Gas elpiji 3kg. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

Berkabar.id – Sejumlah wilayah di Indonesia tengah mengalami krisis gas elpiji 3 kilogram (kg) subsidi atau sering disebut gas melon. Contohnya sejumlah wilayah di Jakarta seperti Lenteng Agung, sudah mengalami kelangkaan elpiji 3kg sejak April 2017 lalu.

Terbaru, Di wilayah Depok dan Bogor, kelangkaan sudah terjadi dalam beberapa hari kebelakang. Salah satu pemilik agen gas di perumahan Poin Mas, Talih (50) menjelaskan kelangkanan gas 3kg di depok memang langka namun tidak separah di daerah-daerah lain.

“Sebenarnya kalau langka banget ya tidak, setiap hari dapat pasokan 200 tabung, itu dikurangi dulu lebih dari itu. Satu tahun bisa 18.000 tabung tapi sekarang hanya dijatahkan 10.000 tabung,” kata Talih saat berbincang dengan detikFinance seperti dikutip Berkabar.id, Kamis (7/12/2017).

Ia juga menjelaskan, setiap pangkalan sudah memiliki jatah masing-masing yang sudah ditentukan Pertamina. Namun Talih pun mengaku tak mengetahui apa alasan penyebab penjatahan tersebut. Sebagai mitra, ia hanya bisa menuruti aturan yang diberlakukan Pertamina.

Talih menuturkan, untuk harga per tabung tidak mengalami perubahan. Ia mengaku tetap menjual dengan harga yang sudah ditentukan Pertamina, yakni Rp 16.000.

“Iya saya dengar di daerah lain harga bisa Rp 19.000 sampai Rp 22.000, mungkin itu bukan di pangkalan ya, tapi warung-warung kecil yang mengambil di pangkalan terus dijual lagi,” ujarnya.

Untuk wilayah bogor, kelangkaan gas ukuran tiga kilogram menyebabkan warga Bogor harus mengantre berjam-jam di agen penjualan yang jaraknya jauh dari rumah mereka.

Kelangkaan gas 3kg ini juga berakibat meningkatnya jumlah permintaan yang menyebabkan melonjaknya harga eceran gas 3kg tersebut, yakni terpantau mencapai Rp 24.000 per tabung gas.

Beberapa hari sebelumnya, muncul penampakan tabung gas elpiji 3kg warna pink (merah muda), atau Bright Gas 3 kg nonsubsidi di Tangerang dan Tangerang Selatan.

Hal itu pun lantas menimbulkan gejolak di masyarakat yang beranggapan Pertamina akan mengganti elpiji subsidi dengan nonsubsidi. Meski sebelumnya PT Pertamina menyatakan Bright Gas 3kg nonsubisidi hanyalah tes pasar.

Lantas, apa yang menyebabkan terjadinya kelangkaan elpiji 3kg?

Ditemui usai acara peresmian Stasiun Pengumpul Gas Paku Gajah dan Kuang di Muara Enim, Sumatera Selatan, Rabu (6/12) kemarin, Direktur Hulu PT Pertamina Syamsu Alam menjawab pertanyaan mengenai kelangkaan elpiji 3kg.

Menurut Syamsu, untuk elpiji Pertamina harus melakukan impor. Karena saat ini sebagian besar gas produksi Pertamina EP adalah gas kering (metan) atau jenis c1 dan c2. Sementara untuk elpiji adalah gas basah atau komposisi c3 dan c4.

Syamsu mengungkapkan, elpiji 3kg subsidi ini sangat sulit dipertahankan di Pertamina lantaran harus melakukan impor, selain itu masalah distribusi dan masalah siapa yang berhak pakai juga masih belum jelas.

“Sebetulnya yang harus dikejar pemerintah adalah gas pipa atau jaringan gas (jargas) perkotaan. Problemnya ya harus bangun infrastruktur pipa gas. Kalau elpiji itu harusnya jangka pendek peralihan dari minyak tanah saja,” paparnya seperti dikutip Berkabar.id dari Kompas.com.

Di kesempatan berbeda, pengamat energi dari Center for Energy and Food Security Studies (CEFSS), Ali Ahmudi menyoroti kelangkaan elpiji 3 kg subsidi yang saat ini terjadi. Menurut Ali, dari sisi produksi kemampuan Indonesia untuk memproduksi elpiji 3kg hanya sebesar 1,4 juta metrik ton. Sementara kebutuhan yang ada sebesar 5 juta metrik ton.

Lebih dari 3 juta metrik ton, masih impor. “Dengan berfokus pada subsidi yang bersifat konsumtif, kebutuhan terhadap elpiji impor juga akan semakin besar,” katanya.

Dan untuk mengganti elpiji dengan LNG ataupun CNG dinilai tidak mudah meski sama-sama berasal dari sumber minyak dan gas bumi. Lantaran masing-masing memili karakter yang berbeda. “Menggantikan elpiji dengan CNG atau LNG tidak gampang. Butuh teknologi dan biaya yang lebih,” terangnya.

Maka dari itu ia menyarankan pemerintah untuk mencari alternatif elpiji dengan sumber enegeri yang lebih mudah, misalnya melalui karingan gas pipa ataupun biomassa.

Editor: R. Shandy