Dua Remaja Palestina Tewas Akibat Bentrok dengan Tentara IsraelDua Remaja Palestina Tewas Akibat Bentrok dengan Tentara IsraelDua Remaja Palestina Tewas Akibat Bentrok dengan Tentara Israel (istimewa)

Berkabar.ID – Bentrokan antara pemuda Palestina dengan militer Israel kembali terjadi, Kamis (11/01). Pada bentrokan kali ini ada dua remaja Palestina yang terbunuh. Pejabat kesehatan Palestina mengatakan, bentrokan tersebut dipicu karena bulan lalu Presiden Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Dikutip dari Reuters, Dua remaja yang tewas tersebut yakni Amir Abu Musaid (16) dan Ali Omar Qino (16). Mereka tewas dalam aksi demonstrasi menentang pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Militer Israel mengatakan “kerusuhan kekerasan” yang terjadi di sepanjang pagar perbatasan setelah mereka memberikan tembakan peringatan ke udara. Tentara Israel kemudian melepaskan tembakan ke tiga pendemo yang diduga keras akan menimbulkan ancaman di sekitar pagar kemanan.

Remaja bernama Amir Abu Musae berusia 16 tahun pun menjadi korban setelah ditembak di bagian dada di antara kerusuhan di sepanjang pagar perbatasan Gaza dengan Israel. Menurut saksi mata, 12 orang mendekati pagar perbatasan, kemudian membakar ban dan melempar batu. Hal tersebut disampaikan oleh Kementerian Kesehatan.

Selain itu, di tepi Barat, Kementerian Kesehatan pun mengatakan remaja berusia 16 tahun bernama Ali Omar ditembak di bagian kepala saat bentrokan di dekat kota Nablus terjadi. Sepupu Omar, Naser Qados mengatakan bahwa tentara yang telah mendirikan sebuah pos pemeriksaan di pintu masuk sebuah desa menembaki pemrotes yang melempari mereka dengan batu.

Pernyataan Trump di Yerusalem masih memicu protes di Tepi Barat dan Gaza sampai saat ini. Bahkan terjadi peningkatan intensitas tembakan roket militan dari Jalur Gaza ke Israel. Israel pun telah menanggapi tembakan roket tersebut dengan tembakan tank dan serangan udara.

Atas kejadian ini warga Palestina dan kelompok hak asasi manusia telah mengkritik Israel karena menggunakan kekuatan yang berlebihan terhadap pemrotes Palestina.

Sebanyak 16 orang Palestina dan seorang warga Israel telah dilaporkan tewas dalam bentrokan sejak pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Trump pada 6 Desember 2017 lalu. Pernyataan Trump memang telah memicu kemarahan besar dari warga Palestina, bahkan dunia.

Pengakuan Donald Trump

Donald Trump Akui Yerusalem sebagai Ibukota Israel (Istimewa)
Donald Trump Akui Yerusalem sebagai Ibukota Israel (Istimewa)

Dilansir dari The Guardian, (07/12/2017) dalam pidato singkatnya di Gedung Putih tahun lalu, Presiden Trump mengatakan bila ini sudah saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

“Hari ini Yerusalem adalah kursi bagi pemerintah modern Israel, rumah bagi parlemen Israel, Knesset, rumah bagi Mahkamah Agung,” tuturnya.

Dia juga menambahkan, Israel memiliki hak untuk menentukan ibu kotanya. Dan penundaan penetapan Yerusalem sebagai ibu kota Israel selama ini tidak membawa apa pun dalam mencapai perdamaian.

Menurut Trump, Amerika Serikat tetap berkomitmen pada solusi dua negara dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina. Sementara itu, Israel selalu menganggap Yerusalem sebagai ibu kotanya, sedangkan Palestina mengklaim Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina masa depan.

Dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, AS menjadi negara pertama yang melakukannya sejak pendirian negara Israel pada 1948. Pejabat pemerintahan Trump mengatakan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dipandang sebagai “pengakuan realitas” oleh sang presiden.

Trump juga akan mengarahkan kementerian luar negeri untuk memulai proses pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem. Ia menjanjikan pemindahan itu kepada para pemilih yang pro-Israel selama kampanye pemilihan presiden.

Israel Sudah Siap Pada Konsekuensi Terjadi Kekerasan

Warga berkumpul di Federal Plaza untuk memprotes keputusan Presiden Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota
Warga berkumpul di Federal Plaza untuk memprotes keputusan Presiden Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota

Israel selalu menganggap Yerusalem sebagai ibu kotanya, sedangkan Palestina mengklaim Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina masa depan.

Sebelum kepastian langkah AS ini, dilansir dari wilsoncenter, (15/12/2017), Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz mengatakan kepada Presiden Trump bahwa pemindahan kedutaan atau pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel akan menjadi provokasi terang-terangan terhadap umat Islam di seluruh dunia.

Gedung Putih mengatakan bahwa sang presiden membicarakan rencana keputusan mengenai Yerusalem dengan semua pemimpin negara di Timur Tengah, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, pada Selasa tahun lalu.

Pemimpin Palestina Mahmoud Abbas memperingatkan konsekuensi berbahaya keputusan itu terhadap proses perdamaian dan terhadap kedamaian, keamanan dan stabilitas kawasan dunia.

Raja Abdullah dari Yordania berkata keputusan itu akan mengacaukan upaya mengembalikan proses perdamaian dan memprovokasi Umat Islam. Yordania bertindak sebagai pelindung situs suci agama Islam di Yerusalem.

Hampir bisa dikatakan bahwa tak ada satu pun pihak yang mendukung pernyataan Trump soal Yerusalem. Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi bahkan meminta Presiden Trump agar tidak memperumit situasi di kawasan tersebut. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pun telah mengancam akan memutuskan hubungan dengan Israel jika AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota negaranya.

Dan Ismail Haniya, pimpinan kelompok Islamis Hamas yang menguasai Gaza, berkata kepindahan kedubes dan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel akan melanggar semua batas. Perancis dan Uni juga telah menyampaikan kekhawatiran.

Menteri Intelijen Israel, Israel Katz, berkata kepada radio militer Army Radio atau Galei Tzahal bahwa ia mengharapkan Presiden Trump akan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota negaranya. Ia juga menambahkan, Israel bersiap untuk segala kemungkinan, termasuk pecahnya kekerasan.