Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Dirjen Binapenta & PKK) Maruli Hasoloan saat membuka IKA Unpad Job Expo, Senin (12/2). (Kemenaker)

Berkabar.ID – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah mewanti-wanti kepada para mahasiswa akan adanya tantangan besar yang terjadi di era Revolusi Industri 4.0. Revolusi tersebut berkenaan dengan perubahan pola baru yang berdampak pada terciptanya jabatan dan keterampilan kerja baru. Sementara itu beberapa jabatan lama akan hilang.

Sebagaimana yang dituturkan oleh Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Dirjen Binapenta & PKK) Maruli Hasoloan saat membuka IKA Unpad Job Expo, Senin (12/2), tantangan itu harus dihadapi sesuai dengan pola kerja baru yang tercipta dalam revolusi 4.0.

“Satu faktor yang penting adalah keterampilan dan kompetensi yang harus tetap secara konsisten ditingkatkan,” tegas Maruli ketika mewakili Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif di Unpad.

Menurut Maruli, revolusi industri 4.0 merupakan integrasi pemanfaatan internet dengan lini produksi di dunia industri. Saat ini entah disadari atau tidak, perubahan telah terjadi dalam dunia industri yang ditandai dengan berubahnya iklim bisnis dan industri yang semakin kompetitif seiring dengan berkembangnya teknologi informasi.

Oleh karena itu, ujarnya, lembaga pendidikan dan pelatihan Indonesia harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki nilai tambah sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

“Lembaga pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter, kompeten, dan inovatif,” jelas Maruli.

Berempat.com

Ia juga mewanti-wanti agar dunia industri pun harus dapat mengembangkan strategi transformasi dengan mempertimbangkan perkembangan sektor ketenagakerjaan. Sebab, menurutnya, transformasi industri akan berhasil dengan adanya tenaga kerja yang kompeten.

Di sisi lain, Direktur Pendidikan Universitas Padjajaran Wawan Hermawan menegaskan, menjadi generasi yang hidup di era industri 4.0 harus memiliki daya saing yang tinggi.

“Selain unggul di bidang akademik, generasi saat ini juga harus berdaya saing tinggi. Persaingan di luar dana sangat ketat, apalagi sekarang sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),” jelas Wawan.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat Ferry Sofyan Arif mengatakan, sebanyak 30% dari 22 juta angkatan kerja di Jawa Barat adalah lulusan SMA/SMK. Sebab itu, menurutnya, kegiatan jobfair semacam ini adalah kegiatan yang sangat bagus untuk penyerapan angkatan kerja.

“Selain itu, ke depannya kita juga akan mengarahkan angkatan kerja untuk menjadi wirausaha,” kata Sofyan.

Pengangguran dari Kalangan Sarjana Meningkat

Suasana sebuah job fair ( Okezone)

Beberapa tahun belakangan ini tren pengangguran diklaim kian menurun. Memang, tingkat pengangguran tampak menurun, tapi sayangnya justru proporsi pengangguran dari pendidikan tinggi semakin besar. Tentu saja ini menjadi tanda tanya besar yang mesti bisa ditangani oleh pemerintah.

Menukil dari data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam 10 tahun terakhir, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia memang mengalami penurunan. Tercatat pada Februari 2007 tingkat pengangguran Indonesia 9,75% dan menurun menjadi 5,92% pada Februari 2013. Kemudian TPT Indonesia sempat fluktuatif hingga pada Februari 2017 jumlahnya menurun sebesar 5,33%.

Menurut data dari BPS, penurunan TPT terjadi lantaran adanya peningkatan pekerja di sektor informal sebesar 0,07% dibanding tahun sebelumnya.

Namun, sayangnya, menurunnya angka pengangguran secara umum justru tak sejalan dengan angka pengangguran lulusan perguruan tinggi yang meningkat. Ini menandakan proporsi pengangguran paling banyak kini diisi oleh lulusan sarjana, bukan lagi SMA atau yang sederajat.

Dimulai dari lulusan sarjana dengan TPT yang tercatat sebesar 7,1% pada Februari 2012, meningkat menjadi 8,7% pada Februari 2017. Sementara untuk lulusan diploma atau akademi juga menunjukkan tren peningkatan, yakni 3,3% pada Februari 2012 menjadi 3,6% pada Februari 2017.

Hal ini tentu harus menjadi perhatian oleh pemerintah bagaimana agar dapat mencetak lulusan sarjana yang mumpuni. Lebih lagi yang dapat menciptakan peluang kerja dibanding yang hanya mencari kerja.