Berempat.com

Rencana Jokowi membuka perusahaan lain menyediakan avtur untuk pesawat di Bandara Soekarno Hatta yang dinilai lebih mahal dari bandara lainnya menuai polemik.

Berdasarkan informasi yang berkembang, arga avtur saat ini sedang dalam tren penurunan sejak Oktober 2018. Rata-rata harga avtur dunia yang pada Oktober 2018 berada pada level USD 2,25 per Gallon turun 13,52 persen menjadi USD 1,95 per Gallon pada November 2018.

Harga avtur kembali turun menjadi USD 1,71 per Gallon pada Desember 2018 alias melemah 11,98 persen. Harga avtur baru sedikit menguat pada Januari 2019, yakni menjadi USD 1,79 per Gallon atau meningkat 4,73 persen.

Harga avtur yang dijual Pertamina berpatokan pada Mean of Platts Singapore (MOPS), polanya mengikuti pergerakan harga di pasar global. Pada periode yang sama ketika harga avtur menurun, harga tiket pesawat justru melonjak.

Dalam keterangan tertulis yang dikirim pada 1 Februari 2018 lalu, maskapai-maskapai penerbangan yang tergabung dalam Indonesia National Air Carriers Association (INACA) mengakui bahwa kenaikan harga tiket tak berkaitan dengan avtur.

“Kami memastikan bahwa harga avtur tidak secara langsung mengakibatkan harga tiket pesawat menjadi lebih mahal. Beban biaya operasional penerbangan lainnya seperti leasing pesawat, maintenance dan lain-lain memang menjadi lebih tinggi di tengah meningkatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat,” kata Ketua Umum INACA yang juga Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, IGN Askhara Danadiputra.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga pernah memberi penjelasan terkait harga tiket pesawat yang dikeluhkan masyarakat. Kata Budi Karya, tiket pesawat sebelumnya bisa murah karena maskapai-maskapai perang tarif. Tak ada kaitan dengan avtur.

Perang tarif itu berakhir ketika nyaris semua maskapai penerbangan mengalami kerugian. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), misalnya. Hingga akhir kuartal III 2017, maskapai pelat merah itu mencatatkan kerugian USD 110,2 juta.

Selain Garuda Indonesia, low cost airline yang beroperasi di dalam negeri, PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) juga mengalami kinerja buruk serupa. Di kuartal III 2018, AirAsia menderita kerugian Rp 639,16 miliar, atau membengkak 45 persen year on year (yoy).

Maskapai pun ramai-ramai menaikkan tarif hingga mendekati tarif batas atas. Menurut Budi Karya, tarif pesawat tengah kembali ke level normal setelah dalam beberapa tahun terakhir terjadi perang harga antar maskapai.

Harga avtur sebenarnya sudah diatur oleh pemerintah, Pertamina tak bisa sesukanya mengambil untung sebesar-besarnya. Batasannya terdapat dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 17 K/10/MEM/2019 tentang Formula Harga Dasar dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Avtur yang Disalurkan melalui Depot Pengisian Pesawat Udara yang dibuat Menteri ESDM Ignasius Jonan.

Dalam aturan ini, harga avtur yang dijual Pertamina di Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) harus berdasarkan biaya perolehan, biaya penyimpanan dan biaya distribusi, serta margin dengan batas atas sebagai berikut: Mean Of Platts Singapore (MOPS) + Rp 3.581/liter + Margin (10 persen dari harga dasar). Singkatnya, keuntungan Pertamina dari penjualan avtur tak boleh lebih dari 10 persen.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menjelaskan, avtur menyumbang sekitar 20 persen dari harga tiket pesawat Masih ada 80 persen komponen biaya lainnya.

Hampir serupa, menurut data dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, biaya avtur saat ini merupakan 24 persen dari seluruh komponen biaya maskapai. Ada berbagai komponen biaya lain seperti pemeliharaan, sewa pesawat, asuransi, catering, dan sebagainya.

Komaidi menambahkan, harga avtur Pertamina sudah cukup kompetitif, bahkan dibandingkan Singapura. Ia juga menerangkan, tidak ada regulasi yang melarang swasta untuk masuk ke bisnis avtur. Hanya saja, belum ada swasta yang berani masuk dan bersaing dengan Pertamina.

Swasta juga bukannya tak pernah mencoba untuk masuk ke bisnis avtur. Pada 2007, Shell Aviation pernah mencoba berjualan avtur di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Tapi pada 2009, Shell Aviation tak lagi berbisnis avtur di Soetta.

Menurut Komaidi, memang tak mudah bagi swasta untuk bersaing dengan Pertamina di bisnis avtur. Pertamina sudah memiliki infrastruktur yang lengkap dan menguasai jalur-jalur distribusi avtur.

Ia menyarankan agar Pertamina tak perlu takut jika Jokowi memasukkan kompetitor baru. Toh Pertamina sudah mengambil margin keuntungan wajar sesuai aturan Kementerian ESDM, bukan setinggi langit, tak perlu turunkan harga.

Hanya saja ia menggarisbawahi, pemerintah harus menciptakan kesetaraan atau level of playing field yang adil bagi Pertamina dan swasta di bisnis avtur. Ketika Pertamina diwajibkan menyalurkan avtur sampai ke bandara di daerah-daerah pelosok yang tidak menguntungkan, swasta juga harus dibebani kewajiban serupa.

Berempat.com