Berempat.com

Berkabar.id – Kebijakan Pemerintah China yang tegas dalam hal pemberantasan korupsi betul-betul membuat ketakutan para koruptor. Seorang perwira militer China, Zhang Yang, memilih mengakhiri hidupnya setelah komisi penyelidikan korupsi Negeri Tirai Bambu itu melakukan penyelidikan terhadapnya.

Zhang, yang merupakan Direktur Komisi Pusat Militer China, ditemukan tewas di rumahnya di Beijing 23 November 2017. “Sore tanggal 23 November, Zhang Yang gantung diri di rumah,” kata kantor berita Xinhua, seperti dilansir dari Reuters, kemarin.

Jenderal senior itu tengah diselidiki karena diduga terkait dengan dua jenderal yang terseret kasus korupsi, Guo Boxiong dan Xu Caihou, dua pejabat tinggi militer yang dikeluarkan secara tidak hormat oleh Partai Komunis China (PKC).

Guo, yang merupakan wakil Zhang, menjadi pejabat paling senior untuk Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang terbukti melakukan korupsi dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tahun 2016. Sementara Xu, yang juga wakil Zhang, meninggal karena kanker tahun 2015 di tengah proses penyelidikan.

Zhang diduga kuat melakukan praktik suap dan penyalahgunaan jabatan serta pelanggaran disiplin. Harta kekayaannya yang melimpah, tidak jelas sumbernya.

Seorang narasumber mengatakan, Zhang diduga pernah menerima suap sebesar 25 juta yuan atau setara dengan 3,7 miliar dolar AS dari Jenderal Guo. Kementerian Pertahanan dan situs resmi militer mengatakan, Komite Militer Pusat memutuskan untuk menyelidiki Zhang sejak 28 Agustus 2017.

Surat People’s Liberation Army Daily, media resmi militer China menyebut tindakan Zhang sebagai pengecut yang lari dari tanggung jawab dengan cara bunuh diri. “Mantan jenderal berpangkat tinggi dengan kekuatan besar ini menggunakan cara yang memalukan untuk mengakhiri hidupnya sendiri,” demikian bunyi laporan surat kabar itu.

Zhang juga disebut bermuka dua. Di satu sisi, dia mendorong orang untuk menjadi loyal. Tapi di satu sisi, dia menjadi korup di balik punggung orang lain. “Tentara memegang laras senapan, kita tidak bisa membiarkan unsur-unsur korup untuk bersembunyi di baliknya,” tegas surat kabar yang menyerukan suara militer China itu.

Pemberantasan korupsi di China betul-betul digencarkan. Pemberantasan korupsi merupakan salah satu agenda utama Presiden Xi Jinping sejak dilantik pada 2012. Sekitar 1,5 juta perwira Partai Komunis dari berbagai tingkatan, termasuk di antaranya 13 ribu perwira militer senior dijerat kasus korupsi sejak 2012.

Dalam Kongres ke-19 Partai Komunis China Oktober lalu, Jinping kembali mengaskan tekadnya menggencarkan pemberantasan korupsi yang dianggap masih menjadi tantangan terbesar, meski sudah menghukum banyak pejabat negeri itu.

Pada rapat pleno terakhir partai sebelum kongres tahun lalu, Partai Komunis China (CCP) juga mengadopsi dua dokumen yang bertujuan mendirikan institusi pemberantas korupsi dalam tubuh partai.

Sebagaimana dilansir The Straits Times, dokumen pertama menjabarkan satu set aturan yang melarang nepotisme, faksionisme dan penjualan kekuasaan.

Sementara, dokumen kedua merangkum aturan supervisi internal dan peninjauan antar-anggota partai untuk inspeksi mendalam. Menurut sejumlah pengamat, cara ini kurang efektif dan CCP seharusnya mulai mencari strategi agar jajaran pemimpin partai selanjutnya dapat memegang teguh prinsip anti-korupsi.

Menjawab keraguan para pengamat ini, Jinping mengatakan dia akan memperkuat ideologi partai sehingga para kadernya dapat terhindar dari pemikiran yang melenceng.

“Masalah utamanya adalah ketidakjernihan dalam berpikir, organisasi dan perintah dalam partai yang hingga kini belum terselesaikan dari akar hingga cabang,” katanya sebagaimana dilansir Reuter

Berempat.com