Foto : Central XCapital Futures
Berempat.com

Keputusan gamang pemerintah yang sempat menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dari Rp 6.550 menjadi Rp 7.000/liter yang dibatalkan satu jam kemudian disebut miss komunikasi saja.

Menurut Ekonom Energi UGM Fahmy Radhi jika saat ini harga minyak dunia masih USD 83 Pertamina masih mampu tanpa harus menaikkan Premium. Namun ia mnejelaskan jika harga miny ak sudah USD 100 (per barel), maka bebannya akan berat sekali baik Pertamina atau APBN.

“Saat harga minyak dunia telah menyentuh USD 100 per barel, ini akan menjadi beban Pertamina jika harga BBM bersubsidi (Premium dan Solar) tidak disesuaikan. Pertamina akan menanggung dana subsidi terlalu besar. Di sisi lain, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga akan membengkak.,” ucapnya saat Diskusi Publik di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (13/10).

Sementara itu, Direktur Eksekutif Economic Action (Econact) Indonesia Ronny P Sasmita menambahkan, pemerintah harus menyiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi tren harga minyak dunia yang tinggi dan imbasnya pada rupiah. Lantaran adanya risiko tambahan seperti beban defisit transaksi berjalan yang kian lebar dan akan berdampak pada pelemahan rupiah.

“Risiko lainnya, defisit minyak diperkirakan akan kian lebar yang akan membuat defisit transaksi berjalan bisa menembus 3,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kondisi tersebut akan menjadi faktor pendorong arus keluar modal asing yang akan membuat nilai tukar rupiah berpotensi melemah ke kisaran Rp 16.000-Rp 16.500 per dolar AS,” ucapnya.

Asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar USD 48 per barel. Sementara saat ini harga minyak dunia naik menjadi USD 83 per barel, bahkan berpotensi hingga USD 100 per barel.

Untuk itu, kata Ronny, ada dua pilihan bagi pemerintah untuk menekan selisih harga minyak mentah dunia. Pertama menaikkan harga jual BBM (Premium) lalu kedua menambah subsidi energi, terutama untuk Pertamina dan PT PLN (Persero).

Berempat.com