Universitas Brawijaya kerja sama dengan intelijen. (radarmalang.id/Falahi Mubarok)

Pantauan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyebut fakultas eksakta dan kedokteran di Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme, merupakan pukulan telak bagi kampus ini. Terlebih, dari sejumlah wawancara wartawan koran ini ke eks korban radikalisme, memang ada pergerakan paham radikalisme di salah satu kampus terbesar di Indonesia ini.

Terkait hal tersebut, Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr M. Bisri MS sudah melakukan langkah internal dan eksternal untuk membendung radikalisme di kampus ini. Untuk pihak eksternal, kampus ini bekerjasama dengan intelijen.

Hal itu disampaikan Bisri usai acara Rapat Pimpinan Nasional (rapimnas) Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di gedung widyaloka UB.

”Kalau dari internal, sudah memperkuat karakter moralnya, di masjid-masjid kami sudah ada penguatan karakter bagi mahasiswa, “ ujar Bisri.

Selain itu, Bisri menjelaskan ada mata kuliah yang sudah dirancang dengan memasukkan poin-poin Pembinaan Karakter Berbasis Religi (PKBR). PKBR sendiri, merupakan pembinaan kepribadian yang berhubungan dengan keagamaan. Hanya saja, implementasinya tidak selalu berhubungan dengan ketuhanan.

PKBR sendiri, menurut Bisri juga membantu mahasiswa membentuk kepribadian profesional.

”Mata kuliah ini sudah dipetakan dengan baik, fokusnya untuk mahasiswa banyak,” imbuh rektor yang akan mengakhiri massa jabatannya 10 Juni mendatang ini.

Sedangkan untuk penanganan eksternal, menurut Bisri UB sudah berkoordinasi dengan pihak intelijen. Secara tegas, ia meminta bantuan intel untuk melihat pergerakan mahasiswa di luar UB.

”Biasanya ketika ada mahasiswa yang meresahkan, intel yang menghubungi saya langsung,” ucap mantan dekan fakultas teknik (FT) UB ini.

Bisri menambahkan, internal rektorat mengawasi kegiatan mahasiswa juga tidak memungkinkan. Mengingat, jumlah mahasiswa ada lebih dari belasan ribu, tentunya harus ada pihak lain seperti intel yang membantu mereka.

”Lagipula, anak-anaknya begitu licin, susah juga. Jadi nanti koordinasi dengan wakil rektor (WR) III untuk masalah ini,” tambahnya.

Masalah organisasi atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ditengarai bisa jadi salah satu masuknya radikalisme, juga sudah dipantau. Begitu pula organisasi ekstra kampus (omek) juga ikut diawasi.

”Ada Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu kelihatan dan mereka tidak ada masalah,“ kata Bisri.

Bagi Bisri, yang tidak terdeteksi mereka yang begerak dengan sembunyi-sembunyi. Terutama pihak-pihak yang tidak terorganisir, atau bergerak secara individual juga susah dipantau oleh rektorat. Dulu sempat akan melarang satu organisasi yang dianggap radikal untuk tidak melakukan kegiatan terbuka di UB, sayangnya masih alot.

”Kalau sekarang sudah dilarang juga oleh pemerintah, jadi lebih enak pengawasannya,” imbuhnya. Dengan demikian, kemungkinan besar yang dimaksud Bisri adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dibubarkan pemerintah.

Diberitakan sebelumnya, berdasarkan rilis pejabat BNPT, Dari data BNPT, ada tujuh kampus yang diduga kuat menjadi lahan subur tumbuhnya paham radikalisme. Yaitu, Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB).

Berdasarkan wawancara koran ini ke sejumlah eks mahasiswa yang berpaham radikal, pergerakan radikalisme di kampus ini memang ada dan nyata. Mula-mula, kelompok radikal mengajak mahasiswa berdiskusi. Setelah itu, mereka dimasukan ke grup telegram.

Di grup ini, banyak diskusi tentang negara Islam dan banyak dipertontonkan pemenggalan orang dengan sadis. Mereka yang ikut radikalisme ini, umumnya diminta untuk menentang negara demokrasi dan pancasila.

Sumber: Radarmalang.id