Ilustrasi semprot parfum. (IDNTimes)
Berempat.com

Berakabar.ID – Polusi udara sudah menjadi ancaman serius bagi manusia. Sebab polusi udara kian hari kian menjadi-jadi seiring dengan semakin meningkatnya jumlah pabrik, kendaraan, dan berkurangnya hutan. Namun, kebanyakan dari kita selama ini hanya tahu bila polusi udara disebabkan oleh pabrik maupun kendaraan. Padahal, hal kecil seperti parfum dan bahan kimia sejenis lainnya juga menjadi penyebabnya.

Hal ini bukan tanpa fakta. Berdasarkan temuan dalam jurnal Science, yang dipublikasikan pada Jumat (16/2) menyebut bahwa senyawa organik volatile atau Volatile Organic Compounds (VOC) yang mengandung bau terbukti dapat menyumbang dua sampai tiga kali polusi udara dibanding perkiraan sebelumnya.

Dampak polusi yang disebabkan parfum maupun bahan kimia sejenisnya ini diklaim sama buruknya seperti polusi udara akibat asap kendaraan bermotor.

Sebab itu, dalam jurnal tersebut disebutkan juga benda selain parfum dan deodoran, melainkan termasuk juga produk pembersih, sampo, cat, pestisida, juga produk yang menghasilkan uap dan bau lainnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Cooperative Institute for Research in Enviromental Sciences (CIRES) yang merupakan program kemitraan antara National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan The University of Colorada, Boulder, ini menemukan bahwa orang menggunakan lebih banyak produk kimia yang sudah disebutkan di atas dibanding minyak bumi seperti bensin yang mengakibatkan polusi udara.

Parfum 2x Lebih Besar Mengakibatkan Polusi

Menurut Brian McDonald sebagai penulis utama dalam penelitian tersebut, produk kimia berhubungan pada kesehatan paru-paru manusia. Pasalnya, emisi pembentuk dalam partikel produk kimia diklaim memiliki kandungan dua kali lebih banyak dari senyawa yang digunakan kendaraan bermotor.

“Saat kendaraan bermotor diproduksi ramah lingkungan, sebenarnya ada sumber pencemaran udara lain yang patut diperhatikan. Produk yang kita gunakan setiap hari dapat memengaruhi polusi udara,” kata Brian seperti dilansir dari Science Daily, Kamis (15/2).

Brian menerangkan, senyawa ini dapat masuk ke atmosfer dan bereaksi. Selain itu, sebetulnya sudah banyak negara yang telah mengamati hal ini dan menghubungkannya dengan penyakit paru-paru.

Sebelum mendapat kesimpulan ini, Brian beserta tim mengamati sumber pencemaran udara dengan melakukan pengukuran kimia atmosfer udara di Los Angeles secara rinci, juga mengevaluasi pengukuran kualitas udara dalam ruangan yang dibuat pihak lain. Dan hasilnya pun mengejutkan, mereka menyimpulkan jumlah VOC dari konsumen dan produk industri menyumbang dua sampai tiga kali polusi udara yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Ini hampir sama dengan polusi udara yang diakibatkan kendaraan bermotor.

Sumbangsih Polusi Kendaraan dengan Produk Kimia 50:50

Ilustrasi asap knalpot. (hellosehat)

Sebelumnya, Enviromental Protection Agency, A.S., memprediksi polusi udara di bumi disebabkan oleh 75% emisi VOC dari kendaraan bermotor dan sisanya berasal dari produk kimia. Namun, setelah dilakukan pengamatan secara statistik, temuan terbaru ini menunjukkan perbandingan 50:50 antara polusi udara akibat kendaraan bermotor dan produk kimia.

Seorang ilmuwan atmosfer NOAA Jessica Gilman mengatakan, perbandingan itu masuk akal jika kita mengingat bagaimana produk kimia dan senyawa dari minyak bumi digunakan. Menurutnya, bensin disimpan dalam wadah tertutup yang kedap udara dan VOC pada bensin perlu dibakar untuk mengubah menjadi energi. Tapi, produk kimia yang digunakan dalam produk sehari-hari secara harfiah telah dirancang untuk menguap.

“Anda menggunakan parfum atau sampo agar teman Anda dapat menghirup aromanya. Hal ini tidak terjadi pada bensin,” jelasnya.

Sebab itu, dengan diterbitkannya hasil penelitian baru ini para ahli berharap muncul kesadaran agar lebih bijak menggunakan produk kimia karena berimplikasi pada kualitas udara.

Berempat.com