Berempat.com

Pengemudi truk pengangkut barang beralih haluan dari Tol Trans Jawa kembali melaju di Jalan Pantura. Berpindahnya mereka bukan tanpa alasan, mereka menilai bahwa tarif yang ditentukan untuk truk terlalu mahal.

Perpindahan tersebut terbukti dari, naiknya kepadatan lalu lintas di Jalur Pantura terutama Pekalongan.

Dari data Dinas Perhubungan Kota Pekalongan, tercatat adanya peningkatan arus lalu lintas mencapai sekitar 70%, yang didominasi kendaraan truk, akhir Januari lalu.

Pengusaha Logistik menilai pemerintah kurang belajar dari pengalaman dalam menentukan tarif tol. Pasalnya, kini beberapa pengemudi truk mulai meninggalkan tol Trans Jawa karena tarif yang terlalu tinggi.

Menurut Ketua Asosiasi Logistik Indonesia Zaldy Ilham Masita kejadian tol sepi peminat karena tingginya tarif yang diberikan sudah pernah terjadi di Tol Cipali. Menurutnya pemerintah tidak belajar dari pengalaman tersebut.

“Pemerintah tidak belajar dari kasus tol Cipali yang sudah beroperasi 3 tahun lalu tapi sepi karena biaya tolnya Rp 400 ribu untuk truk. Apalagi Tol Trans Jawa yang biaya tolnya bisa sampai lebih dari Rp 1,2 juta untuk truk,” ujar Zaldy.

Dia menegaskan bahwa sebagus apapun fasilitas yang diberikan pemerintah di Tol Trans Jawa, tarif yang tinggi akan membuat angkutan logistik terutama truk beralih.

“Jadi walaupun fasilitas di Tol Trans Jawa bagus banget. Kalau masih mahal ya truk tidak akan lewat,” tegas Zaldy.

Dia menilai tanpa diminati angkutan logistik lewat jalur tol, Trans Jawa akan terlihat sia-sia saja dibangun. Padahal biayanya triliunan rupiah.

“Sangat sayang kalau tol Trans Jawa dibangun dengan biaya triliunan rupiah hanya dipakai utk liburan lebaran dan natal saja. Sangat mubazir,” kata Zaldy.

Berempat.com