Berempat.com

Berkabar.ID – Ibu sewajarnya adalah sosok yang selalu hormati dan dikagumi. Seorang ibu senantiasa berperan besar dalam perkembangan anak-anaknya. Menjadi panutan bagi anak-anaknya, mengemban tugas dan tanggung jawab yang teramat besar demi memberikan yang terbaik bagi sang buah hati.

Tapi tidak dengan ibu asal Bandung ini. Mereka malah tega menjerumuskan anaknya ke jurang nista. Dua orang ibu bernama Susanti dan Herni, terlibat dalam pembuatan video film dewasa yang melibatkan anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Susanti menjadikan anaknya yang berinisial DN (9) sebagai pemeran di dalam video tersebut.

Video yang sempat viral di sosial media ini langsung mencuri perhatian masyarakat. Tim gabungan Polda Jawa Barat dan Polrestabes Bandung langsung mengadakan penyelidikan. Sutradara film yang bernama Muhammad Faisal Akbar pun berhasil diamankan, Minggu (7/1) kemarin.

“Satu yang kami prihatin, ini ada orang tua kandung dari anak yang jadi korban,” kata Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, Senin (8/1).

Ibu korban DN mengaku datang di tengah-tengah proses pembuatan video. Ia datang setelah ditelepon pelaku lantaran korban DN merengek.

“Korban DN menangis karena tidak mau direkam. Sehingga kemudian pelaku meminta pemeran wanita menelepon ibunya untuk datang ke hotel. Dalam hotel, ibu mengarahkan,” kata Agung menambahkan.

Dalam penyergapan ini, kepolisian berhasil meringkus enam orang pelaku yang berkaitan dengan pembuatan video ini. Selain sutradara dan kedua ibu tadi, mereka adalah A alias Intan dan IO alias Imel, keduanya sebagai pemeran wanita. Sementara satu lagi masuk DPO berinisial IS.

Dan untuk tiga anak dibawah umur yang terlibat, statusnya sebagai korban, yakni bocah berinisial D (9), SP (11), dan RD (9). Mereka sekarang telah diamankan di rumah aman yang dikelola P2TP2A Jawa Barat.

Para tersangka akan dijerat dengan undang-undang berlapis, yakni UU No 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak, UU No 44 tahun 2008 tentang Pornografi, dan UU No. 19 tahun 2016 tentang ITE. Hukumannya maksimal 15 tahun penjara.

Saat ini Kepolisian Bandung telah mendalami kasus tersebut yang kemungkinan terdapat keterlibatan warga negara asing. Disinyalir warga negara asing itu berasal dari Belanda, Kanada dan Rusia. Karena menurut tersangka sewaktu diintrograsi mereka melakukan transaksi melalui media sosial VK dan Telegram.

Berempat.com