Bank Indonesia. (Bloomberg)

Salah satu perusahaan pengembang properti, PT Intiland Development Tbk. (DILD) memberikan apresiasi terhadap Bank Indonesia (BI) terkait relaksasi aturan rasio nilai kredit terhadap aset (loan to value/LTV) di sektor perumahan. Pasalnya, pelonggaran aturan tersebut diyakini dapat membawa angin segar serta dampak positif bagi industri properti Tanah Air. Apalagi saat ini suku bunga tengah meningkat.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono mengatakan, aturan tersebut dapat memberikan fleksibilitas bagi konsumen untuk menetapkan uang muka kredit.

“Kami mengapresiasi kebijakan tersebut karena bisa menjadi stimulus untuk pertumbuhan pasar properti. Konsumen tentunya sangat terbantu dengan keluarnya aturan tersebut,” ujar Archied dalam keterangan tertulisnya, Senin (23/7).

Kendati demikian, sampai dengan semester I-2018 Archied mengakui secara umum pasar properti belum bergerak secara normal. Namun, Intiland akan terus memantau setiap perubahan yang terjadi pada industri properti, baik secara makro maupun sektoral. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkirakan dampak perubahan dan menyiapkan strategi yang tepat untuk mengantisipasinya.

“Kami akan bekerja sama lebih jauh kembali dengan pihak perbankan selaku pemberi kredit untuk memberikan penawaran menarik bagi konsumen, sekaligus dalam rangka meningkatkan kinerja penjualan tahun ini,” ungkap Archied lebih lanjut.

Sebelumnya, BI resmi mengumumkan aturan relaksasi LTV pada 29 Juni lalu dan akan mulai berlaku pada 1 Agustus 2018. Adapun relaksasi LTV tersebut mengandung 3 poin, yakni pelonggaran rasio LTV untuk kredit properti dan rasio FTV (financing to value) untuk pembiayaan properti; pelonggaran jumlah fasilitas kredit atau pembiayaan melalui mekanisme inden; dan penyesuaian pengaturan tahapan dan besaran pencairan kredit atau pembiayaan.

Berempat.com

Pelonggaran LTV tersebut diambil sebagai langkah BI dalam meningkatkan daya beli masyarakat di tengah langkah BI mengetatkan ekonomi.

Archied sendiri mengungkapkan bahwa Intiland optimis dalam menyambut semester II tahun ini. Apalagi, pada semester I-2018 Intiland telah membukukan peningkatan pendapatan penjualan (marketing sales) sebesar 40% atau menjadi Rp 1,3 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, Intiland hanya mencatatkan pendapatan penjualan sebesar Rp 919 miliar.

Archied pun mengungkapkan, peningkatan pendapatan penjualan tersebut masih ditopang oleh penjualan dari proyek baru, seperti pengembangan terpadu Fifty Seven Promenade dan dari penjualan unit-unit properti hunian.

“Kondisi pasar properti secara umum masih cukup berat dan menantang. Namun, sepanjang triwulan kedua tahun ini kami masih membukukan penjualan cukup baik pada produk hunian, seperti perumahan dan apartemen,” ujar Archied.

Sumber: Berempat.com