Foto: Detik.com
Berempat.com

Kedua putri Ratna Sarumpaet, Atiqah Hasiholan dan Fathom Saulina, akhirnya memenuhi penggilan Mapolda Metro Jaya, untuk dimintai keterangan seputar foto lebam Ratna yang beredar di media sosial Selasa (23/10).

Atiqah yang seharusnya dijadwalkan bersaksi puku 14.00 WIB mundur 7 jam. “Karena yang bersangkutan ada kegiatan, minta mundur pukul 21.00 WIB,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono.

Kedua anak Ratna Sarumpaet itu, mendapat 16 pertanyaan dalam pemeriksaan terkait kasus hoax penganiayaan. Pengacara Atiqah, Insank Nasruddin, mengatakan pertanyaan lebih banyak seputar hubungan ibu dan anak.

Keduanya keluar Ditkrimum Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (24/10) pukul 01.30 WIB. Atiqah enggan memberikan komentar apa pun mengenai kasus yang menjerat ibunya itu.

Atiqah langsung berjalan dan tak menjawab pertanyaan dari para wartawan. Dia dikawal ketat oleh pengacara dan sejumlah orang yang mendampinginya. Atiqah memilih langsung masuk ke mobil yang telah disiapkan.

“16 pertanyaan. Ya, seputar pengetahuan Mbak Atiqah masalah viral ini. Hanya itu saja. Makanya pertanyaannya juga nggak banyak kan, karena banyak yang nggak beliau ketahui, dan lebih banyak pada hubungan anak dan ibu kok. Itu saja,” kata Insank di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (24/10).

Insank juga membantah mengenai adanya dugaan aliran dana dari rekening bantuan Danau Toba untuk kepentingan operasi plastik Ratna. Insank menegaskan aliran dana itu tak pernah ada.

“Nggak ada aliran dana, nggak ada, nggak ada. Nggak ada aliran dana, ya. Nggak ada itu. Persoalan itu nggak, persoalan itu nggak ada di sini,” tegasnya.

Penyidik Polda Metro Jaya menetapkan Ratna Sarumpaet sebagai tersangka penyebaran berita bohong alias hoax untuk membuat keonaran. Ratna disangkakan dengan UU Peraturan Hukum Pidana dan UU ITE.

Ratna menjadi tersangka setelah polisi menerima laporan soal hoaxpenganiayaan. Ratna memang mengakui kebohongannya setelah polisi membeberkan fakta-fakta penelusuran isu penganiayaan.

Berempat.com