Berempat.com

Berkabar.id – Korea Selatan (Korsel) mematangkan negosiasi dengan AS untuk pembelian sebuah kapal selam nuklir demi mengantisipasi serangan rival serumpun Korea Utara (Korut). Dalam kunjungan ke Korsel, Selasa (7/11), Presiden AS Donald Trump menyatakan Seoul akan membeli persenjatan dari negaranya bernilai ‘’miliaran dolar”.

Setelah bertemu Presiden Moon Jae In di Gedung Biru (Istana Kepresidenan) di Seoul, Trump mengutarakan, Korsel akan memboyong sejumlah besar persenjataan seperti pesawat, rudal, atau apa pun. ‘’Korsel akan memesan kelengkapan bernilai miliaran dolar yang membuat mereka sangat masuk akal dan bagi kami berarti peluang pekerjaan, mengurangi defisit perdagangan kami dengan Korsel,” kata Trump.

Moon tidak memaparkan detail kelengkapan militer yang dipesan. Ia hanya menyebut semuanya penting bagi pertahanan nasional. Namun, mengutip pernyataan seorang pejabat senior Korsel tentang inti pembicaraan Trump-Moon, sejumlah media Korsel menyatakan, Seoul menginginkan negosiasi pembayaran sejumlah kelengkapan militer tersebut segera diwujudkan.

‘’Aset strategis yang didiskusikan termasuk sebuah kapal selam bertenaga nuklir dan kelengkapan canggih untuk misi mata-mata,” kata mereka.

Menurut sumber pemerintahan Seoul tersebut, dua kelengkapan militer itu yang sangat dibutuhkan Korsel saat ini. Kapal selam nuklir bertahan di bawah permukaan air selama berbulan-bulan, sehingga memberi daya jelajah jauh lebih besar ketimbang kapal selam bermesin diesel. Kapal selam nuklir juga krusial bagi penangkal serangan nuklir dari laut.

Jika kapal selam nuklir itu di kemudian hari dimiliki Korsel, perimbangan kekuatan militer di wilayah Asia Timur Laut pun berubah. Jepang, juga sekutu AS di Asia, tidak memiliki kapal selam nuklir. Tokyo dilarang memilikinya sesuai ketentuan pembatasan kemampuan militer Jepang berdasarkan konstitusi pasifis pasca-Perang Dunia II.

Di sisi lain, China terus mempercanggih kemampuan Angkatan Laut, tetapi sejauh ini amarda mereka tidak diperkuat kapal selam nuklir. Maka kepemilikan kapal selam nuklir oleh Seoul hampir bisa dipastikan akan memancing kegeraman Beijing.

Seoul sangat butuh kapal selam itu untuk merespon ancaman Korut. Sejauh ini mereka sangat bergantung pada garansi keamanan AS yang menempatkan 28.500 personel tentaranya di wilayah Korsel dekat perbatasan dengan Korut. Namun, belakangan Korut terus menebar ancaman melalui sejumlah uji rudal balistik antarbenua (ICBM).

Manuver Korut bahkan membuat sejumlah pihak di Korsel menuntut negaranya juga mengembangkan senjata nuklir. Namun, sesuai perjanjian militer dengan AS, Korsel masih dilarang mengembangkan senjata nuklir. Gantinya, AS memberikan ‘’payung perlindungan nuklir” untuk melawan ancaman serangan Korut.

Di Seoul, Trump mengatakan AS telah mencapai ‘’banyak kemajuan” di pentas global untuk mengerem Korut. Di samping Moon, Trump juga mengulang lagi komitmen negaranya yang siap mengerahkan kekuatan penuh militer mereka untuk mencegah Korut memiliki kemampuan mumpuni dalam persenjataan nuklir.

‘’Masuk akal bagi Korut kembali ke meja perundingan demi menghasilkan perjanjian yang berdampak baik bagi rakyat Korut dan warga dunia,” kata Trump seperti dilansir AFP.

Dalam pembicaraan dengan Moon, Trump juga mempertegas persetujuan AS mencabut batasan berat 500 kilogram pada hulu ledak rudal balistik Korsel. Secara prinsip persetujuan ini dicapai pada September lalu seturut uji rudal Korut. Moon pun mengatakan, kesepakatan akhir pencabutan pembatasan tersebut segera dicapai.

Berempat.com