Bisnis fried chicken menjanjikan, tapi bagaimana memulainya? (divascancook)

Berkabar.ID – KFC, McDonald’s, Texas, dan A&W merupakan tiga dari merek besar luar negeri yang gerainya banyak tersebar di Indonesia. Keempat merek franchise itu memang berbeda konsep, tapi memiliki satu kesamaan; menawarkan menu ayam goreng atau fried chicken sebagai menu utama dan andalan kepada konsumen.

Keempat merek tersebut saat ini memiliki banyak gerai di Indonesia, meski beberapa di antaranya tak sesubur yang lain. Tapi, kehadiran merek-merek luar ini cukup mendorong pemain lokal untuk ikut merambah bisnis fried chicken. Untuk yang sekelas resto dan franchise besar Indonesia punya California Fried Chicken (CFC) yang berdiri di Jakarta tahun 1983, sedangkan untuk sekelas waralaba di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) banyak menjamur merek-merek lokal.

Bagi yang punya kantong tebal, mengambil franchise KFC, McDonald’s, atau CFC memang menjadi pilihan tepat, tapi bagaimana dengan yang bermodal minim? Tentu saja waralaba UMKM lokal menjadi alternatif terbaik bagi yang ingin berbisnis fried chicken. Dan jangan berpikir dulu bila waralaba UMKM ini tak sanggup bersaing dan tumbuh. Justru merek-merek waralaba ini mampu memiliki gerai yang jumlahnya di atas 500.

Crispyku Fried Chicken

Owner Crispyku Fried Chicken. Alexander Theo saat ditemui di IFBC, Jakarta, Jumat (9/3). (Berkabar.ID/R. Shandy)

Crispyku Fried Chicken merupakan salah satu merek lokal yang punya nama mentereng di bisnis fried chicken ini. Merek yang hadir sejak 2010 ini telah memiliki Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) dan memiliki sekitar 670 gerai—25 di antaranya baru buka pada Januari-Februari 2018—yang tersebar di Medan, Jawa, Bali, dan Kalimantan.

Sekalipun mampu memiliki gerai hingga 600 lebih, tapi Owner Crispyku Fried Chicken, Alexander Theo sendiri tak menampik bahwa persaingan di bisnis ini terbilang ketat. “Cuma kita tetep bertahan karena kita menjual sistem,” ungkapnya kepada Berkabar.ID saat ditemui di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (9/3).

Sistem yang dimaksud Alex adalah mitra tak perlu repot mengelola bisnisnya secara keseluruhan. Karena Alex pun akan membantu beberapa hal, seperti penyediaan bahan baku, racikan bumbu yang konsisten, pelatihan karyawan, hingga perlengkapan gerai.

Salah satu keuntungan memulai bisnis melalui konsep waralaba memang ada pada kemudahan dalam memulai dan menjalaninya. Mitra cukup mengeluarkan modal dengan jumlah tertentu, maka pemilik merek akan menyiapkan segalanya.

Namun, tentu memilih merek waralaba pun tak sembarangan. Usia merek dan jumlah gerai yang tersebar bisa menjadi acuan apakah merek tersebut bagus atau tidak untuk dipilih. Paling tidak, sebagai calon mitra Anda perlu tahu keunggulan dan berbagai support yang diberikan.

Bagi Alex sendiri, support kepada mitra merupakan yang utama. Bahkan pria berkacamata ini yakin bahwa keunggulan mereknya ada pada konsep bisnis yang dijalankannya.

“Jadi kita sistemnya dropship. Jadi mitra itu gak perlu repot mengambil bahan baku, jadi kita kirim ke tempat mitra. Pengirimannya itu juga free ongkir (ongkos kirim). Dan kita juga pake mobil pendingin, bukan pakai motor atau mobil biasa. Selain itu harga bahan baku kita juga gak terlalu mahal,” papar Alex yang mengaku sudah memiliki gudang di Green Sedayu Biz Park Cakung, Jakarta Timur.

Konsep bisnis yang mudah dan memberikan pelayanan terbaik memang selalu menjadi fokus utama Alex. Bahkan untuk menghadapi persaingan di 2018 Alex mengaku terus melakukan penyempurnaan di internal manajemen.

“Kita kuatin internal manajemen biar mitra-mitra kita bisa dilayani, terpuaskan, baru kita nanti perkembangan di produk, penambahan outlet,” tambah pria yang profilnya masuk ke dalam buku Indonesia Successful Young Entrepreneur ini.

Inovasi

Selain sistem dan pelayanan, inovasi juga menjadi faktor pendorong mengapa Crispyku Fried Chicken bisa tumbuh pesat dan dipercaya oleh ratusan mitranya. Seperti pengamatan kami, Crispyku Fried Chicken tak hanya menawarkan fried chikcen dengan rasa original pada menunya, tapi juga melakukan inovasi seperti fried chicken rasa keju, barbeque, dan Ayam Geprek Sambel Cobek.

“Kalo sambel cobek baru, kalo barbeque sudah 3-4 bulan yang lalu (ada),” ujar Alex. Menurut penuturannya, ayam rasa barbeque yang kini paling banyak dibeli konsumen.

“Nanti ada lagi (rasa) lada hitam. Lagi di-develope,” sambungnya.

Inovasi Alex bukan hanya pada menu, tapi juga pada tampilan gerai. Bila sebelumnya Alex hanya menyediakan paket waralaba dengan konsep take away, kini ia pun menyediakan paket mini resto.

“Sudah buka di Cikarang, dua ruko. Itu belum banyak, baru di Bali, Cikarang, Medan nanti,” tutur Alex.

Sebelumnya Alex memang pernah menjabarkan bahwa ia ingin membuka mini resto agar dapat terus berkembang seperti Sabana dan Hisana yang sudah lebih dulu tumbuh dan besar di bisnis waralaba fried chicken ini.

Alex pun membuka paket waralaba untuk mini restonya di angka Rp 250 juta. Dengan nilai tersebut mitranya sudah akan mendapatkan furniture lengkap, desain interior, pelatihan kartawan, neon box, peralatan masak, dan menu-menu baru.