Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc/16.
Berempat.com

Perlemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang banyak dikhawatirkan masyarakat luas rupanya tak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Bahkan di tengah gejolak perekonomian global pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2018 tumbuh menyentuh angka 5,27%.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan kuartal II 2017 yang sebesar 5,01 persen. Meski pertumbuhan ini masih berada dibawah target pemerintah mencapai 5,4% namun masyarakat perlu mengaspresiasi berbagai langkah pemerintah mendongkrak pertumbuhan ekonomi berada diatas negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan pihaknya bersama kementerian/lembaga menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global yang menimbulkan ketidakpastian dalam beberapa waktu ke depan.

“Jadi, yang akan mendapat tekanan paling besar dari gejolak global ini adalah investasi, karena akan dapat tekanan suku bunga naik, tekanan bahan baku dan barang modal yang diimpor meningkat,” kata Sri Mulyani beberapa waktu lalu.

Berbagai langkah yang dilakukan pemerintah seperti investasi dengan stimulus dari berbagai bentuk insentif, mengendalikan atau mengurangi impor agar target pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa tercapai.

Selain itu relaksasi yang dilakukan Bank Indonesia turut mendongkrak permintaan kredit sekaligus mengkompensasi kenaikan suku bunga. Bank Indonesia sebelumnya menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Repo Rate 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen.

“Kami memberikan insentif investasi. Itu semua supaya kami bisa melindungi momentum dari investasi walaupun menghadapi berbagai tekanan, bisa dapat kompensasi dari pemerintah,” ujar Sri Mulyani.

Pemerintah menjelaskan bahwa harga dollar yang hampir mencapai Rp 15.000 beberapa waktu lalu diakibatkan oleh berbagai faktor yang berasal dari Amerika Serikat. Faktor itu misalnya kenaikan suku bunga, likuiditas dollar yang diperketat, kebijakan fiskal yang ekspansif, dan adanya kebijakan perang dagang yang diterapkan Presiden AS Donald Trump.

Bukan hanya Indonesia yang mengalami dampak kebijakan ekonomi Amerika ini, namun seluruh negara di dunia, khususnya negara berkembang dan negara emerging atau menuju maju.

Berempat.com