Berempat.com

Saya sudah pernah mati satu kali

Kemarin kesibukan kerja membuat saya shalat ashar diakhir waktu. Malamnya kemacetan jakarta saya tembus dengan sabar dan penuh harapan kalau besok 22 september 2018 sd 25 liburan dan bisa roadtrip bersama keluarga

Pagi itu 22 Des, kami menyiapkan semua kelengkapan liburan dari mulai pakaian renang, mainan hingga bola kaki, semua kami ringkas dan masukkan kedalam mobil, pagi itu kami sempat bimbang apakah pergi kearah Rawapening, Jawa tengah, Ke Situ Gunung sukabumi atau kearah Anyer, Banten. Setelah melihat Waze dan memperkirakan waktu perjalanan, akhirnya kami putuskan untuk berlibur ke Anyer dan sekitarnya

Siang itu kami berangkat dengan gembira walaupun ditengah rintik hujan kearah Anyer, Mertua perempuan saya memutuskan untuk ikut serta. Ditambah kabar baik lagi kakak ipar saya menyusul dan akan bertemu ditempat makan siang didaerah Serang.

Petualangan dimulai….

Karena berangkat siang jalan sudah ramai dan akhirnya saya dan kakak ipar bergabung dititik Masjid al Muttaqien Pandeglang, setelah shalat dzuhur dan ashar, kami makan siang di rumah makan KD dijalan Pandeglang – Labuan. Siang itu kami putuskan untuk menginap diseputaran Tanjung lesung, karena rasanya sudah sering kali ke Carita atau Anyer..

Perjalanan menuju Tanjung lesung berlangsung lancar dan singkat, tetapi karena kami sudah pernah piknik kesana sebelumnya, dan hotel yg tersisa hanya hotel Tenda saja, akhirnya kami memutuskan untuk pergi lebih jauh lagi kearah taman nasional Ujung Kulon, akhirnya dua mobil petualangpun beriringan menuju Cinibung, kecamatan sumur.

Jalan menuju Cinibung dari arah tanjung lesung sebagian rusak sebagian baik.. tetapi mostly rusak, dalam awal rute tanjung lesung cinibung kita berjalan tepat dipinggir pantai dengan segala keindahan pemandangannya,.. walaupun langit berawan banyak, tp hari itu pemandangan sangat indah, tidak jauh dari tanjung lesung kita bisa langsung melihat krakatau dari kejauhan yg saat itu sedang berasap cukup tinggi seperti biasanya,… hanya bisa berkata Masya Allah,.. Indah sekali sore ini,… kami berhenti sebentar untuk selfie dan dan mengambil foto pemandangan yg indah itu

Perjalanan kami lanjutkan kearah sumur,.. lagi2 kanan jalan tepat ditepi pantai, sementara kiri jalan kebanyakan kebun kelapa dan beberapa rumah semi permanent warga …. jalanan rusak parah sepanjang kira2 10Km….. dan karena hari mulai senja langit lembayung dangan cahaya kuningnya membuat kami terhipnotis dan otomatis berhenti untuk memotret keindahan pantainya,.. memang ombak cukup keras dipantai daerah sumur itu….. .. ..

Sebelum maghrib kami sampai dikota kecamatan sumur, ada 2 gedung tinggi yg kami lihat,.. keduanya tempat sarang walet,.. sementara pasar malam sedang berlangsung, keriuhan hampir tidak ada karena kami memasuki daerah sumur sebelum maghrib, tapi jelas keramaian pasti heboh sehabis maghrib karena kemeriahan lampu-lampu dan bianglala serta komidi putar tetap berkedap-kedip mengundang anak-anak dan dewasa untuk sekedar berbagi kebahagiaan, yang saya ingat warna lampu bianglalanya kebanyakan berwarna ungu..

Perjalanan berlanjut melewati tanjung sumur disambut dengan tulisan “welcome to sumur ” diplaza lengkung tempat keramaian anak muda dimalam minggu, penginapan kami masih sekitar 1-2 km lagi,.. sekitar 10mnt kami sdh sampai dipenginapan, semburat lembayung senja memayungi golden hour senja itu, indah sekali, sungguh …

Penginapan kami bernama Cinibung Resort, kamar kami nomor 12 langsung menghadap indahnya pantai Cinibung, setelah bebersih karena jauhnya perjalanan saya dan anak pertama saya shalat maghrib berjamaah sekaligus mengambil shalat Isya, suara ombak berdebum ritmik dipayungi sinar bulan purnama,.. Masya Allah Indah sekali….
Saya, anak sulung saya dan Kaka Ipar saya berjalan dipinggir pantai untuk melihat-lihat, walaupun gelap tapi karena purnama jelas terlihat laut dan pantainya,.. lalu kami bersiap untuk istirahat dengan rencana untuk lanjut ke taman nasional ujung kulon diesok harinya …..

Jam 840.. (jam akhir saya terlihat online di w/a)…

Disela-sela kantuk tiba2 terdengar suara raungan pesawat jet komersial dari kejauhan…. Bgrgrgrrgrgrrr.. suaranya tidak menjauh bahkan mendekat, tetapi tidak seperti pesawat yg segera hilang suaranya,.. dada saya berdetak keras, apakah ini.. ???..

….. tik tok tik tok … suara itu ga hilang juga.. 1 menit mungkin sudah berlalu…

Saya beranikan keluar kamar bersama si sulung untuk melihat ada apa diluar …

Ombak tetap berdebum seperti biasa tetapi… dikejauhan terlihat ada ombak yg besar… BESARRR… dan tingginya buih terlihat jelas dibawah purnama, .. sontak adrenaline mengalir deras didarah kami, dan kami langsung berteriak,.. TSUNAMIIII…….

Saya lari kebelakang resort untuk melihat apa ada tempat untuk melarikan diri…. tidak ada.. !!! kalaupun ada butuh lebih dari 15mnt lari untuk mencapainya, ditengah situasi itu yg saya pikirkan adalah bagaimana bisa bertahan hidup dan bertahan dari terjangan OMBAK BESARRR ituu…

Hanya satu yg terpikir, … take shelter, take shelter,… dan………….. teringat ayat Al Quran yg paginya kami baca berulang,….. Arrahman,.. ayat 26 – 27 – 28…. Kullu man aalayhaa faan,…… sesungguhnya segala yg ada didunia akan binasa, .. wa yabka wajhu Rabbika dzuljalaalii wal ik raam.. tetapi wajah Tuhanmu yg memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal… fabiayyi alaa iRobbikuma tukazzibaan,…..

20detik terpanjang dalam hidup saya,..

Saya bangunkan istri dan anak serta mertua saya, saya suruh semua masuk ke kamar mandi karena cukup besar dan ada tulang2 beton yg kuat memisahkan tempat bebersih dari pasir dan tempat mandi, saya angkat anak sulung saya masuk terlebih dahulu,.. istri saya, anak perempuan saya dan mertua masuk ruang mandi belakangan…..

Dihati terbersit inilah ujung ajal saya sebagai manusia, anak2 saya punya taqdir, istri saya punya taqdir,.. tidak cukup bekal yg saya kumpulkan selama ini untuk akhirat, hanya lafadz Istighfar dan tauhid yg ada diujung lidah,.. semua tercekat …

Semua terlambat…

seperti gerakan lambat, sebelum sempat saya tutup ruang mandi,…..istri saya dan anak kedua saya terlambat masuk ruang itu,… saya melihat ombak bercampur pasir mendorong kakinya sehingga badan istri saya terlempar terbalik, saya tidak melihat dimana anak perempuan saya… dan airpun melayangkan saya mendekati langit2, terlepas juga pegangan anak pertama saya dibelakang,..

Seperti slow motion gravitasi menurunkan saya kembali kedasar ruangan dan ombak langsung surut,… tidak sampai 5 detik (for sure i dont know how long it actually last), dan saya mendengar teriakan istri, anak dan mertua saya, sayapun berteriak agar mereka segera masuk keruangan,

Ombak pertama, listrik masih hidup

Secara reflek saya kembali melihat keluar.. ruangan dan terlihat ombak kembali akan menerjang,.. reflek saya berteriak,.. “awas ada lagi….” kami berlima pun bersiap,.. gelombang kedua menerjang dengan segala sampah bawaannya… tapi tidak sebesar gelombang pertama,… listrik langsung mati,… melihat itu saya pun langsung keluar untuk membuka jalan untuk anak istri saya,.. dan dari sebelah kamar terdengar teriakan kakak Ipar saya dan istrinya,…

Ayo keluar ayo keluar,.. segera kami keluar kesebelah kiri dan menemukan mobil kami sudah terlempar lebih dari 20meter dari tmpt parkirnya disebelah kamar kami, dan terlihat ternyata dibelakang ada gundukan tanah yg sebelumnya saya tidak lihat,.. memang tidak begitu tinggi gundukan itu,… segera kami lagi kearah gundukan itu,.. tidak ada suara orang lain selain kami,.. .. kami seperti makhluk yg baru keluar dari kubur, saya hanya memakai celana pendek, istri saya memakai daster yg koyak, anak2 dan mertua memakai baju tidur yg basah,.. tanpa alas kaki, tanpa tanda pengenal, tanpa jelas apakah akan ada ombak yg lebih besar lagi yg akan menyeret kami kelaut atau melempar kami kelubang kubur, seperti dibangkitkan setelah mati,… tidak ada suara dikanan kiri kami, mungkin orang2 sdh lari lebih dulu dari kami,…

mobil2 terlempar seperti sampah plastik,

Setelah sampai gundukan tanah, gelombang ketiga datang,.. tidak sebesar yg kedua, karena gelombang mengecil kami segera berlari mendekati jalan raya, diseberang parit besar,.. bak diberikan jembatan khusus sdh ada mobil yg bertengger terlempar diatas parit itu yg siap kami jadikan tmpt menyeberang parit,

Tanpa menunggu lama ada mobil lewat, 2 mobil truck dan 1 mobil 4×4 membawa motorcross…. mereka langsung mengangkut kami,… baru bbrp puluh meter berjalan,.. jalanan terhenti karena ada halangan, pohon tumbang dan atap2 cottage yg terbawa ombak,..

Bbrp laki2 termasuk kakak ipar saya turun kejalan beramai2 menyingkirkan halangan tersebut,… tapi tiba2 ombak kembali datang … cukup tinggi walaupun tidak kencang, mobil yg kami tumpangi harus terus digas agar tidak mati karena tenggelam oleh air, .. bbrp saat kemudian air surut,.. disebelah kanan ternyata ada tower torrent air besar yg seperti mercusuar, kokoh dan berada dibelakang bangunan,..

Dari atas orang2 berteriak,.. ayo naik ayo naik… hati2 ada gelombang.. segera saya putuskan untuk naik ke menara tersebut, dan rupanya orang2 tersebut ada yg langsung turun untuk membantu membawa anak2 saya keatas menara.

Sampai diatas ternyata sudah ada bbrp belas orang, yg terdiri juga dari bbrp anak2,.. semua yg ada sangat membantu kami,.. ada anak muda yg berkaos kering, langsung memberikan kaosnya ke anak saya yg pertama, sehingga anak saya tidak kedinginan,… ada seorang perempuan muda, yg disebut2 “Mamita” memberikan jaketnya untuk anak perempuan saya (jaket itu masih saya simpan) ada yg meminjamkan HP sehingga saya bisa meminta dievakuasi, ada yg memberikan minuman sekedarnya agar tenggorokan kami tidak kering karena kami banyak menelan air laut…. sungguh mulia orang2 ini, semoga Allah membalas segala kebaikan mereka dengan Hidayah, pahala, serta ampunan yg berlimpah…

Setelah sekitar 30 mnt sdh tidak ada ombak besar yg terlihat naik, anak2 muda yg memberika bajunya untuk anak saya mengajak segera pergi dari tmpt itu untuk mencari daratan yg tinggi,.. dan kamipun mengikuti, didalam mobil avanza yg selamat masih bisa berjalan walaupun serba penyok dan kelistrikannya sdh mulai error karena terendam, kami berdesakan menuju tempat yg lebih tinggi,… mobil dipacu secepatnya sambil meliuk2 menghindari halangan2 pepohonan dan sisa2 runtuhan bangunan yg ada,.. sempat saya lihat ada avanza yg terlempar sampai kesemak2 jauh dari pantai…

Sampailah kami didesa pengungsian pertama, desa Kopi, kecamatan Sumur, keadaan desa sdh sangat ramai, dengan motor mobil dan lain sebagainya,.. mobil kami berhenti didepan rumah “mbah Herman” (seingat saya itu nama yg orang2 sebutkan, semoga tidak salah..) dirumah ini saya bak dijamu, semua baju kami digantikan oleh baju2 terbaik keluatga Mbah, air hangat dan kopi segera terhidang, selimut, bantal, tikar segera disiapkan, sehingga kami tidak melewati malam itu dengan kedinginan,.. sungguh hanya cucuran air mata haru dan doa yg bisa saya isakkan diam2..

Pengungsian penuh dengan pengungsi..

dirumah Mbah ada puluhan orang yg mengungsi, tetapi yg terkena tsunami hanya kami bertujuh dan satu orang nelayan yg 2 jam berenang untuk menyelamatkan diri dari ganasnya ombak….

Sedihnya tinggal dipengungsian adalah ketika salah satu dari pengungsi masih mencari keluarganya dan belum ditemukan, dan rasanya penuh ketakutan karena ada saja yg berteriak “air naik – air naik”.. sangat ngeri rasanya jika mendengar orang berteriak,.. mungkin ini yg dinamakan trauma, .. ambulan bolak-balik didepan jalan hingga pagi,..

Tapi karena kebaikan Mbah,.. saya dan keluarga masih dapat tidur sedikit malam itu, dan anak2 saya dpt tidur cukup nyenyak….

Azan subuh berkumandang, …

Assalatu khairuminannauum…… ini adalah shubuh yg paling syahdu buat saya,.. saya terbangun ditengah ruangan, saya lihat anak2 dan istri saya selamat, dan masih tertidur,.. diantara rintik hujan saya berangkat ke masjid yg berada tidak jauh dari rumah Mbah ditemani oleh seorang pekerja yg juga sedang mencari temannya,… sampai masjid bagian shaf belakang penuh dengan pengungsi,.. saya pun shalat… sembari masygul, apakah ini bukan mimpi ? …. sungguh sangat syahdu pagi itu….

Matahari mulai menerangi kampung Kopi,.. sekitar jam 6 pagi rombongan relawan pembawa bantuan logistik pun lewat yg pertama dari FPI laku dari LPI (kalau tidak salah).. rupanya kampung Kopi tidak dijadikan tmpt pengungsian utama, karena banyak korbam didaerah sumur, sehingga Cinangka lah yg dijadikan pengungsian utama,… karena akses yg terputus, jalan dpn rumah Mbah menjadi jalan utama menuju sumur,.. pagi itu ada desas desus korban jiwa sudah 35orang didaerah sumur saja………

Saya dan kakak ipar saya memberanikan diri untuk pergi kembali ke tmpt kejadian agar bisa membawa identitas, dan apapun yg bisa penting,… dengan 2 motor tetangga sekitar Mbah kita turun ke penginapan kami,…

Sampai didepan kamar kami, saya terkaget2 dan syok,.. betapa tidak, kaca sebesar lengan berceceran dimana2,.. batu2 bekas pagar dan tembok sebesar galon Aqua masuk sampai dalam,.. kayu2 yg tadinya berbentuk lemari, tmpt tidur, meja,.. sudah berubah menjadi potongan2 yg ga jelas,.. dan pasir setinggi mata kaki menutupi semuanya, ..

Identitas berhasil ditemukan kecuali milik saya, segera kami kembali kerumah Mbah,.. hujan membesar.. saya duduk ditepi rumah Mbah, sambil menunggu tim evakuasi kantor saya dan adik ipar saya yg datang sekitar jam 10 pagi itu,. Sambil terdiam, …. betapa dahsyatnya kejadian semalam,… betapa kecilnya kita sebagai manusia,.. dan amanah serta pelajaran apa yg Allah berikan kepada saya dan keluarga sehingga kami seolah2 dilahirkan kembali….

Sungguh benar hadist nabi SAW yg mengingatkan kita agar memanfaatkan hidup sebelum mati untuk ibadah dan kebaikan

Tidak terbayang siksa kubur apa yg akan saya terima jika saya mati,.. karena saya merasa kurang beramal dan banyak berdosa.

malam itu adalah malam terdekat saya dengan kematian,…. dan rasanya tidak cukup segala amal yg saya perbuat untuk membayar segala dosa yg sdh saya lakukan,… tidak berguna harta, status, keluarga dan segala macam urusan dunia,.. sungguh ketika maut sudah diujung hidung .. taubat saja terasa tidak cukup…

Kalau mati sudah dekat yg teringat hanya, betapa kurangnya kita beramal dan betapa banyaknya dosa kita serta betapa kurangnya kita bertaubat…

Cukup kematian menjadi pelajaran…..

Cukup kematian menjadi pelajaran

Opi
Penyintas tsunami banten,
— Self reminder —

Berempat.com