Berempat.com

Impor berbagai bahan pangan yang seolah tak kunjung usai di era pemerintahan Jokowi berdampak langsung pada tingkat kepercayaan masyarakat khususnya petani di pedesaan.

Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDem), Syafti Hidayat mengatakan, kebijakan impor pangan sangatlah merugikan petani karena diterbitkan pada masa panen raya. Petani pun tidak diuntungkan karenanya.

“Itu (impor pangan) menyengsarakan petani,” ujar Syafti

Saat debat pertama Kamis malam, Calon Presiden 02, Prabowo Subianto mengaku bingung dengan perbedaan data pangan yang disajikan pemerintah. Pasalnya, kementerian terkait tidak memiliki data yang sama dalam menentukan kebiajakan impor khususnya impor pangan beras dan gula.

Misalkan data dari Kementerian Pertanian dan Perum Bulog menyebutkan Indonesia tidak perlu impor. Namun di sisi lain, Menteri Perdagangan malah mengimpor pangan dengan jumlah yang banyak.

Jokowi menegaskan, perbedaan pendapat di antara menteri merupakan hal yang biasa. Bahkan dia mempersilakan hal itu terjadi. Tapi Jokowi menggarisbawahi, bahwa dalam sebuah rapat telah diputuskan suatu keputusan, maka semua akan menaatinya.

Terkait itu, kata Syafti, Jokowi secara tak langsung sudah mengakui bahwa dirinya telah melakukan impor pangan. Dengan demikian diyakininya pada Pilpres nanti, mayoritas petani tidak akan memilih paslon 01.

“(Pernyataan Jokowi itu) sangat berpengaruh. Dukungan kaum tani di pedesaan kepada Jokowi akan merosot tajam,” pungkas aktivis yang akrab disapa Uchok ini.

Berempat.com