Berempat.com

Kanker prostat merupakan kanker dengan jumlah angka kejadian terbanyak ke-4 di seluruh dunia, dan menempati urutan ke-2 kanker yang diderita pria setelah kanker paru. Diperkirakan sebanyak 1,2 juta kasus baru ditemukan di seluruh dunia dengan 359.000 kematian akibat kanker prostat berdasarkan Global Cancer Statistics 2018.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, jumlah penderita diperkirakan mencapai 250.112 orang. Sebagian besar pasien didiagnosis pada stadium lanjut. Gejala kanker prostat tidak khas dan dapat menyerupai keluhan penyakit lain sehingga seringkali baru terdeteksi pada stadium lanjut.

Pasien datang dalam stadium lanjut karena kurangnya pengetahuan tentang penyakit kanker prostat dan kesadaran akan pentingnya deteksi dini, terutama pada populasi yang berisiko tinggi. Kondisi ini sangat disayangkan karena jika kanker prostat dideteksi pada stadium awal, tingkat keberhasilan pengobatan akan lebih tinggi.

Risiko terhadap kanker prostat meningkat pada pria di atas 50 tahun, atau pada pria di atas 45 tahun dengan riwayat kanker prostat di keluarga. Sebagian besar pasien dengan kanker prostat stadium awal tidak menyadari adanya gejala. Gejala baru dirasakan pasien saat kanker sudah menyebar ke organ lainnya.

“Kanker prostat bukan cuma pada mereka yang berusia lanjut karena saya pernah menemukan pasien berusia 42 tahun. Biasanya kankernya lebih agresif dibandingkan dengan pada mereka yang berusia di atas 60-an,” kata dr. Chaidir Arif Mochtar, Sp.U(K), PhD, Staf Medik Departemen Urologi RSCM-FKUI, saat peluncuran Pusat Layanan Prostat Terpadu: Sistem Satu Pintu dengan Teknologi Robotik Pertama di Indonesia di RS Cipto Mangunkusumo, kepada media di Jakarta, Senin (5/8/2019).

Karena itu, sangat penting untuk deteksi dini, terutama bila ada riwayat keluarga dengan kanker prostat. Dirinya menambahkan, waspada bila timbul gejala meliputi gangguan berkemih, ada darah pada urine, atau pembesaran kelenjar getah bening sekitar prostat, dan berat badan menurun. Kunjungi dokter untuk menjalani teknik colok dubur karena letak prostrat yang tersembunyi.

Lakukan deteksi dini karena jika kanker sudah menyebar ke tulang dapat menyebabkan nyeri tulang. Bila sudah menyebar ke sumsum tulang belakang, akan ditemukan adanya defisit neurologi seperti rasa baal atau lemas pada kaki. Kondisi demikian menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Untuk mencegah kanker prostat, sangat penting melakukan deteksi dini, terutama bila ada riwayat keluarga dengan kanker prostat. Waspada bila timbul gejala meliputi gangguan berkemih, ada darah pada urine, atau pembesaran kelenjar getah bening sekitar prostat, dan berat badan menurun.

Jika kanker sudah menyebar ke tulang dapat menyebabkan nyeri tulang. Bila sudah menyebar ke sumsum tulang belakang, akan ditemukan adanya defisit neurologi seperti rasa baal atau lemas pada kaki. Kondisi demikian menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Lalu, bagaimana cara mendeteksi kanker prostat?

“Tidak bisa tidak, karena letaknya tersembunyi, dokter biasanya akan memakai teknik colok dubur untuk deteksi dini kanker prostat. Selain itu, juga lewat pemeriksaan darah dan biopsi prostat,” kata Dr. dr. Irfan Wahyudi, Sp.U(K), Kepala Departemen Urologi RSCM-FKUI, di Jakarta.

Ditekankan, selama ini beredar rumor salah bahwa biopsi jaringan justru akan memicu kanker. “Biopsi prostat merupakan prosedur untuk mengambil sampel jaringan yang mencurigakan pada kelenjar prostat. Ada beberapa metode biopsi yang biasa dilakukan di antaranya biopsi transperineal. Biopsi ini tidak melalui saluran cerna (gastro-intestinal) atau saluran kemih, melainkan melalui bagian perineal (di antara kantong kemaluan dan anus) dan memiliki risiko sepsis yang sangat kecil sehingga dianggap paling aman,” ujarnya.

Biopsi Robot Lebih Akurat

Pada prosedur biopsi prostat dengan robotik, ada beberapa keuntungan menggunakan robot untuk menangani probe. Pertama, gerakan pemindaian dapat membuat irisan gambar 2-D yang terdistribusi secara merata untuk rekonstruksi 3-D. Kedua, panduan jarum dapat secara otomatis disejajarkan pada target dan dikunci untuk biopsi. Ketiga, deformasi prostat akibat interaksi dengan probe dapat diminimalkan karena gerakan yang sama dapat digunakan untuk memindai dan menyelaraskan probe untuk biopsi.

“Biopsi prostat robotik dan lokalisasi jarum merupakan perkembangan teknologi yang memiliki potensi untuk secara positif memengaruhi diagnosis dan tata laksana kanker prostat. Semua itu memungkinkan lokalisasi target yang lebih tepat dan akurat,” tuturnya.

Pasien kanker prostat yang didiagnosis dan ditatalaksana pada stadium dini, 90 persennya memiliki angka harapan hidup hingga 10 tahun

Berempat.com