).

Bahaya Kandungan Albhotyl

Sariawan –
(denrifky.blogspot.co.id)

Diketahui, dalam 2 tahun terakhir BPOM telah menerima 38 laporan dari dokter yang menerima pasien dengan keluhan efek samping Albhotyl untuk pengobatan sariawan. Adapun efek samping serius yang diderita konsumen ialah sariawan yang membesar dan berlubang, sehingga menyebabkan terjadinya infeksi.

Hal tersebut pun dibenarkan oleh Kepala Divisi Ilmu Penyakit Mulut RSDM Endah Ayu Tri wulandari. Ia mengaku ada banyak pasien yang menderita efek samping Policresulen mendatangi dirinya.

“Dari beberapa kasus yang saya tangani, pasien awalnya mengaku sariawan. Saya tidak tahu awalnya bagaimana. Setelah penggunaan Policresulen, datang ke saya dengan kondisi parah,” ujarnya seperti dikutip dari Tempo.

Memang, Endah mengatakan bahwa dalam beberapa kasus tertentu penggunaan Policresulen justru memperparah keadaan.

Menurut salah satu jurnal, Europe Review for Medical and Pharmacological Sciences, Policresulen merupakan suatu polymecular organic acid yang memiliki efek menghentikan pendarahan atau hemostatik, membentuk jaringan yang mati, dan merangsang pembentukan jaringan baru.

Mengutip dari Kumparan, seorang dokter gigi bernama Widya pun membeberkan apa saja risiko penggunaan Policresulen untuk luka di rongga mulut maupun sariawan. Risiko pertama antara lain efek penyempitan pembuluh darah tepi pada sariawan. Hal itulah yang membuat suplai darah pada daerah sariawan terhenti sehingga menyebabkan jaringan sariawan menjadi mati.

“Hal ini menjelaskan mengapa rasa perih pada sariawan sesaat hilang setelah diberikan Policresulen, karena jaringan sariawan menjadi mati sehingga tidak merasakan apa-apa lagi,” ujar Widya.

Widya menyebutkan risiko lainnya, yaitu pengelupasan kulit. Efek ini bisa terjadi pada pengguna yang menggunakan Policresulen dengan cara dikumur. Apabila jaringan sudah mati dan kulit telah mengelupas, maka yang terjadi selanjutnya adalah pembentukan jaringan baru dan sehat.

Saat jaringan baru itu terbentuklah seolah-olah sariawan menjadi sembuh. Namun risiko lainnya yang bisa ditimbulkan adalah sariawan bertambah besar dan sakit.

“Hal itu bisa disebabkan oleh sariawan yang terlalu besar. Policresulen diberikan secara terus-menerus, tubuh yang tidak mampu untuk membentuk jaringan baru yang sehat, atau sariawan yang diderita bukan sariawan biasa, meliankan luka lainnya seperti infeksi jamur atau bankan kanker mulut,” terangnya.

Widya pun sempat mengungkapkan adanya kasus pasien yang ditanganinya sampai meninggal lantaran awalnya hanya sariawan yang diberikan Policresulen cairan obat luar konsentrat 36%.

Sementara untuk mengatasi sariawan sendiri, BPOM menganjurkan penggunaan kandungan benzydamine HCI, povidoneiodine 1%. Atau kombinasi dequalinium chloride dan vitamin C. Dan bila sakit masih berlanjut maka lebih baik segeralah memeriskanya ke dokter.

Berempat.com