Berempat.com

Kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo yang secara tiba-tiba menghentikan sejumlah proyek infrastruktur mulai dari proyek LRT Jabodetabek dan Kereta Cepat Jakarta Bandung bukan hanya soal kemacetan jalan akibat proyek itu.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono mengatakan, rencana yang diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Darmin Nasution itu sama halnya dengan pemerintah mengakui anjloknya nilai tukar rupiah terhadap mata dolar Amerika Serikat karena proyek infrastruktur.

Menurutnya, infrastruktur menyebabkan Indonesia krisis.

Fery mengatakan, sejak awal Gerindra mengingatkan pemerintah untuk melaksanakan proyek-proyek infrastruktur yang bersifat mendesak bagi masyarakat umum saja. Hal itu karena keterbatasan anggaran dan resiko devisa yang terkuras.

Pasalnya, sambung dia, hampir semua bahan baku proyek infrastruktur adalah hasil impor. Apalagi dampaknya terhadap produksi ekonomi rakyat belum terasa.

“Langkah pemerintah ini sudah telat dan menunjukkan kegagalan. Infrastruktur dihentikan terus ekspor mau digenjot terus impor mau dikurangi. Lah harusnya di awal pemerintahan sebagai rencana pembangunan bukan pas rupiah udah Rp 15 ribu baru dihentikan. Ini salah urus, dan kegagalan kepemimpinan. Rakyat yang jadi korban,” katanya.

Berempat.com