Otak hewan babi (GettyImages)
Berempat.com

Para ilmuan kedapatan mampu menjaga otak hewan tetap hidup, meski sudah berada di luar dari tubuh hewan tersebut. Dengan kata lain, otak hewan tersebut diambil setelah sebelumnya hewan tersebut dimatikan untuk diambil otaknya.

Sebagaimana JawaPos.com lansir dari laman Mirror, Minggu (29/4), sekelompok ilmuan mampu menjaga otak hewan tetap hidup selama 36 jam sejak dikeluarkan dari tubuhnya. Hewan tersebut yakni babi yang berada di rumah potong hewan.

Para ilmuan yang melakukan eksperimen ‘gila’ tersebut dipimpin oleh ahli saraf dari Universitas Yale, Connecticut, Amerika Serikat (AS) bernama Nenad Sestan. Sestan bersama timnya telah bekerja di antara 100 dan 200 kepala hewan babi yang mereka peroleh dari rumah jagal.

otak hewan hidup, otak diawetkan
Ilustrasi : Otak yang diawetkan (PA)

Hasilnya, mereka mampu menemukan bahwa miliaran sel individu di otak hewan yang mati itu tetap sehat dan mampu melakukan aktivitas normal. Meski belum ada bukti bahwa otak kembali sadar, para peneliti mampu mengembalikan sirkulasi dengan sistem pompa, pemanas, dan suhu tubuh buatan.

Namun penelitian yang dipresentasikan di hadapan hadirin pada pertemuan di National Institutes of Health (NIH) di Maryland, AS, itu dinilai sebagai sesuatu yang membingungkan. Ketika ditanya lebih lanjut, Sestan menjawab dengan mengatakan bahwa dia tidak bermaksud agar pernyataannya menggemparkan publik.

“Otak-otak ini mungkin rusak, tetapi jika sel-sel hidup, itu adalah organ yang hidup,” kata Steve Hyman, direktur penelitian kejiwaan di Broad Institute di Cambridge, Massachusetts, yang merupakan seseorang yang mendapat penjelasan singkat tentang pekerjaan tersebut.

“Ini adalah pengetahuan teknis yang sangat ekstrem. Cara kerjanya tidak berbeda dari menjaga ginjal manusia agar tetap hidup supaya bisa digunakan di tubuh manusia lainnya,” katanya demikian.

Ilmu pengetahuan melibatkan pemulihan aliran oksigen ke pembuluh darah kecil yang terkubur jauh di dalam otak. Secara teoritis, itu juga menantang gagasan tentang kematian dan bisa memiliki dampak besar bagi mereka yang mengalami cedera otak.

Kendati Sestan bersama timnya mampu membuat otak hewan tetap hidup di luar tubuhnya, isu kedokteran tentang mencangkokkan otak manusia ke tubuh baru, disebutnya tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Namun Sestan menjawab bahwa penelitian yang sedang berlangsung itu bisa menyebar di luar hewan babi. Berbicara kepada NIH, Sestan mengakui bahwa teknik itu tidak unik untuk babi dan mungkin juga akan dilakukan pada primata yang notabene memiliki kemiripan struktur saraf dengan manusia.

Sumber: Jawapos.com

Berempat.com