Menkeu Sri Mulyani Indrawati (kanan) memberikan penghargaan kepada Menteri PU Pera Basoeki Hadimoeljono (kedua kanan) sebagai pemangku kepentingan (stakeholder) pasar Sukuk Negara kategori Kementerian/Lembaga pemrakarsa proyek infrastruktur yang dibiayai dengan SBSN di Istana Negara, Jakarta, Jumat (23/12). Pemerintah mengungkapkan Indonesia saat ini tercatat sebagai penerbit surat berharga syariah negara (sukuk negara) terbesar di dunia, tercatat sampai November 2016 penerbitan sukuk negara di pasar internasional mencapai 10,12 miliar dolar AS dengan nilai "outstanding" 9,5 miliar dolar AS. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/aww/16.
Berempat.com

Infrastruktur yang sangat dibangga-banggakan Presiden Joko Widodo rupanya hanyalah melanjutkan proyek infrastruktur peninggalan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Di zaman Pak SBY, sudah punya blue print konektivitas, zaman Pak Jokowi itu hanya melanjutkan sebetulnya,” ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati Selasa (8/1).

Namun, lantaran proyek infrastruktur itu belum bisa direalisasikan di era SBY, maka pemerintahan Jokowi berusaha mewujudkan perencanaan yang sudah ada tersebut. Untuk itu, para menteri Kabinet Kerja segera merumuskan berbagai skema pembiayaan yang mungkin digunakan.

Mulai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), hingga pembiayaan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Pada tahun ini saja, setidaknya pemerintah mengalokasikan anggaran infrastruktur mencapai Rp415 triliun, atau meningkat dibanding tahun lalu yang sekitar Rp410 triliun.

“Termasuk dengan melibatkan private sector (swasta), baik menggunakan loan (pinjaman) maupun equity financing (pinjaman modal). Itu semua dilakukan agar bisa menyukseskan prioritas nasional,” terangnya.

Terlepas dari subjek penggagas rencana dan subjek yang merealisasikan, Ani menekankan pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah dari masa ke masa bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Tanah Air.

Selain itu, untuk mendorong daya saing Indonesia agar tidak tertinggal dari negara-negara lain. “Ini untuk kejar ketertinggalan dari sesama negara ASEAN, terutama ASEAN+5. Kalau Anda sering ke Singapura, Thailand, Malaysia, itu kami kalah,” pungkasnya

Berempat.com