Berempat.com

Salah satu alasan bahwa anak sering pilek adalah bahwa sistem kekebalan tubuh bayi anak belum matang, membuat si kecil lebih rentan terhadap penyakit. Selain itu, lebih dari 200 virus yang berbeda menyebabkan pilek pada anak.

Saat anak tumbuh, dia mungkin akan menjelajahi, menjilati dan memasukkan sesuatu benda ke dalam mulut, sehingga mudah baginya terkena virus flu. Kemudian bayi juga meletakkan jari di mulut atau hidung atau menggosok matanya, dan virus akan mendapatkan kesempatan untuk masuk kedalam tubuh si kecil.

Penyebab.

Perubahan udara dan temperatur sedikit banyak ternyata berpengaruh pada tubuh kita. Untuk menyesuaikan dengan perubahan cuaca, tubuh kita otomatis akan berusaha untuk menyesuaikan dengan suhu sekitar. Saat itu pula imunitas (daya tahan tubuh terhadap penyebab penyakit) kita mulai menurun, sehingga sering menyebabkan orang terserang penyakit di saat terjadi perubahan cuaca.

Selain itu, temperatur dan cuaca yang berubah-ubah adalah salah satu kondisi yang memacu virus dan bakteri untuk lebih cepat berkembang biak. Jadi, tidak heran bila banyak orang terserang penyakit di musim perubahan cuaca dibanding di musim yang suhunya relatif stabil.

Menurut Dr. Rianita Syamsu, SpA, dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Bunda Margonda mengatakan penyebab paling sering terjadinya flu dan batuk pada anak adalah alergi. “Kalau terjadi pada usia balita atau usia 5 tahun ke bawah, penyebab paling sering biasanya adalah alergi. Karena kalau TBC, biasanya terjadi pada anak usia 10 tahun ke atas.

Alergi kalau di saluran napas, dan yang paling utama adalah alergi debu. Selanjutnya penyebabnya itu bisa karena asap rokok, karena asap rokok bisa mempengaruhi saluran napas sampai dengan jarak 44 meter dari anak. Kalau anak yang punya bakat alergi, lalu ketemu asap rokok jarak 44 meter, produksi reak atau lendir karena radangnya hingga 2 minggu.

Kalau usia diatas 1 tahun bisa juga karena junk food, dan juga kalau di bawah usia 1 tahun penyebab lainnya bisa karena alergi susu sapi atau makanan yang mengandung susu sapi,” tutur Dr. Rianita.

Ditambahkan oleh Dr. Adi Tagor, SpA, dokter spesialis anak dari Mayapada Hospital menerangkan bahwa penyebab flu dan batuk pada anak ada dua faktor yaitu yang organik dan yang tidak organik.

“Yang tidak organik misalnya debu, asap kendaraan. Lalu bisa karena virus, bakteri, dan jamur. Kenapa flu dan batuk lebih menyerang anak-anak, karena sistem pertahanannya belum tumbuh, kekebalannya masih lemah. Yang menjadikan batuk sangat mengancam, salah satunya adalah kepadatan penduduk. Flu dan batuk pada anak, jangan dianggap enteng, apalagi batuk kronik berulang, hal tersebut pasti ada penyebab lainnya. Itu bisa alergi, bisa infeksi kronis, bisa TBC,” kata Dr. Adi.

Dampak Negatif.

Batuk akut lebih ringan dibandingkan dengan batuk kronis, dan biasanya disebabkan oleh flu, radang tenggorokan, atau bayi tersedak. Jenis batuk ini berlangsung tidak lebih dari 14 hari. Meski terjadi tidak lama, namun tetap harus diwaspadai karena batuk pada bayi bisa menjadi indikasi penyakit seperti Pneumonia (radang paru-paru).

Flu dan batuk pada anak juga jangan dianggap enteng, karena bisa membuat anak tidak nyaman dengan keadaan yang ia rasakan tersebut. Dikatakan oleh Dr. Adi, flu dan batuk pada anak bisa menyebabkan rusaknya jaringan paru.

“Kerusakan jaringan paru, kapasitas paru berkurang. Lalu bisa menyebabkan gagal tumbuh pada anak, gagal tumbuh bukan berarti hanya tinggi dan berat badan, tapi semuanya juga gagal. Bisa juga dampak negatifnya adalah Pneumonia,” jujur Dr. Adi.

Jenis batuk pada bayi dibedakan menjadi batuk akut dan batuk kronis. Batuk kronis mempunyai tanda apabila batuk pada bayi telah terjadi selama 14 hari atau lebih dan batuk terjadi selama tiga kali dalam 3 bulan secara berturut-turut. Kondisi tersebut bisa menjadi indikasi gejala penyakit asma, TBC, atau bentuk rejan (batuk 100 hari).

Ditambahkan oleh Dr. Rianita, dampak negatif lain yang ditimbulkan oleh flu dan batuk adalah bila alerginya di saluran napas, resiko radang telinga, bisa menjadi sinusitis, hingga penyakit asma.

“Kalau alergi terapi utamanya adalah disiplin pantang, makin disiplin dipantang kekerapan kambuhnya makin jarang, jadi tidak mengganggu kualitas hidupnya. Makin tidak disiplin dipantang, kekerapan kambuhnya makin sering. Kalau alerginya di saluran napas, resiko radang telinga, dan bisa menjadi sinusitis, tetapi kalau sinusitis biasanya muncul pada anak usia diatas 3 tahun. Bisa juga terjadi penyakit asma,’ ungkap Dr. Rianita.

Cara Mengatasi

Mengatasi batuk pada anak tidak boleh dilakukan sembarangan. Meskipun kelihatannya sepele, perlu diingat bahwa daya tahan tubuh bayi masih sangat lemah. Cara pengobatannya tidak boleh disamakan dengan orang dewasa, tidak dianjurkan untuk coba-coba menggunakan obat orang dewasa meskipun dalam dosis kecil.

Menurut Dr. Rianita, cara mengatasi flu dan batuk pada anak sebenarnya mudah. Dengan banyak minum air putih dan menghindari junk food.

“Flu dan batuk kalau ditambahkan adanya demam, itu karena infeksi. Karena balita itu kena infeksi saluran napas biasanya 6-8 kali setahun, jadi hampir 2 bulan sekali. Tapi kalau tanpa demam, berarti bukan infeksi dan biasanya itu karena alergi. Kalau karena flu dan batuk karena virus, itu juga bisa berulang-ulang atau flu dan batuk disertai dengan demam.

Karena kalau ada virus di saluran napas, setelah demam 2-3 hari. Hilang sendiri demamnya tetapi daya tahan tubuh drop sampai 2 minggu. Jadi kalau ada yang sakit di sekitarnya, bisa tertular kembali. Jadi kalau untuk tipsnya rajin minum air putih, dan hindari junk food,” kata Dr. Rianita.

Ditambahkan oleh Dr. Rianita, selain memperbanyak minum air putih dan menghindari junk food, Homeoparti Therapy juga bisa sebagai cara mengatasi flu dan batuk pada anak.

“Kalau untuk pertolongan utama untuk flu dan batuk pada anak adalah rajin minum air putih sebanyak mungkin, kecuali di bawah usia 6 bulan. Yang lebih bagus lagi itu air putih hangat. Bisa juga Homeoparti Therapy. Homeoparti Therapy itu adalah air panas yang baru mendidih, diletakkan di baskom kecil. Lalu berikan garam ¼ sampai ½ sendok teh, dan diberikan juga minyak kayu putih 1 hingga 2 tetes. Lalu hirup uapnya sampai habis, hal itu bisa membantu melembabkan saluran napas dan membuat gerakan supaya lender-lendir keluar. Dalam waktu 3 hari belum ada perubahan, diperbolehkan untuk minum obat dan berobat ke dokter,” terang Dr. Rianita.

Lain hal dengan Dr. Rianita, Dr. Adi mengungkapkan bahwa menjaga kebersihan adalah faktor utama mengatasi flu dan batuk pada anak. “Menjaga kebersihan adalah faktor utama cara memgatasi flu dan batuk pada anak,” kata Dr. Adi.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar anak tidak terkena flu dan batuk, yaitu:

  1. Banyak istirahat.
  2. Berikan minum lebih banyak untuk mengencerkan lendir di tenggorokannya. Usahakan memberikan minuman yang hangat-hangat.
  3. Berikan obat yang sesuai dengan gejala yang ada, serta usia anak.
  4. Berikan obat batuk yang bersifat mengencerkan dahak

Segera hubungi dokter jika dalam waktu 2 hari setelah mengkonsumsi obat, tidak ada perubahan.

Berempat.com