Ilustrasi Pertamina (Natanael Pohan/Pacific Press/LightRocket)
Berempat.com

Berkabar.ID – PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga jenis Pertalite Rp 200 per liter pada Sabtu (24/3) kemarin. Hal semakin membuat jarak harga antara Pertalite dan Premium kian jauh.

Vice Presiden Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito menyebut, pihaknya sama sekali tidak khawatir jika masyarakat beralih kembali menggunakan Premium karena harga Pertalite naik.

“Tidak (kembali ke Premium), aman-aman saja,” kata Adiatma, di Kantor Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Senin (26/3).

Adiatma menilai saat ini masyrakat Indonesia sudah memahami standar kualitas bahan bakar yang dibutuhkan kendaraannya. Yakni kualitas yang baik di atas kadar Research Octane Number (RON) 88.

“Itu kan teman-teman pengguna sudah paham spesifikasi mesin,” ‎ujarnya.

Sebelumnya Pertamina telah berusaha untuk menahan agar harga tidak naik dan membebani masyarkat. Namun, harga bahan baku yang kian mahal memaksa Pertamina menaikan harga BBM.

“Ini pilihan berat, tapi kami tetap mempertimbangkan konsumen, dengan memberikan BBM berkualitas terbaik dengan harga terbaik di kelasnya,” dia menambahkan.

Adiatma  menjelaskan, kenaikan BBM dengan RON 90 itu secara periodik dilakukan Pertamina sebagai badan usaha. Pihaknya juga memberikan apresiasi kepada konsumen yang tetap memilih Pertalite sebagai bahan bakar bagi kendaraannya.

“Keputusan untuk menyesuaikan harga merupakan tindakan yang juga dilakukan oleh badan usaha sejenis. Namun, kami tetap berupaya memberikan harga terbaik bagi konsumen setia produk BBM Pertamina,” terang dia.

SPBU Lebih Tertarik Jual Pertamax Cs Dibanding Premium

SPBU Pertamina. (Tempo)

‎Pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang tergabung dalam Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas), mengaku lebih senang menjual Bahan Bakar Minyak nonsubsidi dibanding Premium.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hiswana Migas DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten Juan Tarigan, hal itu pun menjadi salah satu pertimbangan kenapa Premium dikurangi.

Pertimbangan lain yang diambil adalah para pengusaha SPBU lebih tertarik menjual BBM non subsidi ketimbang Premium dikarenakan keuntungannya.

Pengusaha memperolah Rp 180 per liter atas penjualan Premium, sedangkan BBM non subsidi Rp 277 per liter.

“Terkait dengan perolehan margin yang ada akhirnya memilih swiching dari Premium menjadi non subsidi,”  kata Juan di Jakarta, seperti dilansir Berkabar.ID dari Liputan6.com, Senin (26/3).

Di samping itu, pengurangan penjualan Premium khusunya di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten dikarenakan jumlah konsumen BBM dengan kadar RON 88 tersebut hanya tinggal 16 persen.

Ia menambahkan, kondisi ini semakin didukung dengan banyaknya varian BBM yang dijual PT Pertamina (Persero), sementara tangki timbun yang dimiliki SPBU terbatas, sehingga pengusaha memutuskan untuk mengurangi tangki penimpanan Premium.

 

Berempat.com