Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon. (Dok. DPR RI)
Berempat.com

Berkabar.ID – Wakil Ketua DPR Fadli Zon secara tegas menyebut Indonesia membutuhkan sosok pemimpin seperti presiden Rusia Vladimir Putin. Menurutnya, Putin merupakan sosok pemimpin yang berani hingga berwibawa.

“Kalau ingin bangkit dan jaya, RI butuh pemimpin seperti Vladimir Putin, berani, visioner, cerdas, berwibawa, enggak banyak ngutang, enggak planga plongo,” kata Fadli dikutip dari akun twitter resminya @fadlizon, Sabtu, (31/3).

Pernyataan Fadli ini sontak mendapatkan banyak tanggapan pro dan kontra dari berbagai kalangan.

Fadli memang terkenal cukup lantang dan keras kepada pemerintah, terutama Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia menyebut pemerintahan Jokowi memecahkan rekor pertumbuhan utang luar negeri.

Diungkap Fadli, selama 2,5 tahun masa pemerintahan Jokowi, Indonesia berhasil menambah jumlah utang sebesar Rp  Rp1.062 triliun. Pertambahan ini disebut Fadli hampir sama dengan jumlah utang periode kedua masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Ydhoyono (SBY) yang mencapai Rp1.019 triliun.

“Artinya, pertumbuhan utang pemerintah saat ini bisa dikatakan luar biasa. Sejak Indonesia merdeka, inilah rekor utang tertinggi,” kata Fadli, dalam keterangan tertulis, Rabu, 12 Juli 2017.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat itu merincikan jumlah utang Indonesia di masa pemerintahan Jokowi pada akhir 2014, mencapai Rp2.604,93 triliun. Tapi pada akhir Mei 2017, jumlahnya menyentuh Rp3.672,33 triliun.

“Di tengah defisit anggaran yang kian membesar, utang yang akan jatuh tempo pada 2018 dan 2019, jumlahnya juga cukup besar. Masing-masing mencapai Rp 390 triliun dan Rp 420 triliun,” ujarnya.

Politisi PSI Tantang Fadli Zon Ungkap Siapa Pemimpin Planga Plongo

Politikus PSI, Tsamara Amany

Ketua DPP PSI Tsamara Amany menantan Fadli Zon untuk menjelaskan siapakah pemimpin ‘Planga Plongo’ yang dimaksudnya. Jika cuitannya di Twitter tidak bermaksud menyinggung Presiden Jokowi, Tsamara mengatakan seharusnya Fadli Zon berani mengungkapkan siapa sosok yang dia maksud.

“Gini ajalah, Pak Fadli kan orang yang berani, terus siapa pemimpin ‘planga plongo’ yang dimaksud? Siapa, saya yakin Pak Fadli berani mengungkap siapa yang dimaksud oleh beliau,” katanya seperti dilansir Berkabar.ID dari Merdeka.com, Sabtu (31/3).

Selain itu, Tsamara juga mempertanyakan mengenai kekaguman Fadli Zon pada Putin. Sebab, ia menilai Putin bukanlah sosok yang layak untuk memimpin negara demokrasi, seperti Indonesia.

“Putin terkenal membiarkan korupsi yang terorganisir. Membungkam oposisi dengan cara yang kejam. Kita ini negara demokrasi,” tegasnya.

Tsamara mengingatkan Fadli bahwa saat ini Indonesia tengah gencar melakukan pemberantasan korupsi. Ia pun meminta Fadli selaku legislatif untuk memberikan contoh pada masyarakat soal pemimpin yang tepat.

“Walau enggak langsung mengarahkan kepada presiden kita. Saya yakin Pak Fadli beranilah mengungkap siapa sih yang ‘planga plongo’ itu,” tutupnya.

Sebelumnya, Wasekjen Gerindra Andre Rosiade menilai pernyataan Fadli Zon tidak bermaksud melecehkan kepala negara. Namun, Fadli cenderung memaparkan sifat positif putin yang patut ditiru. Andre pun meminta semua kalangan untuk tidak salah paham mengenai cuitan Fadli Zon di Twitter.

Seperti Apa Sosok Vladimir Putin Sebenarnya?

Presiden Rusia, Vladimir Putin (PAU168.COM)

Nama Presiden Rusia Vladimir Putin disebut-sebut Wakil Ketua DPR Fadli Zon sebagai sosok pemimpin yang tepat untuk memimpin Indonesia. Lalu, seperti apa sebenarnya sosok Putin yang sudah 18 tahun menjadi pemimpin Rusia?

Pria yang dijuluki ‘man of action’ itu lahir lahir pada 7 Oktober 1952 di Leningrad, yang kini bernama St Petersburg. Dia belajar jurusan hukum dan bergabung dengan KGB setelah lulus kuliah. Semasa menjadi agen KGB, Putin bertugas sebagai mata-mata di Jerman Timur. Pada 1990, dia menjadi staf khusus Wali Kota St Petersburg Anatoly Sobchak.

Putin, yang kini berusia 65 tahun, pertama kali menjabat Presiden Rusia pada 2000-2004. Seperti dikutip dari BBC dan France24, Sabtu (31/3), nama Putin mencuat setelah dia, yang menjabat Direktur Dinas Keamanan Federal Rusia (penerus KGB), ditunjuk menjadi Wakil Perdana Menteri, kemudian menjadi Perdana Menteri pada 1999, oleh Presiden Rusia saat itu, Boris Yeltsin.

Rusia dalam krisis serius, yang berdampak pada perekonomian pada musim gugur 1999, setelah terjadi pengeboman apartemen di Moskow dan sejumlah kota Rusia lainnya, yang menewaskan lebih dari 290 orang. Yeltsin saat itu sedang tidak sehat dan tidak sadarkan diri. Orang-orang dekat Yeltsin mulai putus asa mencari penggantinya. Mereka mencari sosok yang bisa menyatukan Rusia.

Sosok Putin menjadi pilihan setelah beberapa pekan pascapengeboman di Moskow, Putin merilis ancaman publik yang membuat sosoknya tertanam dalam hati rakyat Rusia. Ancaman itu ditujukan kepada kelompok militan Chechnya, yang dianggap bertanggung jawab atas pengeboman itu.

“Jika kita menangkap mereka di toilet, kita akan menghancurkan mereka,” demikian bunyi ancaman keras Putin saat itu.

Rakyat rusia tetap menerima secara baik bahasa kasar yang mengejutkan banyak pihak itu. Citranya sebagai pria tangguh pun mampu mencuri perhatian rakyat Rusia. Hal itu terbukti  saat ia menang mudah pada Pilpres 2000. Denga restu Yeltsin, Putin mencalonkan diri dan melontarkan janji untuk menjadikan Rusia kembali hebat.

Putin bahkan kembali menang pada Pilpres 2004. Pada periode pertama masa kepemimpinannya, nama Putin kian melejit dengan adanya pemasukan besar dari sektor minyak dan gas, yang menjadi ekspor utama Rusia. Bukan hanya itu, standar kehidupan sebagian rakyat Rusia pun ikut meningkat. Kebanggaan nasional dan stabilitas dirasakan rakyat Rusia. Namun, sebagai dampaknya, demokrasi Rusia mulai tergerus.

Pada Pilpres 2009, Konsititusi Rusia melarang Putin untuk menjabat pada periode ketiga. Ia lantas menjabat sebagai Perdana Menteri Rusia. Namun, pada 2012-2018, Putin kembali menjabat Presiden Rusia setelah menang pilpres. Dalam pilpres terbaru tahun ini, Putin menang telak 76 persen dan akan menjabat untuk periode keempat hingga 2024 nanti.

Berempat.com