Wakil President Jusuf Kalla (ThePresidentPost)
Berempat.com

Berkabar.ID – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengaku geram dengan kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump perihal rencananya untuk menaikan bea masuk untuk baja dan milenum.

JK mengaku geram dengan tindakan Donald Trump yang dianggap oleh pejabat dunia lainnya sebagai perang dagang.

“Perang dagang yang dibuat Trump makin jadi,” tuturnya di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Kamis (8/3/2018).

Seperti diketahui, Trump mengumumkan rencananya untuk menaikan bea masuk untuk baja hingga 25% dan alumunium 10%. Sontak rencana tersebut membuat negara mitra dagangnya seperti China merasa geram.

Tidak hanya itu saja, Trump juga menetappkan besaran bea masuk anti-dumping untuk produk biodiesel. Indonesia sendiri merupakan salah satu eksportir terbesar CPO sebagai bahan baku biodiesel.

Melihat sikap dan kebijakan Trump yang semakin menjadi. JK pun mengancam balik Trump dengan rencana akan menyetop arus impor kedelai dari AS.

“Kalau mereka melarang sawit kita masuk ke sana, kita juga akan larang kedelai mereka masuk ke sini. Kita bisa swasembada,” tegasnya.

Indonesia Setop Impor Kedelai 2020

Seorang petani memanen kedelai yang ditanam setahun sekali di ladangnya di Kecamatan Nglendah, Kulonprogo, Yogyakarta, Selasa (25/7). ANTARA/Regina Safri

Pemerintah melalui Kementerian pertanian (Kementan)  terus memacu swasembada pangan. Salah satu komoditas yang didorong untuk swasembada ialah kedelai.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi menjelaskan, Kementan menargetkan Indonesia tidak lagi impor kedelai pada 2020n mendatang.

“Dalam tahun ini kita masih impor kedelai. Targetnya mungkin 2020. Pokoknya kita batasi tiap tahun impor 2 juta ton kedelai,” ujarnya di JCC, Kamis (8/3/2018).

Menurut Agung, hal ini sesuai dengan Nawacita pemerintah yang ingin mewujudkan kedautalatan pangan. Ia pun mengatakan, beberapa komoditas yang ditargetkan bisa swasembada dan berdaulat dalam beberapa tahun ke depan, contohnya kedelai.

“Kedelai tidak banyak kok. Kita cuma butuh 2 juta ton kedelai dan untuk beras cuma 33 juta ton per tahun. Kecil sebenarnya. Jadi gapapa kita masih impor, tapi kita punya program 3 tahun ke depan kita sudah swasembada kedelai,” tandasnya.

Berempat.com