Menteri Koordinasi bidang Perekonomian, Darmin Nasution. (krjogja.com)
Berempat.com

Berkabar.ID – Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan pemerintah akan segera mengambil langkah untuk menurunkan harga beras. Salah satunya dengan mengeluarkan beras impor yang sudah tersedia di gudang Bulog.

“Kami akan melakukan intervensi pasar selama masih ada beras dalam negerinya. Kalau enggak ada, kami pakai yang impor. Apa masalahnya? Emangnya itu mau disimpan-simpan,” ujar Darmin di Kantornya, Jakarta, Senin (19/3).

Penggelontoran beras tersebut dilakukan guna menekan harga beras jelang puasa dan Lebaran 2018. Hal tersebut diakuinya telah dikomunikasikan dengan pihak-pihak terkait.

“Saya sudah minta ke KSP (Kantor Staf Presiden) dan ke satgas. Itu adalah kewenangan Bulog, jangan digembok-gembok itu gudangnya. Kita mau menurunkan harga menjelang bulan puasa dan lebaran,” jelas Darmin.

Darmin menyebutkan, pemerintah tidak akan membatasi jumlah beras impor yang akan digelontorkan.

Ekonomi RI Diprediksi Tumbuh Stagnan di Kuartal I

Ilustrasi. (Shutterstock)

Selain itu, Darmin juga memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2018 tidak akan melebihi pertumbuhan ekonomi kuartal yang sama tahun lalu. Realisasi kuartal I-2017, ekonomi Indonesia tumbuh 5,01 persen.

“Untuk kuartal-I tidak bisa lebih tinggi dari tahun lalu. Ya, sudah bagus kalau sama,” ujar Darmin di kantornya, Jakarta, Senin (19/3).

Ia mengungkapkan, salah satu yang menjadi faktor penyebab pertumbuhan ekonomi stagnan adalah masa panen raya yang bergerak mundur ke bulan April. Meski begitu, ia menyebut pertumbuhan ekonomi justru akan membaik kembali di kuartal II-2018.

“Kalau dilihat pertanian memang panennya bergerak sedikit lagi ke depan. Jadi tahun lalu sebenarnya sudah kembali ke Maret, April, Mei dengan puncaknya malah tahun lalu Maret dengan April sudah sama-sama puncak,” kata mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) itu.

Bukan hanya mundurnya waktu panen raya, Darmin menyebut, faktor lain yang menjadi penyebab pertumbuhan ekonomi stagnan karena sektor kredit yang belum pulih.

“Kemudian indikator lain mungkin yang bisa dilihat adalah kredit. Pertumbuhan kredit memang belum pulih. Sehingga mungkin, saya enggak tahu ritel seperti apa situasinya,” tandasnya.

Berempat.com