Berkabar.ID – Mengemis sebenarnya hanya pantas dilakukan oleh sebagian orang yang benar-benar tak bisa bekerja sehingga hidup dalam kemiskinan. Mereka terpaksa menanti welas kasih orang lain agar bisa mendapatkan uang hanya untuk sesuap nasi. Karena itu kegiatan mengemis pun identik dengan sesuatu yang hina bagi mereka yang masih mampu bekerja tapi lebih memilih mengemis.

Namun zaman seperti sekarang ini, mengemis telah dijadikan sebagai suatu pekerjaan yang justru dilakukan oleh mereka yang masih berfisik sehat dan masih bisa bekerja. Kendati pun ada yang sampai berpura-pura cacat. Tapi mereka melakukan itu bukan tanpa sebab. Pasalnya, keuntungan yang didapat seseorang dari mengemis sangatlah besar.

Seperti halnya di kota besar Jakarta, banyak sekali pengemis yang terjaring razia petugas, dan setelah digeledah ternyata mereka kedapatan membawa emas hingga uang sampai puluhan juta rupiah. Dan masih banyak lagi kasus yang serupa yang pernah terjadi.

Dan ternyata hal semacam itu bukan hanya di Jakarta, tapi juga di India. Ada seorang pria bernama Chhotu Baraik yang mengemis untuk menambah modal usaha. Bukan untuk membeli sesuap nasi karena kelaparan belum makan seharian.

Dilansir Gulf News, Rabu (10/1), Baraik menjalankan bisnisnya sebagai distributor sebuah perusahaan terkemuka. Perusahaan distributor ini dibangun dari uang hasil mengemis tiap pagi hari. Penghasilan mengemis Baraik ini bisa sampai Rs 30.000 (rupee India) atau sekitar Rp 6,3 juta per bulan. Angka yang tidak sedikit untuk seorang pengemis.

Pria berusia 40 tahun asal Chakradharpur, negara bagian Jharkand, India ini ternyata penyandang disabilitas. Hal inilah yang dia pergunakan untuk menarik belas kasihan orang-orang di sekitarnya yang melihat dia sedang mengemis.

Setelah Baraik memiliki toko perabotan yang dikelola istri pertamanya dan menjadi distributor peralatan kesehatan ternama di India, pendapatannya melonjak hingga 1 juta rupee atau lebih dari Rp 200 juta sebulan. Dan yang lebih menghebohkan lagi, Baraik mempunyai tiga orang istri. Dia juga bisa menggaji dua puluh orang karyawan yang menjalankan bisnisnya.

“Istri pertama saya mengelola toko perabotan. Pemasukan dari mengemis dan bisnis pemasaran saya bagikan rata kepada ketiga istri. Sehingga tak ada perselisihan di antara mereka,” tambah dia. Baraik merasa bersyukur punya tiga istri yang bisa hidup rukun meski tinggal dalam satu rumah.

Baraik tetap menjalankan pekerjaan mengemisnya di pagi hari, dan akan mengganti pakaiannya di malam hari untuk menjadi pengusaha. Meski kini sudah amat mapan secara ekonomi, ia mengaku belum akan “pensiun” mengemis.