Ilustrasi kopi. (shutterstock)

Berkabar.ID – Pemerintah Indonesia berkeinginan untuk menambah jumlah produksi kopi Tanah Air. Maka dari itu Kementerian Pertanian menyiapkan beberapa langkah untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, saat ini Indonesia berada di urutan keempat sebagai negara penghasil kopi terbesar di dunia yang sebelumnya berada di posisi ketiga.

“Sekarang Indonesia urutan keempat, dulunya urutan ketiga. Kalau bisa kembali ke urutan ketiga. Kuncinya kelembagaannya diperbaiki, kemudian akses perbankannya diperbaiki, produktivitas kita tingkatkan,” ujar Amran usai menghadiri pengukuhan Dewan Kopi Indonesia di Tangerang, Minggu (11/3).

Untuk dapat merealisasikan rencana tersebut, Amran berencana melakukan pertemuan dengan 41 pengusaha kopi yang nantinya akan membahas soal akses perbankan, penyederhanaan rantai pasokan, serta penyediaan 11 juta bibit kopi untuk tahun ini.

“Nanti kami panggil dan langsung MoU dengan perbankan. Apa masalahnya? Pertama rantai pasokannya, akses perbankannya, biaya untuk petani kemudian pendampingan, bibit unggul,” ujarnya.

Amran menyebut, Presiden Jokowi telah meminta pihaknya untuk menyiapkan bibit unggul kopi untuk ditanami.

Wilayah Luas, tapi Produksi Kopi Indonesia Kalah dari Vietnam

Pengurus Dewan Kopi Indonesia berfoto bersama Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Mentan Amran Sulaiman (Dok. MPR)

Selama tahun 2017 Indonesia sudah menghasilkan kopi kurang lebih 700 ribuan ton dengan penghasilan 0,7 ton per hektare. Angka ini masih kalah jika dibandingkan dengan Vietnam yang sanggup menghasilkan 3 hingga 4 ton per hektare-nya. Padahal, menurut Amran, dulu Vietnam belajar membudidayakan kopi dengan Indonesia.

“Dulu Vietnam berguru di Indonesia, mereka sekarang produksinya 3-4 ton per hektare, kita masih 0,7 ton per hektare,” ujar Amran.

Apabila tingkan produksi mampu ditambah, sambungnya, itu sudah cukup membuat Indonesia menjadi negara produsen kopi terbesar di dunia. Pasalnya, Amran mengklaim luas lahan INdonesia sama dengan Brasil, yakni 1,7 juta hektare.

“Kalau diangkat 3 ton per hektare hingga bisa 6 ton, bisa menjadi nomor satu di dunia. Itu mimpi besar kita,” ujar Amran.