Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (poskotanews)

Berkabar.ID – Namanya dikait-kaitkan masuk sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2019, namun Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku tidak mau maju. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menegaskan tetap ingin fokus membenahi Jakarta lebih dulu.

No, no, no, no. Kan sekarang sudah ada calonnya. Ada Pak Jokowi, ada Pak Prabowo. Sudah selesai. Saya ngurusin Jakarta,” kata Anies di Lapangan Arcici, Rawasari, Jakarta Pusat, Minggu (11/3).

Sementara itu, di kesempatan yang sama Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengungkapkan akan tetap mengikuti arahan partainya, Gerindra bila nanti akan mengusung Anies.

“Saya menyerahkan mekanisme partai, bagi saya sami’na wa atho’na, saya ikut aja arahan,” ucap Sandi.

Elektabilitas Anies Baswedan Naik

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta. (KOMPAS.com/Nursita Sari)

Dalam survei Indo Barometer yang dirilis belakangan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memiliki tingkat keterpilihan 12,1 persen, sedangkan Jokowi 49,9 persen.

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari mengatakan, Anies Baswedan berpeluang menjadi penantang kuat Joko Widodo dalam pemilihan presiden 2019. Menurut Qodir, peluang itu ada jika Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tak maju jadi calon presiden.

“Jika nama Prabowo tidak masuk, Anies Baswedan bisa jadi kuda hitam, melawan Jokowi dalam pilpres mendatang,” ujar Qodari di Hotel Atlet Century, Jakarta, Kamis, 15 Februari 2018 lalu.

Ia menjelaskan, jabatan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI mampu mendongkrak elektabilitasnya dalam pencalonan presiden. Dia mengatakan salah satu kebijakan yang mendongkrak popularitasnya adalah rumah DP Rp 0.

Program DP Rp 0 milik Anies Baswedan dapat mengalahkan Prabowo pada angka survei dalam kompetensi mengatasi masalah rumah terjangkau. Sebanyak 9,4 persen responden menganggap Anies dapat menyelesaikan masalah perumahan. Sementara Prabowo hanya 8,1 persen.

Sebelumnya, Indo Barometer telah mengadakan survei di Indonesia pada 23-30 Januari 2018. Sampel yang digunakan sebanyak 1.200 responden dengan margin of error 2,83 persen pada titik kepercayaan 95 persen.

Metode yang digunakan ialah multistage random sampling kepada WNI yang memiliki hak pilih berdasarkan peraturan. Teknik pengumpulan data survei ini dengan melakukan wawancara tatap muka maupun menggunakan kuesioner.