Berempat.com

Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Kendari melakukan uji sample tablet PCC berwarna putih. Sample tersebut merupakan obat yang dikonsumsi para korban yang masuk rumah sakit di Kendari.

Kepala BPOM di Kendari, Adila Pababbri, menuturkan kasus penggunaan tablet PCC sudah beberapa kali ditemukan. Bahkan sebelumnya, BPOM sudah 10 kali mendapat kasus tablet ini dari pihak kepolisian. Dan ternyata PCC merupakan obat ilegal.

“Tablet yang dikonsumsi ini adalah obat ilegal, tanpa izin edar dari Badan POM. Berisi zat aktif carisoprodol dan dijual perorangan,” kata Adila saat konferensi pers pada Kamis (14/9/2017).

Carisoprodol sendiri merupakan obat keras berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan pada 27 Juni 1973.

“Di dalam tubuh obat ini akan segera dimetabolisme menjadi meprobamat yang akan menimbulkan efek sedatif. Jadi mepobramat ini bersifat psikotropika,” kata Adila lagi.

Pada tahun 2014 BPOM melakukan penarikan dan pembatalan izin edar karena maraknya penyalahgunaan carisoprodol. Sejak tahun 2000-an obat ini sudah banyak disalahgunakan.

“Mengingat dampaknya, penyalahgunaan lebih besar dibanding efek terapi, serta lebih banyak mudarat dibandingkan manfaat, maka Badan POM mengeluarkan Surat Keputusan Kepala Badan POM tentang pembatalan¬†mengandung izin edar obat yang mengandung carisoprodol di 2013,” katanya lagi.

Terkait masalah ini, Adila mengingatkan kepada masyarakat Indonesia agar tidak salah pilih dalam mengonsumsi obat lewat Cek KIK. Yakni:

1. Cek kemasan: Cek kemasan produk, pastikan dalam keadaan baik dan pastikan tidak ada kerusakan.

2. Cek izin edar: Cek nomor izin edar pada kemasan serta nomor notifikasi pada produk sebagai bukti bahwa produk tersebut terjamin keamanan, manfaat, dan mutunya.

3. Cek Kedaluwarsa: Cek waktu kedaluwarsa untuk memastikan produk yang dibeli tidak melewati batas kedaluwarsa dan aman untuk dikonsumsi.

Berempat.com