Berempat.com

Harga karet menunjukkan tren penurunan sejak akhir Januari 2017 setelah mencapai puncaknya di 367 yen/kg. Para petani karet mulai menjerit akibat jatuhnya harga karet dunia.

Pada perdagangan, Selasa (27/11) harga karet dengan standard Ribbed Smoked Sheet (RSS) untuk kontrak berjangka 1 bulan ke depan ditransaksikan naik 0,43% menjadi 137,7 yen/kg dari penutupan sehari sebelumnya.

Harga karet menunjukkan tren penurunan sejak akhir Januari 2017 setelah mencapai puncaknya di 367 yen/kg. Setelah itu, harga karet terus turun dan sepanjang tahun ini telah menyusut lebih dari 33% (ytd).

Ketidakpastian global dampak kenaikan suku bunga serta ancaman perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok telah memicu jatuhnya harga karet dunia. Kekhawatiran tersebut kian menguatkan perekonomian global akan mengalami perlambatan sehingga berdampak terhadap permintaan karet dunia, terutama dari Tiongkok.

Seperti diketahui, Indonesia merupakan produsen karet terbesar kedua di dunia dengan produksi 2,99 juta ton atau sekitar 27,4% produksi rata-rata karet dunia. Sehingga turunnya harga karet dunia akan memukul pendapatan para petani karet. Sementara Thailand tercatat sebagai negara dengan produksi karet terbesar di dunia, yakni mencapai 3,88 juta ton atau sekitar 35,44%.

Mantan Menko Kemaritiman, Ruzal Ramli menyorot akan anjloknya harga karet. “Kasihan petani karet kita, Mayoritas adalah produksi karet rakyat,” jelasnya.
.
Rizal Ramli memyarankan produktifitas karet Indonesia hanya 50% dari Malaysia dan Thailand karena bibit kwalitas dan teknik tanam. Pemerintah disarankan untuk memberi kredit replanting dgn bibit unggul dan bantuan tehnis sejenis pola BIMAS
.
Kedua, pemerintah RI mengambil inisiatif bikin sejenis OPEC utk kerek harga di pasar international. Indonesia, Malaysia dan Thailand menguasai 70% pasar karet dunia. Dengan market power sebesar itu, harga karet bisa dikerek naik
.
Kebijakan pro-petani karet ini lebih penting dari Paket Ekonomi no. 16 yang cacat konsep (flawed concept) yg merugikan UKM dan menghilangkan potensi nilai tambah budiness internet dan online untuk rakyat Indonesia dikemudian hari
.
“Memang ada teka-teki, ketika krisis ekonomi 1998, kurs Rupiah anjlok dari 10.000 ke 15.000, petani karet, kopra, sawit, coklat diluar Jawa gembira mendadak kaya. Tahun 2018, rupiah anjlok, harga komoditi juga anjlok, sangat metugikan petani karet, kopra, sawit, coklat dll. Harus ada terobosan,” tulis Rizal Ramli di akun facebooknya.

Berempat.com