Beberapa pekan terakhir, Facebook banyak menerima kecaman setelah diketahui mengalami kebocoran 87 juta data pengguna (RTE)
Berempat.com

Perusahan audit, Pricewaterhouse Coopers LLP (PWC) membersihkan privasi Facebook. Ini dimulai sejak konsultan analisis data Cambridge Analytica memperoleh akses ke data pribadi jutaan pengguna Facebook.

Melalui webnya, PwC kepada Federal Trade Commission (FTC) menyampaikan, Facebook telah menetapkan dan menerapkan program privasi yang komprehensif. Serta kontrol kerahasiaannya beroperasi dengan efektivitas yang cukup untuk memberikan jaminan yang wajar untuk melindungi privasi informasi tertutup pada Desember 2017.

Sebelumnya The Wall Street Journal melaporkan mengenai penilaian PwC yang diajukan ke FTC. PwC menolak berkomentar ketika dihubungi oleh Reuters, Kamis, (19/4).

Seperti dilansir Reuters, Jumat, (20/4), Facebook kini berada di bawah pengawasan anggota parlemen di seluruh dunia. Hal tersebut berlaku sejak bocornya informasi pribadi 87 juta pengguna Facebook.

Kebocoran data tersebut terjadi saat pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) yang dimenangkan Donald Trump 2016 lalu. “Kami tetap berkomitmen untuk melindungi informasi orang-orang. Kami menghargai kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dimiliki FTC,” kata Wakil Pejabat Privasi Facebook Rob Sherman, Kamis, (19/4).

CEO Facebook Mark Zuckerberg muncul untuk menjawab beberapa pernyataan di depan anggota parlemen AS pekan lalu didesak anggota parlemen Uni Eropa untuk datang ke Eropa. Ia diminta menjelaskan pelanggaran data yang melibatkan Cambridge Analytica.

Sumber: Jawapos.com

Berempat.com