Ilustrasi pekerja Indonesia. (Tempo)
Berempat.com

Berkabar.ID – Berdasarkan data dari The Global Competitiveness Report 2017-2018 pekerja Indonesia memiliki daya saing yang berada di posisi ke-4 dari 9 negara ASEAN. Sementara di tingkat dunia Indonesia berada pada posisi ke-36 dari 137 negara. Selain itu, catatan apik juga ditorehkan Indonesia dari tingkat produktivitas pekerja. Untuk hal tersebut Indonesia berada di urutan ke-11 dari 20 negara anggota Asian Productivity Organization (APO). Sementara untuk tingkat ASEAN berada di urutan 4.

Peningkatan produktivitas memang terus ditorehkan oleh tenaga kerja Indonesia. Berdasarka data APO, di tahun 2015 poduktivitas per pekerja Indonesia mencapai US$ 24,3 ribu. Pencapaian tersebut naik dua kali lipat atau tumbuh 3,1% dibanding tahun 1990. Angka produktivitas per pekerja Indonesia kembali naik di tahun 2017 hingga mencapai US$ 24,6 ribu menurut The Conference Board dalam Total Economy Database.

Namun, capaian ini tentu harus tetap terus ditingkatkan oleh Indonesia agar menjadi bangsa yang maju dan dapat bersaing di era Industri 4.0. Hal tersebut disampaikan oleh Sesditjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Ketenagakerjaan Kunjung Masehat saat membuka Conference and Workshop on Innovation Development di Jakarta, Selasa (6/3).

Bahkan, kendati angka produktivitas per pekerja terus meningkat, Masehat pun mengatakan perlunya percepatan peningkatan produktivitas dilakukan demi dapat mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain.

“Selain kualitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, dan perbaikan manajemen, inovasi merupakan salah satu faktor paling penting untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing bangsa,” tuturnya.

Sebab itu, Kunjung mengajak seluruh lapisan masyarakat agar mau turut serta dalam mengembangkan inovasi.

“Menjadi yang terbaik adalah penting, tetapi menjadi lebih baik dari sebelumnya itu jauh lebih penting. Terus menerus memperbaiki, berinovasi untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, itulah hakekat produktivitas,” terangnya.

Indonesia Sudah 58 Tahun Menjadi Anggota APO

Sesditjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Ketenagakerjaan Kunjung Masehat saat membuka Conference and Workshop on Innovation Development di Jakarta, Selasa (6/3). (Dok. Kemnaker)

Kunjung Masehat menyebutkan bahwa Indonesia telah menjadi anggota APO sejak 1962 atau selama 58 tahun. Namun, Kunjung masih menganggap bahwa keanggotan Indonesia belum dimanfaatkan dengan baik oleh seluruh elemen masyarakat.

Karena itu, Kunjung berharap kepada kementerian, perguruan tinggi, maupun unsur masyarakat lainnya agar dapat memanfaatkan keanggotaan Indonesia dengan baik. Sehingga dapat mengambil pengalaman dari negara lain dalam mengembangkan produktivitas dan daya saing bangsa.

“Kita manfaatkan untuk dalam rangka sharing information yang mereka lakukan, pengalaman mereka di negara mereka dan juga pengalaman mereka menjadi penggerak di bidang yang akan kita kembangkan,” ujar Kunjung.

Kunjung juga menyebut salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia, ialah inovasi dalam bidang inkubasi bisnis. “Supaya mereka bisa meng-create pekerjaan, bukan mencari pekerjaan,” tandasnya.

Berempat.com