Uber Motor - Vlog Arief Muhammad

Berkabar.ID – Seiring dengan maraknya penggunaan media sosial untuk keperluan marketing, selain memanfaatkan Google ads, Facebook maupun Instagram ads, endorsement pun kini menjadi salah satu pilihan utama bagi para marketer. Sebab itu SociaBuzz.com selaku direktori dan marketplace influencer pertama di Indonesia melakukan sebuah riset bertajuk, The State of Influencer Marketing 2018 in Indonesia: Kupas Tuntas Tren Pemasaran Endorse.

Dalam laporannya, ditemukan bahwa marketer lebih kepincut menggunakan selebriti internet ketimbang artis papan atas untuk keperluan endorse. Selebriti internet yang dimaksud mencakup selebriti Instagram (Selebgram), YouTuber, Blogger, Vlogger, dan penggiat media sosial lainnya. Perbandingan persentase keduanya pun terpaut jauh, yakni 59% responden memilih selebriti internet, sedangkan kalangan artis hanya 22,9%, dan macro influencer atau pemilik akun dengan dua-lima ribu followers yang hanya 14,5%.

Menurut CEO & Co-Founder SociaBuzz.com, Rade Tampubolon, hasil riset tersebut membuktikan bahwa ketenaran seseorang bukan lagi hal utama yang dipertimbangkan oleh marketer dalam ranah media sosial marketing.

“Sekarang marketer bisa memilih influencer dengan karakteristik dan keunikan tertentu sesuai dengan strategi komunikasi dan pemasaran yang ingin dijalankan,” terang Rade dalam keterangan tetrulisnya yang diterima Berkabar.ID, Senin (12/2).

Sejalan dengan hasil tersebut, temuan lain yang didapatkan dalam riset ini yaitu adanya faktor engagement rate atau tingkat keterlibatan dan interaksi followers di media sosial yang lebih dilirik oleh marketer ketimbang ketenaran influencer di dunia nyata. Perolehan persentase engagement rate ini mencapai 69,9%.

Pertimbangan kedua yang dilihat marketer ialah karakter atau gaya hidup influencer (53%), disusul jumlah followers (50,6%), kualitas konten (47%), dan pertimbangan lainnya (2,4%).

Marketer lebih banyak menggunakan Instagram dalam memanfaatkan Influencer Marketing. (SociaBuzz.com)

Sementara itu, Instagram menjadi media sosial yang paling laris digunakan marketer untuk bekerja sama dengan influencer (98,8%). YouTube di peringkat kedua dengan 41%, blog di urutan ketiga dengan 28,9%, sedangkan Twitter di peringkat 4 dengan 26,5%, dan Facebook di urutan ke-5 dengan 19,3%.

SociaBuzz.com melakukan riset kepada 83 responden yang berkecimpung di bidang marketing, 70% responden berasal dari merek atau klien besar, 18% dari pihak agency, 8% dari kalangan start-up, dan 4% dari pemilik online shop.

Peran Influencer Dinilai Lebih Efektif pada Strategi Pemasaran Digital

Berdasarkan hasil riset SociaBuzz.com, influencer marketing sendiri bukan menjadi pilihan utama dalam strategi pemasaran digital. Diketahui influencer marketing hanya berada di urutan ketiga dengan persentase 65,1%. Sementara itu social media marketing memiliki persentase yang sama dengan content marketing (69,9%).

Namun, menurut Rade, influencer marketing memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan cara pemasaran digital lainnya. Pasalnya, terang Rade, dikarenakan promosi dilakukan oleh orang-orang yang memiliki banyak pengikut yang sudah percaya dan suka dengan mereka. Sebab itu, segala pesan yang disampaikan akan lebih mudah diterima, tentu saja.

Hal senada pun diutarakan oleh Head of Digital Strategy Sun Life Financial Indonesia, Hera Laxmi Devi. Ia menuturkan bahwa influencer marketing merupakan salah satu instrumen penting dalam menjalankan promosi atau kampanye merek.

“Karena sifatnya yang soft selling dan bersifat persuasif, serta dapat memengaruhi audiens dengan cara yang halus. Influencer marketing bisa lebih efektif dibanding iklan berbayar yang hard selling,” terangnya dalam keterangan tertulis yang diterima Berkabar.ID, Senin (12/2).

Awakarin Endorse – (Instagram)

Pada hasil riset tersebut, sebanyak 83% responden pun merasa bahwa influencer marketing sangat efektif dalam strategi pemasaran digital. Sebab itu, mereka berencana untuk meningkatkan anggaran khusus pemasaran dengan influencer di tahun 2018 ini.

Namun, seberapa pun efektifnya pemasaran dengan memanfaatkan influencer tetap saja ada beberapa tantangan yang mesti dihadapi oleh para marketer. Salah satunya, sambung Hera, adalah kecocokan antara influencer dengan merek yang diwakili.

“Tantangannya adalah bagaimana memilih influencer yang tepat sesuai dengan kepribadian merek yang diwakili dan memiliki kredibilitas, serta kemampuan mempengaruhi rupa sehingga dapat mempengaruhi followersnya,” terangnya.

Sementara menurut Marketing Communication Blibli.com, Nicky Sebastian, influencer marketing bukanlah jenis pemasaran yang instan, melainkan harus terus menerus dilakukan.

“Anda tidak dapat melakukan kolaborasi instan yang dapat membawa dampak signifikan terhadap produk atau merek,” terang Nicky dalam keterangan di hari yang sama.

Menyadari betapa penting dan adanya tantangan bagi sebuah merek untuk mendapatkan influencer marketing yang cocok, Rade pun bertekad untuk meletakkan SociaBuzz.com sebagai solusi para marketer.

“Misi kami di SociaBuzz.com adalah untuk membantu para marketer dan bisnis menjalankan influencer marketing dengan baik untuk mencapai tujuan pemasaran secara maksimal,” pungkasnya.