Sumber foto : carscoops.com

Berkabar.id – Sejak tanggal Agustus 2017, produsen mobil Amerika Serikat, Ford  bekerja sama dengan Zotye untuk membangun perusahaan patungan bernama Zotye Ford Automobile.

Perusahaan patungan itu berencana memproduksi mobil listrik yang akan dipasarkan di Tiongkok. Dalam siaran pers, Ford mengatakan mereka akan membuat desain, produksi, pemasaran dan mendistribusikan mobil listrik di seluruh Tiongkok dengan nilai investasi mencapai US$756 juta. Rencananya Ford akan menyiapkan 70% armada bertenaga listrik pada 2025.

Zotye sendiri adalah perusahaan yang memproduksi SR8, sebuah mobil SUV yang mirip Porsche Macan. Zotye Auto mengklaim sebagai pionir mobil listrik di Tiongkok karena telah berhasil menguasai pasar di segmen kendaraan kecil.

Baru-baru ini Chairman Eksekutif Ford mengatakan yakin bisa memimpin revolusi kendaraan listrik di Negeri Tirai Bambu tersebut. Mengutip dari laman The New York Times, Chairman Eksekutif Ford William C. Ford Jr. mengatakan akan mengenalkan 15 mobil model plug-in hybrid di Tiongkok pada tahun 2025. Mereka percaya rencana tersebut akan mendapat respon yang positif di pasaran.

Diketahui, pemerintah Tiongkok mendukung revolusi kendaraan listrik tersebut. Mereka berharap pengembangan, produksi, dan penggunaan kendaraan hemat energi bisa berjalan lancar.

Terlebih lagi, Tiongkok sekarang ini mewajibkan produsen mobil untuk membangun sejumlah kendaraan ‘hijau’. Jika tidak mereka akan kehilangan hak untuk menjual kendaraan deisel dan bensin di negara tersebut.

Tiongkok mewajibkan 8% dari total pasar mobil di sana dikontribusikan oleh mobil listrik pada 2018. Target kontribusi mobil listrik terhadap pasar ditingkatkan menjadi 12% pada 2020. Mereka berharap kebijakannya akan memperkuat posisi Tiongkok sebagai pasar kendaraan listrik terbesar.

Sementara ini Ford juga sedang melakukan pemantauan operasi di Tiongkok sebagai bagian dari strategi baru perusahaan di bawah kendali Jim Hackett sebagai CEO. Dia akan mengkaji kemungkinan perusahaan untuk fokus pada kendaraan komersial dan mobil listrik.

Ford bukan yang pertama

Namun Ford bukan satu-satunya pembuat mobil internasional yang mencoba meningkatkan penjualan kendaraan listrik di Tiongkok. Awal bulan ini, General Motors (GM) mulai menjual mobil listrik kecil di Negeri Panda itu dengan biaya sekitar $5,300 setelah memperoleh insentif kendaraan listrik nasional dan lokal.

Kendaraan bernama Baojun E100 dibuat di Tiongkok oleh perusahaan patungan antara GM dan Wuling Motors. Belum lagi pada bulan Juni, Volkswagen (VLKAF) menyelesaikan investasinya dengan Anhui Jianghuai Automobile (JAC Motor) untuk memprodukai kendaraan listrik.

Mengapa para produsen mobil gencar mengembangkan kendaraan listrik?

Menurut Wakil Ketua Tim Nasional Mobil Listrik dari Universitas Indonesia, Mohammad Adhitya, mengatakan mobil listrik adalah solusi untuk masa depan. Ia juga menjelaskan berbagai kelebihan yang dimiliki mobil listrik dibanding mobil konvensional.

Pertama, mobil listrik tak menghasilkan emisi karbon alias tidak berpolusi. Kedua, biaya operasinya lebih rendah dibanding mobil berbahan bakar minyak.

“Kelebihannya zero emisi, enggak punya knalpot, enggak menghasilkan gas buang. Biaya operasi juga rendah,” kata Adhitya dalam peringatan 53 tahun FTUI di kawasan Gandaria City, Jakarta, Oktober lalu.

Selain itu, kendaraan listrik tak bergantung pada satu sumber energi saja, beda dengan kendaraan konvensional yang bergantung pada minyak bumi.

Listrik bisa dihasilkan dari berbagai sumber energi, mulai dari minyak bumi yang tidak terbarukan hingga air yang tak ada habisnya. “Listrik sangat mudah dihasilkan. Investasi bisa diambil minyak dalam bumi, listrik mudah dihasilkan generator juga bisa, ombak bisa, angin bisa, panas bumi, dan sebagainya,” ujarnya.

Dengan begitu, pengembangan mobil listrik akan berdampak positif terhadap kedaulatan energi dunia, termasuk di Indonesia. Tapi, kendaraan listrik juga memiliki kekurangan, yaitu pengisian ulang baterai (charging) yang memakan waktu berjam-jam. Baterai mobil listrik pun kemampuan penyimpanannya akan menurun dalam kurun waktu tertentu, sama halnya seperti baterai handphone.

“Tapi lamanya waktu charging sudah ada solusi, misalnya baterai spot, yaitu ganti baterai. Lalu, daur ulang baterai. Setelah beberapa lama pemakaian baterai kemampuannya akan menurun, jadi harus ganti,” tutupnya.

Editor: R. Shandy