Foto : Toni Suhartono/Indopos
Berempat.com

Terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika hingga diatas Rp 15.200/US$ telah diprediksi jauh-jauh hari pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy.
 
Dalam diskusi tentang RAPBN 2019 di Media Centre DPR-RI akhir September lalu ia menyampaikan nilai tukar rupiah akan tembus di atas Rp15.000 per USD1.Jelas bukan merupakan kebahagiaan saat prediksi negatif menjadi kenyataan.

“Prediksi yang bertujuan agar kita waspada dan segera mengambil sikap antisipatif itu disebabkan fundamental makro kita memang rapuh,” katanya.

Noorsy menyebut ambang batas psikologis dilampaui karena rupiah terus melemah. Padahal the Fed akan kembali menaikkan suku bunganya mendekati akhir tahun 2018.

Ambang batas psikologi adalah petunjuk batas kekuatan atau kelemahan yang dapat diterima oleh kondisi psikologi.

Dalam konstruksi ambang batas psikologi tentang rupiah melemah, maka Rp15.000 adalah batas kelemahan yang optimal.

Jika rupiah terus melemah, maka kondisi psikologis masyarakat sulit menerima kejatuhan itu.

“Artinya, tingkat kepercayaan masyarakat memburuk terhadap rupiah yang menjadi salah satu ukuran kekayaan dan kemiskinannya dan alat tukarnya, ” jelas Noorsy.

Efek memburuknya kepercayaan masyarakat ini memberi gambaran bahwa ada yang salah dengan sistem ekonomi. Kendati Pemerintah mengumumkan pengangguran menurun, kemiskinan menurun, gini rasio membaik, pertumbuhan ekonomi 5,23%, tapi pemerintah juga menghadapi defisit transaksi berjalan (3% terhadap PDB), defisit anggaran, defisit keseimbangan primer (untuk bayar bunga utang, pemerintah harus membuat utang baru), serta defisit neraca pembayaran USD4,3 miliar pada kuarta II 2018.

Cadangan devisa pun tergerus dari USD 130 miliar di awal tahun ini menjadi USD117,9 miliar, setara dengan 6,8 bulan impor atau 6,6 bulan impor dan pembayaran utang. Dua hari lalu, lelang SBN dari Rp50,11 hanya diserap pasar Rp20T setelah BI menaikan suku bunganya menjadi 5,75%.

Angka-angka itu membuktikan krisis kepercayaan itu terus merayap masuk ke dalam persepsi publik.

Berempat.com