Berempat.com

Langkah pemerintah yang akan menginpor 100 ribu ton jagung ditengah produksi yang surplus hingga 4 juta ton dan ekspor 380 ribu ton di tahun ini mengherankan sejumlah pihak.

Menteri Pertanian, Amran mengatakan pemerintah mengambil keputusan impor karena produksi jagung lokal ‘ditimbun’ oleh perusahaan besar. Karenanya, peternak kecil tak kebagian jagung untuk pakan ayamnya, dan membuat harga jagung di pasaran menjadi mahal.

Amran menjelaskan, hal itu terjadi karena biasanya perusahaan besar memberi memberi makan ayam ternaknya dengan pakan campuran gandum dan jagung. Karena gandum merupakan komoditas impor, maka harga gandum saat ini cukup tinggi karena nilai tukar dolar AS terhadap rupiah yang mencapai hampir Rp 15 ribu.

Karena harganya yang tinggi, maka akhirnya perusahaan peternak besar tidak mengimpor gandum dan memberi pakan ayamnya dengan jagung murni produksi lokal. Perusahaan besar tak mau lagi menggunakan impor gandum, padahal Kementan telah memberi rekomendasi impor gandum 200 ribu ton.

“Dulu impor campuran feed wheat, gandum untuk pakan ternak. pakan ternak ini tahun ini nol, dia serap itu jagung karena dolar naik Rp 2.000 per dolar (AS). Naik Rp 2.000 rupiah ternyata aku cek di Thailand semua lebih mahal jatuhnya kalau impor feed wheat dari Australia, lebih baik ambil jagung semua,” katanya.

dengan demikian, jatah peternak kecil ini diambil, memilih mengambil jatah peternak kecil dari pada mengimpor gandum.

Amran sendiri tak mau menyebut perusahaan besar mana yang dimaksudnya. Dia hanya mengatakan, bahwa ada dua perusahaan di bidang peternakan ayam yang mengambil jatah jagung untuk peternak kecil.

Sementara itu, diketahui di Indonesia ada sejumlah perusahaan besar di sektor peternakan ayam. Misalnya ada Charoen Popkhand, Japfa Comfeed, Cipendawa Farm, hingga perusahaan besar lainnya.

Berempat.com