Arab Saudi Gelar Pameran Mobil Pertama untuk Perempuan (Reuters)
Arab Saudi Gelar Pameran Mobil Pertama untuk Perempuan (Reuters)

Berkabar.ID – Kebebasan perempuan di Arab Saudi kini mulai terbuka. Salah satunya diperbolehkannya perempuan di Arab Saudi untuk berkendara yang merupakan buah putusan Raja Salman bin Abdulaziz. Peraturan kerajaan yang ditandatangani pada 26 September 2017 itu akan berlaku pada Syawal 1439 Hijriah atau Juni 2018.

Keputusan tersebut diikuti oleh penyelarasan kebijakan di beberapa departemen, seperti Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, Kementerian Tenaga Kerja dan Pembangunan Sosial.

Dilansir dari Reuters, Jumat (12/01), perempuan di Arab berbondong-bondong ke Le Mall di Jeddah pada hari Kamis kemarin waktu setempat untuk melihat pameran mobil pertama kerajaan yang ditujukan pada wanita.

Arab Saudi Gelar Pameran Mobil Pertama untuk Perempuan (Reuters)
Arab Saudi Gelar Pameran Mobil Pertama untuk Perempuan (Reuters)

Otoritas Arab Saudi telah mengijinkan wanita untuk mengikuti pameran mobil. Sebab perempuan di sana diberi kesempatan untuk memilih mobilnya sendiri dalam sebuah pameran mobil hemat bahan bakar.

Acara ini disambut baik menyusul peraturan baru yang memperbolehkan perempuan untuk mengendarai mobil. Tidak hanya itu, tiap diler yang bergabung di pameran juga membawa slogan yang menggunakan bentuk kata perempuan. Bahkan semua tim sales adalah perempuan.

Arab Saudi Gelar Pameran Mobil Pertama untuk Perempuan (Reuters)
Arab Saudi Gelar Pameran Mobil Pertama untuk Perempuan (Reuters)

“Saya selalu tertarik dengan mobil, tapi kami tidak memiliki kemampuan untuk mengemudi,” kata Ghada al-Ali, seorang pelanggan.

Sebelumnya, Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang melarang pengemudi wanita. Keputusan kerajaan penting tersebut telah dipuji sebagai bukti kecenderungan progresif baru di kerajaan Muslim yang dikenal sangat konservatif itu.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman adalah salah satu wajah dari perubahan itu. Banyak pemuda Saudi menganggap pendakiannya yang baru-baru ini berkuasa sebagai bukti bahwa generasi mereka mengambil tempat sentral dalam menjalankan sebuah negara. Tak terkecuali pada negara yang tradisi patriarkinya selama bertahun-tahun amat kuat sehingga membuat kemajuan perempuan lama dan terhambat.

Di sisi lain, biaya hidup Arab Saudi meningkat setelah pemerintah menaikkan harga gas domestik dan memperkenalkan pajak pertambahan nilai (PPN) pada bulan Januari.

“Diketahui bahwa wanita adalah bagian terbesar yang berbelanja di mal,” kata Sharifa Mohammad, kepala sales wanita pameran tersebut. “Seluruh mal ini dikelola oleh wanita. Semua kasir adalah wanita. Semua orang di restoran adalah wanita. ”

Perubahan Peraturan Dahsyat Perempuan di Arab Saudi

Perempuan di Arab Saudi
Perempuan di Arab Saudi (Istimewa)

Arab Saudi selama ini kerap disebut sebagai negara yang bersikap kurang adil terhadap hak-hak perempuan. Dalam Global Gender Gap Report 2016 yang dikeluarkan oleh World Economic Forum, Arab Saudi berada di deretan terbawah, tepatnya di peringkat 141 dari 144 negara sebagai negara yang sangat patriarki.

Global Gap Gender Report disusun sebagai laporan yang bertujuan untuk memeriksa dan memotret ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam empat bidang kritis, yakni kesempatan dan partisipasi ekonomi, pencapaian pendidikan, pemberdayaan politk, serta kesehatan dan kelangsungan hidup. Semakin rendah peringkat suatu negara di dalamnya, berarti semakin besar kesenjangan gender yang terjadi di negara tersebut.

Kesenjangan gender yang terjadi di Saudi tampak dari sejumlah batasan atau larangan terhadap kaum perempuan di sana. Beberapa batasan itu misalnya saja larangan menyetir bagi perempuan.

Namun beberapa tahun belakangan, di era pemerintahan Raja Salman bin Abdulaziz, satu per satu batasan tersebut mulai hilang.

Berikut adalah 5 kebijakan baru di Arab Saudi yang dianggap telah memberi “kebebasan” kepada kaum hawa di sana, dikutip Berkabar.ID dari beberapa media:

1. Boleh Mengemudikan Kendaraan

Perempuan di Arab Saudi Mengendarai Mobil
Perempuan di Arab Saudi Mengendarai Mobil

Beberapa bulan yang lalu, otoritas Arab Saudi telah merubah peraturan yang memperbolehkan penerbitan surat izin mengemudi untuk perempuan telah ditandatangani oleh Raja Salman pada September 2017.

Namun, peraturan tersebut baru akan diberlakukan pada Syawal 1439 Hijriah atau sekitar bulan Juni 2018.

2. Boleh Masuk Stadion

Arab Saudi Bolehkan Perempuan Masuk Stadion
Arab Saudi Bolehkan Perempuan Masuk Stadion

Momen bersejarah hadir dalam Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kerajaan Arab Saudi ke-87 pada 23 September 2017. Ratusan perempuan terlihat memadati King Fahd International Stadium, Riyadh, untuk menyaksikan pagelaran konser serta pertunjukan opera perayaan HUT Kerajaan Saudi.

Sejak berdiri pada 1932, baru pada hari itulah perempuan di Saudi diperbolehkan masuk ke dalam stadion olahraga. Sebelumnya, Saudi kukuh memberlakukan larangan bagi perempuan untuk datang ke konser, bioskop, dan tempat-tempat ramai lainnya, termasuk stadion.

Aturan baru yang membolehkan perempuan untuk masuk ke dalam stadion itu disebut-sebut merupakan bagian dari program reformasi Saudi Vision 2030.

Gagasan reformasi itu diluncurkan pertama kali pada 2015 untuk mengurangi ketergantungan ekonomi Arab Saudi dari minyak, menciptakan sektor baru untuk mempekerjakan kaum muda, dan menciptakan gaya hidup baru yang lebih terbuka.

3. Boleh Ikut Pemilu

Perempuan di Arab Saudi Ikut Pemilu
Perempuan di Arab Saudi Ikut Pemilu

Desember 2015 merupakan momen bersejarah bagi kehidupan politik di Arab Saudi. Sebab pada bulan itu, kaum perempuan boleh ikut serta memilih maupun dipilih dalam sebuah pemillihan umum (pemilu) tingkat kotamadya yang digelar secara nasional.
Peristiwa ini merupakan kali pertama perempuan Saudi boleh memilih dan mencalonkan diri sebagai kandidat dalam pemilu.

Dalam pemilu tersebut, dari 1,49 juta pemilih terdaftar, ada 131 ribu pemilih perempuan. Adapun jumlah kandidat perempuan yang bertarung adalah 980 orang, 1/12 dari jumlah kandidat laki-laki yang bertarung yang hampir mencapai enam ribu orang.

4. Boleh Pakai Bikini di Pantai

Boleh Pakai Bikini di Pantai
Boleh Pakai Bikini di Pantai

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah mengumumkan rencana pembangunan resort mewah di pesisir Laut Merah.

Menariknya, sang Putra Mahkota berencana memperbolehkan pemakaian bikini bagi perempuan-perempuan di area resort tersebut. Padahal selama ini, perempuan di Saudi wajib memakai abaya, semacam jubah berwarna hitam saat berkegiatan di luar.

Mohammed bin Salman mengatakan, resort tersebut secara khusus akan diatur dengan hukum berstandar internasional. Penggunaan bikini bagi perempuan hanya berlaku dan diperbolehkan di area resort mewah yang akan menjadi tempat wisata itu, namun tak berlaku di tempat lainnya di Saudi.

Rencana pembangunan resort dan izin pemakaian bikini ini juga berkaitan dengan Saudi Vision 2030. Pembangunan resort sendiri akan dimulai pada 2019 dan ditargetkan selesai pada 2022.

Sebelum Saudi berencana memberlakukan peraturan tersebut, Dubai sudah lebih dulu membebaskan perempuan berbikini di pantainya. Akibatnya, kota di Uni Emirat Arab itu ramai dikunjungi oleh wisatawan internasional.

5. Boleh Bekerja sebagai Pemandu Lalu Lintas Udara

Boleh Bekerja sebagai Pemandu Lalu Lintas Udara
Boleh Bekerja sebagai Pemandu Lalu Lintas Udara

Tahun 2012 silam menjadi salah satu momen bersejarah bagi kaum hawa di Saudi. Kala itu Raja Abdullah bersedia menandatangani sebuah undang-undang baru terkait hak perempuan, yakni mereka diperbolehkan bekerja di luar rumah.

Akan tetapi kesempatan mereka bekerja masih terbatas di toko-toko pakaian dalam dan kosmetik saja. Hal itu kemudian terus dikeluhkan oleh kaum hawa di sana, mereka menuntut untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam bekerja.

Dan akhirnya pemerintah Arab Saudi untuk pertama kalinya akan melatih perempuan untuk bekerja sebagai pemandu lalu lintas udara (air traffic controller).

Saudi Gazette melaporkan, Saudi Air Navigation Services akan memilih 80 wanita dari 6.900 kandidat yang mengajukan permohonan untuk program pelatihan. Kriteria kandidat terpilih adalah lulusan SMA, berusia antara 18-25 tahun, memiliki nilai akademik tinggi yang selanjutnya akan menjalani serangkaian tes seleksi lainnya.

Berdasarkan Saudi Vision 2030, Arab Saudi memiliki target untuk meningkatkan jumlah angkatan kerja perempuan–yang biasanya didominasi oleh laki-laki, yakni dari 23 persen menjadi 28 persen.