Berempat.com

Mahalnya tiket pesawat penerbangan domestik telah dikeluhkan banyak kalangan sejak beberapa bulan terakhir. Apalagi saat liburan panjang Natal dan Tahun baru ini. Harga tiket pesawat semakin melangit.

Bagi seorang yang hendak pulang kampung, menghabiskan liburan bersama keluarga mungkin tak mempermasalahkan meroketnya harga tiket saat peak season beberapa waktu terakhir. Toh terbang hanya sesekali.

Namun tidak begitu bagi seorang pengusaha yang banyak melakukan penerbangan dalam dan luar negeri. Mereka pun merasakan kenaikan harga tiket yang dianggap tak wajar.

Kenaikan harga tiket yang telah dirasakan sejak bulan November hingga Januari ini bukanlah hal biasa. Begitu pula yang dirasakan salah seorang pengusaha indutri agorbisnis Audy Joinaldy.

Menurutnya fenomena kenaikan harga tiket pesawat ini cukup berpengaruh terhadap biaya operasional perusahaan ditengah perlemahan ekonomi, padahal nilai tukar USD dan harga minyak bumi yang turun terus.

“Mengapa harga tiket pesawat malah terus menaik?,” tanyanya dalam laman facebooknya.

Terkait peningkatan harga tiket pesawat domestik memang ada kebijakan sendiri dari maskapai domestik untuk menggunakan harga batas atas sehingga semua harga adalah harga peak season sepanjang tahun.

Audy memberikan contoh sesama maskapai full airlines, semua harga jadi gak normal.

“Lebih murah ke Luar Negeri yang jaraknya berlipat-lipat dari jarak domestik,” ujarnya.

Berikut contoh rute dan jarak oneway, harga PP
1. Jakarta – Banjarmasin 947 km Rp. 3,9 juta
Jakarta – Bangkok 2.286 km Rp. 3,2 juta

2. Jakarta – Medan 1.388 km Rp. 4,8 juta
Jakarta – Hongkong 3.459 km Rp. 4,2 juta

3. Jakarta – Banda Aceh 1.794 km Rp. 6,0 juta
Jakarta – New Delhi 5.234 km Rp. 4,4 juta

4. Medan – Sorong 4.184 km Rp.12,2 juta
Medan – Paris 11.340 km Rp. 10,6 juta

“Tiket ke Paris lebih murah daripada ke Sorong,” tuilisnya.

Lebih lanjut ia menuliskan sebenarnya, maskapai-maskapai ini sah-sah saja menaikin harga segini karena dibolehkan di Peraturan Menteri Perhubungan No 14 Tahun 2016. Dalam peraturan tersebut mengatur batas bawah 30% dan batas atas 100% untuk maskapai full service.

“Sayangnya, tidak diatur tanggal-tanggal pengecualian kapan tidak boleh pakai batas atas, sehingga apabila maskapai memberlakukan harga maksimum sepanjang tahun seperti ini jadinya sah-sah aja walaupun sangat merugikan customer,” pungkasnya.

Berempat.com