Bupati Ngada, Marianus Sae - (Tempo/Jhon Seo)

Berkabar.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Bupati Ngada, Marianus Sae dalam operasi tangkap tangan (OTT), Minggu (11/2). Tidak hanya Marianus, KPK juga mengamankan beberapa orang lainnya di tempat terpisah dalam OTT tersebut.

“Lima orang (diamankan), bupati dan satu orang diamankan di Surabaya, satu ajudan. Itu yang dibawa ke Jakarta,” kata Juru bicara KPK, Febri saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (11/2) malam.

Marianus dan dua orang lainnya sudah diamankan di gedung KPK, sedangkan dua orang lainnya masih menjalani pemeriksaan di daerah. Namun, Febri masih belum mau menjelaskan lebih detail mengenai dua orang tersebut.

“Dua orang lagi swasta masih pemeriksaan di daerah,” jelasnya.

Selain menjabat Bupati Ngada, Marianus sendiri merupakan bakal calon Gubernur NTT dalam gelaran Pilkada serentak 2018. Dia diketahui akan maju bersama Emmilia yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

KPK memiliki waktu 1×24 jam untuk menentukan status dari pihak-pihak yang diamankan tersebut. Marianus dan seseorang yang ditangkap bersamanya langsung menjalani pemeriksaan intensif.

Pernah Blokade Bandara

Bupati Ngada, Marianus Sae (Tribun)

Marianus Sae tercatat pernah memerintahkan petugas Satuan Polisi Pamong Praja untuk memblokor Bandara Turelelo-Soa mulai pukul 06.15 hingga 09.00 WITA. Hal itu dilakukan lantaran dirinya tidak mendapat tiket pesawat Merpati Nusantara Airline rute Kupang-Bajawa. Tindakan kontroversialnya itu ia lakukan pada 21 Desember 2013 silam.

Akibat tindakannya tersebut, pesawat Merpati rute penerbangan Kupang-Bajawa yang mengangkut 54 orang terpaksa kembali ke Bandara El Tari, Kupang, karena tidak bisa mendarat. Selain itu, pesawat Merpati dengan nomor penerbangan 6516 dari Kupang-Soa juga terpaksa membatalkan pendaratan di Bandara Turelelo-Soa.

Setelah peristiwa tersebut Marianus pun ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian karena dianggap melanggar Pasal 421 dengan memerintah orang lain untuk melanggar hukum. Dia pun mendapatkan ancaman hukuman 2,8 tahun penjara. Namun, kelanjutan kasus tersebut tak jelas sampai sekarang.