Ilustrasi Bayi Dibuang sumber: Istimewa

Berkabar.ID – Penemuan jasad seorang bayi membuat puluhan pedagang di Jalan Gedung Arca, Medan, persisnya di samping Kampus ITM heboh.

“Saya mau buka dagangan sekitar jam 10.00 WIB. Pas bersih-bersih, saya lihat ada bungkusan tas di parit,” kata Supriadi (38), pedagang celana jeans, seperti dilansir dari Tribun Medan, Jumat (12/1).

Menurut Supriadi, pedagang celana jeans di wilayah itu, saat ditemukan bayi tersebut mengeluarkan bau busuk. Ia pun memanggil kawan-kawannya untuk menghubungi polisi.
“Karena baunya menyengat, saya panggil kawan-kawan. Terus kawan-kawan melapor ke polisi,” ungkap Supriadi.

Kapolsek Medan, Kompol Martuasah Tobing mengungkapkan, pihaknya masih menyelidiki terkait kasus ini. Sementara bayi tersebut telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan guna dilakukan pemeriksaan.

“Seorang saksi bernama Meri Koto masih kami mintai keterangannya. Untuk jenazah bayinya, sudah kami bawa ke RS Bhayangkara Tingkat II Medan,” kata mantan Kanit VC/Judisila Polresta Medan.

Merupakan kasus yang ke tiga di Medan Kota

Ilustrasi Bayi Dibuang (Istimewa)

Pada Rabu (29/11/2017) silam, ditemukan janin yang baru terbentuk dibuang di tempat penitipan helm di kampus UISU Jalan SM Raja, Lingkungan XI, Kelurahan Teladan Barat, Kecamatan Medan Kota. Hingga kini kasus ini pun belum terungkap, dan pelakunya belum tertangkap.

Kemudian, Pada Jumat (7/7/2017) silam di Jalan Brigjend Katamso, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun. Bayi laki-laki dibuang di tempat sampah. Mirisnya, sang pelaku pun belum tertangkap juga.

Kenapa Marak Kasus Pembuangan Bayi?

Ilustrasi Bayi Menangis (Istimewa)

Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), ada empat faktor yang menyebabkan orang tua tega membuang bayinya hingga membunuhnya.

Pertama, ketidaksiapan memiliki anak. Hal itu bisa berhubungan dengan faktor ekonomi dan lainnya. Sehingga menyebabkan sang ibu atau pasangan tersebut kebingungan dan akhirnya memilih membuang bayinya.

Kedua, akibat dari hubungan terlarang. Pasangan pranikah mungkin beranggapan, dengan membuang bayi mereka masalah akan selesai. Namun, ini merupakan pemikiran yang salah

Ketiga, pergaulan bebas para ABG (Anak Baru Gede) bisa memacu juga. Ditambah secara psikologi mereka masih labil.

Keempat, anak itu merupakan hasil dari pemerkosaan. Karena khawatir menjadi aib keluarga, pelaku langsung menghilangkan jejaknya dengan cara membuang atau membunuhnya.

Komisi Nasional Perlindungan Anak telah gencar mengkampanyekan kepada individu atau pasangan yang memiliki latar belakang seperti itu, hendaknya tidak membuang atau pun membunuhnya.

Jerat Pidana Pembuangan Bayi

Ilustrasi Penjara (Merdeka.com)

Untuk aksi pembuangan bayi atau anak dalam keadaan hidup pelaku dapat dijerat dengan beberapa pasal.

Pertama, Pasal 305 KUHP tentang menaruh anak di bawah umur tujuh tahun di suatu tempat agar dipungut orang lain dengan maksud terbebas dari pemeliharaan anak itu. Pada pasal tersebut pelaku diancaman hukuman pidana 5 tahun 6 bulan.

Kemudian Pasal 306 ayat 1 KUHP tentang melakukan pembuangan anak hingga menyebabkan luka berat dengan ancaman hukuman tujuh tahun enam bulan. Jika aksi tersebut dilakukan tidak lama setelah anak dilahirkan karena ibu ketakutan diketahui orang lain, maka ibu itu dikenakan Pasal 308 KUHP dengan maksimum pidana dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh.