Dapur Pak Wahyu saat menerima penghargaan Start Up Award 2018 di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (9/3). (Berkabar.ID/R. Shandy)

Berkabar.ID – Sambal memang menjadi salah satu ‘teman’ makan yang bisa dikatakan sangat melekat dengan masyarakat Indonesia. Mulut kita seolah bisa melahap makanan apa saja asalkan ada sambal yang menemani. Rasa sedap makanan pun meningkat berkali-kali lipat bila dicocol sambal.

Kebiasaan dan tak bisa jauhnya lidah orang Indonesia dari sambal ini rupanya bisa dimanfaatkan oleh Wahyu untuk menciptakan sebuah peluang bisnis. Berawal hanya dari menjual sambal botolan, kini bisnisnya bahkan membesar dengan konsep take away yang menyediakan menu penyetan dan bisa dimiliki siapa pun.

Dapur Pak Wahyu, begitulah Wahyu menyematkan merek pada sambal botolannya yang kemudian tumbuh menjadi bisnis kuliner penyetan. Hingga kini Dapur Pak Wahyu sudah memiliki 22 gerai yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Seluruh gerai tersebut merupakan milik mitranya.

Tak heran bila Dapur Pak Wahyu dinobatkan sebagai salah satu peraih Start Up Award 2018 yang merupakan inisiasi Majalah Franchise Indonesia dan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) sebagai bentuk apresiasi atas pencapaiannya.

Happy, seneng, bahagia, gak nyangka juga sih. Karena tadi di panggung juga dibilang diseleksi dari seratus lebih franchise dan dipilih 17 franchise, salah satunya Dapur Pak Wahyu,” ungkap Wahyu kepada Berkabar.ID sehabis menerima penghargaan di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (9/3).

Sambal Berbahan Dasar Seafood

Sambal Dapur Pak Wahyu. (Tokopedia)

Bisnis yang dikelola Wahyu ini baru berusia 2 tahun lebih. Ia mengaku memulai bisnisnya pada 3 Agustus 2015 silam. Namun, bisnisnya ini sudah mampu berkembang pesat dengan pertumbuhan 22 gerai milik mitranya. Itu pun di luar penjualan sambal botolannya.

Sambal milik Wahyu ini mampu merebut hati para pecinta sambal dan pedas lantaran memiliki keunikan pada bahan dasarnya. “Ciri khas kita sambelnya kita pakai teri home made, cabenya itu cabe rawit merah murni,” terangnya.

Selain itu, Wahyu mengklaim bahwa keunikan lainnya ada pada bahan dasar sambalnya yang menggunakan seafood. “Kita ada ikan laut, ikan tawar, ditambah ati dan ampela. Jadi biar konsumen ini gak bosan,” tambahnya.

Selain pada bahan baku, keunikan Dapur Pak Wahyu ini ada pada model bisnisnya. Karena Wahyu tak hanya menjalankan bisnisnya yang menyuguhkan menu penyetan lengkap dengan sambal andalannya, tetapi juga menjual sambal botolannya sendiri.

Wahyu berani menjual sambalnya dalam bentuk botolan maupun bersamaan dengan menu yang dijualnya lantaran melihat potensi pasar yang besar. Pria berkacamata ini pun tak sungkan mengklaim bila banyak mitranya yang senang dari segi penjualan.

“Kenapa happy? Kita menang di sambel. Karena orang Indonesia sukanya sambel. Kalo sambelnya enak, otomatis semua makanan jadi enak. Dari rata-rata komentar semua mitra itu happy,” akunya.

Bahkan, Wahyu mengaku ada beberapa calon mitranya yang berasal dari luar negeri. Namun, lantaran dirinya masih terbatas ada sumber daya manusia maka ia pun terpaksa menahan permintaan tersebut. “Jadi mereka hanya membeli sambelnya, tok untuk dikirim ke sana,” sambungnya.

Modal Minim, Balik Modal Cepat

Sejauh ini Dapur Pak Wahyu menawarkan paket kemitraan yang tergolong terjangkau. Adapun tiga paket yang ditawarkan ialah Paket Silver Rp 18 juta, Paket Gold Rp 30 juta, dan Paket Go City Rp 65 juta.

Untuk Paket Silver, Wahyu menjelaskan, mitra tidak akan mendapat gerobak, bangku, meja dan lain-lain. Jadi bisa dibilang mitra hanya mendapatkan bahan baku menu dan sambal. Sementara untuk Paket Gold mitra akan mendapatkan gerobak, bangku, meja, menu dan sambal. Dan untuk Paket Go City, mitra akan mendapatkan perlengkapan lebih lengkap lagi ditambah resep meracik makanan olahan ayam, ikan, tahu, dan tempe.

Namun, sebelum akan membeli paket kemitraan, Wahyu meminta agar calon mitranya menyiapkan minimal 2 pegawai. “Seminggu sebelum buka kita trainingi dulu supaya tahulah cara masaknya seperti apa, cara operasionalnya seperti apa,” tutur Wahyu.

Sementara untuk ukuran luas, Wahyu tak mempersoalkannya. Mau kecil atau besar Wahyu bisa menyesuaikannya. Selama bisa muat untuk gerobak dan meja maka ia tak mau membuat mitranya ribet.

Wahyu bahkan tak mematok adanya management fee maupun royalty fee kepada mitranya. “Jadi semua margin kita berikan ke mitra. Rata-rata kita kasih margin antara 30-45 persen,” sambungnya.

Karena itulah Wahyu pun berani sesumbar bila mitranya akan mencapai break event point (BEP) hanya dalam kurun waktu 2,5-3 bulan. “Apalagi kali tempatnya rame, 2 bulan juga sudah BEP. Karena kan modalnya murah banget,” tukasnya.

Wahyu bahkan memberikan penawaran khusus bagi mitra yang bersedia join dengannya selama pameran bisnis Info Franchise & Business Concept (IFBC) 2018 Expo pada 9-11 Maret 2018, di Balai Kartini, Jakarta berlangsung. Karena Dapur Pak Wahyu membuka stand pada pameran tersebut.

“Khusus di pameran kita sediakan 50 freezer untuk calon mitra,” imbuhnya.