mencetak anak religius (dok bundapedia)
Berempat.com

 

Kereligiusan dapat diartikan sebagai segala sesuatu aktivitas yang berhubungan dengan kerohanian atau nilai keagamaan, tidak hanya hubungan dengan Sang Pencipta tapi juga sesama manusia. Pengetahuan nilai-nilai keagamaan sangat penting ditanamkan sebagai nilai dasar kehidupan pada anak. Salah satunya sebagai benteng bagi anak dari hal-hal yang negatif, seperti perbuatan tercela ataupun pergaulan bebas.

“Penting sekali. Nilai agama akan turut mengarahkan perilaku dan cara berpikir anak,” tutur Vera Itabiliana, Psi dari Lembaga Psikologi Terapan UI.

Senada dengan Vera, psikolog dari Klinik Harapan YHCI, Adib Setiawan, M,Psi, mengatakan, bahwa penanaman nilai agama pada anak oleh orangtua dan pendidikan yang didapat dari masyarakat ataupun sekolah dapat membentuk kepribadian anak ke arah yang positif. “Anak yang religius akan mempengaruhi kepribadiannya di kemudian hari,” kata Adib.

Dampak Positif

Menurut Adib, nilai agama yang sudah ditanamkan sejak dini akan mengakar pada kehidupan anak dan terus terbawa hingga dewasa. Tidak hanya hubungannya dengan Tuhan, tapi juga terlihat pada sikap anak kepada teman, keluarga, atau orang lain.

“Nilai agama yang didapatkan anak sejak kecil akan dibawa sampai dewasa. Tidak hanya dengan Tuhannya saja, tetapi dengan sesama. Misalnya tolong menolong, keadilan, menghormati dan bersikap jujur,” terang Adib yang juga membuka praktik di kawasan Bintaro sektor dua ini.

Vera  menambahkan, bahwa anak akan dengan sendirinya membatasi diri pada hal negatif.

“Selain dampak abstrak, seperti pahala dan ketenangan batin, anak yang religius memiliki tameng dari hal-hal negatif yang dilarang agama. Anak yang religius dapat menjadi contoh bagi saudara atau teman-temannya sehingga ia menjadi percaya diri. Anak juga menjadi punya lingkungan pergaulan yang positif,” tambahnya.

Menurut Vera dan Adib ada beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua dalam mendidik anak agar lebih religius, antara lain:

Orang tua Sebagai Role Model. Dalam kehidupan seorang anak, peran orangtua sebagai role model sangatlah penting karena orangtua merupakan orang dewasa yang terdekat dengan anak secara emosional. Oleh sebab itu orangtua secara konsisten harus dapat menjadi contoh terbaik pada anak. Jika orangtua ingin mengajarkan sembahyang pada anak, tentu orangtua juga harus rajin sembahyang.

Pemahaman Toleransi. Indonesia menganut lebih dari satu agama. Oleh karena itu berikan pemahaman pada anak untuk menghargai teman yang berbeda agama. Misalnya mengajarkan anak untuk memberikan selamat saat temannya merayakan hari besar agamanya. Karena, tingkat kereligiusan seseorang salah satunya dapat diukur dengan saling menghargai atau menghormati keyakinan dan kepercayaan yang berbeda dengannya.

Hal itu juga berguna agar nantinya tidak menjerumuskan anak pada religius yang sifatnya fanatik yang berarti memandang agama secara sempit, atau menganggap agamanya yang paling benar.

Agar anak lebih mengenal agamanya, perbanyaklah cerita tentang kisah-kisah agama pada anak. Karena anak lebih senang mendengar cerita dibandingkan ceramah atau dikte orangtua, apalagi yang ujung-ujungnya bersifat pemaksaan pada anak. Orangtua misalnya dapat menceritakan kisah teladan Nabi Muhammad sebagai Nabi penyempurna pada agama Islam atau perjuangan Tuhan Yesus yang mengorbankan nyawaNya untuk menyelamatkan manusia pada agama Kristian. Jangan lupa ceritakan dengan mimik muka dan intonasi yang dinamis.

Jadikan Kebiasaan. Anak juga sebaiknya mulai dibiasakan dengan kegiatan keagamaan seperti misalnya rajin untuk ke tempat ibadah, mengikuti les mengaji atau TPA (Taman Pendidikan Alquran-red) bagi yang beragama Islam atau mengikuti sekolah minggu bagi yang beragama Kristian. Anak juga diajarkan untuk berperilaku baik dan penuh kasih pada sesamanya. Misalnya dengan mengajarkan anak bersedekah kepada yang orang yang membutuhkan.

Penghargaan dan Konsekuensi. Berikan reward atau penghargaan pada anak yang sudah mengamalkan ajaran agamanya misalnya ibadahnya rajin atau bagi anak yang mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan pada sesama seperti menolong temannya yang jatuh dari sepeda. Penghargaan dapat memotivasi anak untuk lebih religius lagi, selain itu ajarkan anak untuk menerima konsekuensi bila anak melakukan kesalahan.

Misalnya anak mengambil mobil-mobilan temannya, anak harus mengembalikannya dan meminta maaf. Konsekuensi bukan berarti hukuman fisik seperti menjewer, mencubit atau menyentil. Hal-hal tersebut malah akan menimbulkan trauma atau ketakutan pada anak, sehingga anak mau atau beribadah berbuat baik karena takut bukan karena kesadaran diri.

Hindari Pemaksaan

Orangtua harus melakukan pendekatan pada anak tanpa harus melakukan pemaksaan. Emosi pada anak belum stabil seperti orang dewasa. Biarkan seperti air mengalir dan jadikan penerapan nilai agama sebagai bagian kehidupan sehari-hari.

Berempat.com