Sedan sport listrik Selo (Azwar Ferdian/KompasOtomotif)
Berempat.com

Mobil listrik menjadi idaman masa depan. Tapi di tahun 2015 Dahlan Iskan yang mencoba mengembangkan mobil listrik bersama timnya dikriminalisasi. Kini, pemerintah justru kembali ingin melanjutkan penciptaan mobil listrik.

Berkabar.ID – Desember 2012, sebuah mobil listrik berkelir merah yang menyerupai Ferrari melintas di jalan tol dalam kota. Mobil itu menuju ke arah Bandara Soekarno Hatta dengan beberapa mobil pengawal mengiringi di belakangnya. Dari balik kemudi, Dahlan Iskan—yang kala itu menjabat sebagai Menteri BUMN—tampak semringah dengan senyum khasnya membawa mobil itu berselancar di aspal Jakarta.

Mobil listrik yang dikendarai Dahlan itu bernama Tucuxi, buatan Danet Suryatama. Danet, adalah orang Indonesia yang jasa dan pengetahuannya telah banyak digunakan untuk membuat mobil listrik di Amerika Serikat. Danet pulang ke Indonesia atas permintaan Dahlan Iskan untuk membuat mobil listrik di Indonesia.

Setelah Tucuxi, Indonesia juga punya prototype mobil listrik yang diciptakan oleh anak bangsa. Yakni Selo, sebuah mobil listrik sport yang diciptakan Ricky Elson. Mobil dengan dominan warna kuning itu bahkan sempat melaju di APEC 2013 di Bali.

Namun nasib mobil listrik yang sudah berhasil diciptakan oleh anak bangsa itu kini harus terhenti kiprahnya. Padahal masih jauh dari produk massal, mobil yang masih dalam masa prototype itu harus terhenti lantaran Kejaksaan Agung mengendus ada unsur korupsi yang dilakukan oleh Dahlan Iskan dan Dasep Ahmadi–rekanan perakitan mobil listrik tim Dahlan–dalam pengadaan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Dahlan dijerat atas kasus mobil listrik, dan diduga telah merugikan tiga BUMN yang membiayai pengadaan 16 mobil listrik tersebut, yang jika ditotalkan sekitar Rp 32 miliar. Dahlan pun divonis dua tahun penjara.

Sementara nasib dua pencipta mobil listrik berbeda, Dasep Ahmadi divonis 7 tahun penjara dan denda Rp 200 juta sedangkan Ricky Elson sempat dipinang oleh Malaysia untuk mengembangkan mobil listrik, meski pada akhirnya ia kembali ke Indonesia sebagai pengangon kambing.

Dahlan Iskan saat memamerkan Tucuxi di Gelora Bung Karno , 23 Desember 2012 (Solopos/Himawan Ulul)

Apa yang menimpa mobil listrik Danet Suryatama dan Ricky Elson sempat disayangkan. Apalagi banyak pihak yang mengatakan mobil listrik Dahlan tak lolos uji emisi. Entah apa yang dimaksud dengan ‘emisi’ pada pernyataan tersebut. Sebab, umumnya, mobil listrik sama sekali tak memiliki saluran pembuangan sebab memang tak ada apa pun yang terbuang. Sistem tenaganya adalah dengan baterai, bukan bensin.

Belum lagi kasus yang menimpa Dahlan Iskan sebenarnya sempat dipertanyakan. Dikutip dari CNN Indonesia, Kepala Sub Direktorat Penyidikan Tindak Pidana Khusus Kejagung, Sarjono Turin, sempat mempermasalahkan pembiayaan RP 2 miliar untuk mobil listrik yang tak layak jalan.

“Saat ini mobil masih ada di lokasi, sore akan dibawa. Kami akan tunjukkan ke publik bahwa itu merupakan mobil hasil karya anak bangsa yang tidak bisa digunakan tapi dibayar Rp 2 miliar,” ujar Turin kala itu di Kejaksaan Agung, Selasa (23/6/2015).

Padahal, selama itu mobil-mobil listrik yang diciptakan, baik Tucuxi atau Selo masih dalam bentuk prototype, yang artinya masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Dan sejatinya, biaya Rp 2 miliar untuk riset, pengembangan hingga bisa sampai ke tahap produksi massal sebuah mobil listrik sudah tergolong murah. Sebab sebagaimana yang kita tahu, sebuah penelitian pastilah membutuhkan waktu yang panjang dan biaya yang besar. Rasanya, Rp 2 miliar untuk satu mobil sudah cukup masuk akal. Mengingat bila mobil itu berhasil, keuntungan yang didapat dari penjualan akan berkali-kali lipat.

Dan bicara kegagalan, sebagaimana prototype, kegagalan demi kegagalan yang terjadi merupakan hal yang wajar. Bukankah kegagalan merupakan risiko yang harus siap diterima dari sebuah proses penelitian? Tapi masa-masa mobil listrik yang dicetuskan Dahlan itu telah berlalu.

Dan kini, seolah melupakan sedikit memori mobil listrik di masa lalu, pemerintah kembali gencar mengedepankan mobil listrik agar dapat digunakan bahkan diproduksi di Indonesia. Hal itu tergambar dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 22 tahun 2017 tentang rencana umum energi nasional. Di mana aturan itu mengamanatkan pada 2025 produksi kendaraan listrik di Indonesia sudah meningkat.

Presiden Joko Widodo sendiri sempat menjajal mobil listrik karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang dinamai Ezzy. Uji coba itu berlangsung pada Selasa (19/12) saat Jokowi meresmikan tol Surabaya-Mojokerto.

Selain kendaraan roda empat, ada juga kendaraan roda dua karya mahasiswa ITS yang telah bekerja sama dengan Garansindo, yakni sepeda motor Gesits–singkatan dari Garansindo Electric Scooter ITS. Bahkan Gesits juga ikut dipamerkan kepada Presiden Jokowi dalam acara peresmian tol Surabaya-Mojokerto tersebut.

Sebenarnya bisa dikatakan bahwa sudah banyak prototype mobil maupun motor listrik yang sudah diciptakan oleh anak bangsa. Hanya saja memang diperlukan dukungan penuh dan ‘pengertian’ dari pemerintah agar dapat benar-benar mengembangkan kendaraan listrik sampai ke tahap produksi.

Kasus Mobil Listrik Membuat Takut Ilmuwan Baru untuk Maju

Mengutip dari Merdeka, Selasa (19/07), Peneliti senior Core Indonesia Mohammad Faisal menuturkan bahwa Indonesia sangat tertinggal dari negara-negara di ASEAN soal perkembangan mobil listrik. Salah satu faktor yang melatarbelakanginya adalah kurangnya dana riset dan apresiasi dari pemerintah pusat.

Karena itu jika Indonesia benar-benar serius ingin mengejar ketertinggalannya, maka pemerintah wajib ikut berperan dan memberikan apresiasi kepada pelaku riset. Terutama hal yang paling ditekan oleh Faisal adalah jangan adanya intimidasi karena kepentingan politik.

“Misalnya beberapa waktu yang lalu kan ada mobil listrik. Tapi itu tidak mendapat apresiasi, malah diintimidasi karena kepentingan politik,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Peneliti ITB Yazid Bindar dalam sebuah diskusi ‘Melawan Kriminalisasi Kebijakan’ di MMD Invitative, Matraman, Jakarta Timur, Jumat (10/3), mengatakan bila penelitian bukan hanya membutuhkan uang, tapi juga tahap pengembangan teknologi.

“Sebenarnya peneliti dalam mewujudkan produk membutuhkan keuangan tak hanya pada tingkat kesiapan teknologi tetapi juga pada tahapan pengembangan teknologi,” katanya waktu itu.

Selain itu Yazid juga beranggapan dengan apa yang terjadi pada Dasep dan Ricky—khususnya Dasep yang divonis penjara 7 tahun—akan memicu ketakutan di kalangan ilmuwan muda yang ingin berkontribusi untuk negeri. Dalam khasus ini adalah pengembangan mobil listrik. “Inovasi akan mati dalam ketakutan,” katanya.

Editor: R. Shandy

Berempat.com