Beras Bulog. (Antara Foto/Rahmad)

Berkabar.ID – Sebanyak 57 ribu ton beras asal Vietnam mulai masuk ke Indonesia pada Minggu (11/2) kemarin. Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Siti Kuwati mengatakan, 57 ribu ton beras tersebut masuk melalui tiga pelabuhan di Indonesia, yakni 6 ribu ton masuk melalui Pelabuhan Merak, 41 ribu ton melalui Pelabuhan Tanjung Priok, dan 10 ribu ton melalui Pelabuhan Tenau, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Rencananya, sandar hari ini di Merak 6 ribu ton, Tanjung Priok 41 ribu ton dn Tenau NTT 10 ribu ton. Semua dari Vietnam,” ujarnya di Jakarta seperti dikutip Berkabar.ID dari Liputan6, Senin (12/2).

Siti menuturkan, beras impor tersebut akan dijadikan cadangan beras Bulog dan baru akan didistribusikan bila diperlukan. Ia juga menjelaskan, masuknya beras impor tersebut akan mengembalikan cadangan beras Bulog yang semakin menipis karena operasi pasar yang sebelumnya dilakukan Bulog.

Harga Beras Masih Tinggi

Tim gabungan Kementerian Perdagangan, Dinas Koperasi Perdagangan dan Perindustrian, Buloq Drive Lhokseumawe dan Kepolisian Polres Lhokseumawe berbincang dengan pedagang beras di pasar induk beras Kota Lhokseumawe, Aceh, Rabu (10/1). (ANTARA FOTO/Rahmad/foc/18).

Awal Pekan ini, harga beras bisa dikatakan masih terbilang tinggi. Hal ini dilihat dari harga beras di salah satu pasar di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat.

Data yang diterima dari beberapa pedagang di pasar tersebut, untuk beras jenis medium saat ini mencapai Rp 11 ribu per liter atau bisa dikatakan naik Rp 2.000 dari pekan lalu yang berada di kisaran Rp 9.000 per liter.

Menurut para pedagang, kenaikan harga beras saat ini karena faktor gagal panen yang dialami para petani akibat cuaca buruk yang terjadi di Indonesia belakangan ini.

Data Produksi Beras yang Tak Jelas Pengaruhi Tata Kelola Pangan

Beras Bulog (Detik/Grandyos Zafna)

Keakuratan data produksi beras nasional jadi pertanyaan seiring melonjaknya harga beras di awal tahun 2018 ini. Pernyataan swasembada dinilai bertolak belakang dengan kenyataan sehingga menyebabkan terjadinya lonjakan harga yang membuat ketidakjelasan kondisi pasokan pangan.

Seperti diketahui, saat ini hanya Kementerian Pertanian yang menerbitkan data terkait produksi hasil pertanian. Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) memutuskan tak lagi mengeluarkan data terkait produksi produk-produk pertanian mulai awal 2016.