Berempat.com

Euforia Reuni akbar 212 bukan hanya menggemparkan dalam negeri, tapi dunia pun mengakui jika aksi tersebut. Sebanyak 202 negara yang bergabung dalam The World Peace Committee sepakat menjadikan 212 sebagai Hari Ukhuwah Dunia atau Ukhuwah Day of the World”. Bahkan, Sekjen The World Peace Committee Prof. Francesco, seorang Italia yang beragama Katolik, mengatakan begitu melihat video 212 merasa merinding dan bergetar.

Sungguh disayangkan bila lebih dari 11 juta orang yang hadir dalam Reuni 212 tersebut luput dari liputan media mainstream. Media mainstream tidak hanya menuliskan sebagai berita kecil, tetapi disebutkan jumlah peserta yang hadir hanya sekitar 40 ribu orang. Sungguh tidak proporsional. Nah, di sini sudah jelas, netralitas jurnalis saat meliput aksi diragukan.

Dikerdilkannya Reuni 212 itu sempat membuat Capres nomor urut 2 naik pitam. Prabowo mempersoalkan obyektivitas media saat meliput Reuni 212 di Monas, padahal yang massa yang hadir mencapai 11 juta peserta yang belum pernah terjadi di dunia, mereka berkumpul tanpa dibiayai oleh pihak manapun.

“Media tidak seharusnya berbohong dan memanipulasi rakyat. Karena itu, tidaklah berlebihan jika disebut media sedang menelanjangi diri sendiri dan mengkhianati tugas sebagai wartawan, dengan tidak ingin memberitakan sesuatu yang benar-benar terjadi,” katanya.

Prabowo meminta media di Indonesia agar obyektif dalam menyajikan fakta-fakta di lapangan. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi atau bahkan tidak disajikan ke publik.

“Redaksi kamu bilang cuma ada beberapa ribu, nggak boleh dong. Kebebasan pers, tetapi harus obyektif, memberitahu apa adanya”. Media yang tidak menyajikan fakta dengan benar akan ditinggalkan oleh rakyat. Jika tidak mau ditinggalkan oleh rakyat, jadi jangan menipu!,” tambahnya.

Kemarahan Prabowo dilihat sebagai upaya untuk membela marwah media, yang saat ini sudah sangat melenceng dari khitahnya. Prabowo berharap media seharusnya independen, bukan bersikap suka-suka, mau meliput atau tidak, sementara di sisi lain rakyat memiliki hak untuk mengetahui suatu peristiwa.

Senada dengan Prabowo, Twitter Hidayat Nur Wahid mencuit, “Perilaku pers, pilar demokrasi yang tidak merasa bersalah tidak memberitakan reuni 212 /2018 (saat berkumpulnya berjuta-juta massa di tengah kota Jakarta dengan amat tertib, bersih dan damai) menjadi preseden buruk independensi media di Indonesia. Apalagi itu berkelanjutan sampai Pemilu”.

Berempat.com